TRIBUNNEWS.COM - Teks khutbah berjudul "Kehancuran Pasukan Bergajah Menjelang Lahirnya Nabi Muhammad" ini bisa dibacakan saat shalat Jumat, 29 Agustus 2025.
Teks khutbah ini dirilis oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Rabu, 27 Agustus 2025.
Khutbah Jumat merupakan ceramah agama yang disampaikan oleh seorang khatib sebelum pelaksanaan salat Jumat.
Khutbah ini merupakan bagian penting dari ibadah salat Jumat dan memiliki beberapa fungsi, seperti memberikan nasihat, bimbingan moral, dan pesan-pesan agama kepada jamaah.
Teks khutbah ini akan mengisahkan tentang kehancuran pasukan bergajah (Ashḥābul Fīl).
Ini merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Swt menjelang lahirnya junjungan kita Nabi Muhammad saw.
Dikutip dari laman Simbi Kemenag, berikut teks khutbah Jumat, 29 Agustus 2025.
Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,
Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita ke jalan yang lurus dan memberikan pemahaman dalam agama yang benar. Kita bersyukur atas nikmat Islam dan iman yang terus tertanam dalam hati, memungkinkan kita untuk istikamah dalam menunaikan ibadah salat Jum’at. Semoga setiap langkah kita menuju masjid, doa yang kita panjatkan, serta rakaat yang kita laksanakan diterima sebagai amal saleh di sisi-Nya.
Selawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad saw, yang telah menjadi suri teladan bagi umat manusia. Semoga kita semua mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak, amin ya Rabbal alamin.
Melalui mimbar khotbah yang mulia ini, saya berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jemaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Takwa adalah bekal terbaik yang dapat kita bawa untuk kehidupan akhirat.
Jemaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Kisah kehancuran pasukan bergajah (Ashḥābul Fīl) merupakan salah satu tanda kebesaran Allah Swt menjelang lahirnya junjungan kita Nabi Muḥammad saw. Tahun itu dikenal sebagai ‘Āmul Fīl, yaitu Tahun Gajah, dan di tahun itulah Allah menakdirkan lahirnya Nabi terakhir, penutup para rasul, pembawa risalah agung bagi seluruh alam.
Pasukan bergajah dipimpin oleh Abrahah Al-Ḥabasyī, Gubernur Yaman di bawah kekuasaan Habasyah. Ia membangun sebuah gereja megah di Ṣan‘ā’ bernama Al-Qullays, dengan maksud agar manusia berpaling dari Kakbah di Makkah. Namun Allah Swt telah menetapkan bahwa Baitullah akan selalu dijaga dan dimuliakan, sejak dibangun oleh Nabi Ibrāhīm a.s. dan putranya Ismā‘īl. Ketika mendengar ada orang yang meremehkan AlQullays, Abrahah murka dan berniat menghancurkan Kakbah.
Maka berangkatlah ia dengan pasukan besar, dilengkapi dengan gajah-gajah yang gagah, yang pada masa itu menjadi simbol kekuatan luar biasa. Namun, manusia boleh merencanakan, sementara Allah-lah yang menentukan. Ketika Abrahah sampai di dekat Makkah, Allah menampakkan kuasa-Nya. Gajah-gajah yang ia bawa enggan melangkah menuju Baitullah. Tatkala diarahkan ke arah lain, gajah itu bergerak, tetapi saat diarahkan ke Kakbah, gajah itu duduk dan menolak.
Inilah tanda bahwa makhluk sekalipun tunduk pada kehendak Allah. Sebagaimana firman-Nya:
"Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya." (Q.S. Hud [11]: 6).
Kemudian Allah mengutus burung-burung yang datang berbondong-bondong, disebut thairan ababil, yang membawa batu-batu kecil dari sijjil. Batu itu dilemparkan kepada pasukan Abrahah hingga tubuh mereka hancur luluh, seperti daun yang dimakan ulat. Dengan demikian, Allah menegaskan bahwa siapa saja yang berniat merusak kehormatan Baitullah akan binasa.
Jemaah Jum'at yang dirahmati Allah.
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-Azim menjelaskan bahwa peristiwa ini menjadi muqaddimah (pengantar) kelahiran Nabi saw, karena Allah hendak membersihkan Tanah Haram dari kekuatan asing sebelum hadirnya seorang rasul yang membawa cahaya kebenaran. Inilah sunnatullah, bahwa Allah menyiapkan panggung sejarah bagi datangnya Nabi terakhir dengan cara yang penuh keajaiban.
Para ulama juga menegaskan bahwa kisah Ashhäbul Fil bukan sekadar sejarah, melainkan ibrah (pelajaran). Imam Al-Qurtubi berkata dalam tafsirnya:
"Dalam ayat-ayat ini terdapat dalil bahwa Allah sendirilah yang menjaga rumah-Nya (Kakbah), dan tidak ada seorang pun yang mampu menjaganya selain Dia."
Jemaah Jumat yang dirahmati Allah,
Jika kita renungkan, peristiwa ini mengandung pesan mendalam. Pertama, Allah Maha Kuasa menghancurkan makar manusia, betapapun besar pasukan dan peralatannya. Dalam logika manusia, mustahil Kakbah yang hanya berupa bangunan sederhana dapat bertahan dari pasukan bergajah yang perkasa. Tetapi Allah menunjukkan kuasa-Nya. Hal ini mengingatkan kita bahwa segala bentuk kezaliman dan kesombongan pasti akan hancur.
Kedua, Allah hendak menunjukkan bahwa Kakbah adalah pusat tauhid yang akan dijaga sepanjang masa. Maka lahirlah Rasulullah saw tidak lama setelah itu, yang kelak akan membersihkan Kakbah dari berhala dan mengembalikannya sebagai rumah ibadah yang murni hanya untuk Allah.
Ketiga, umat Islam hari ini harus mengambil pelajaran bahwa siapa saja yang berusaha merusak kehormatan agama, menginjak-injak syiar Islam, atau berlaku sombong dengan kekuatan duniawi, maka akhir yang menanti hanyalah kehancuran.
Imām Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn mengingatkan:
"Pelajaran itu ada pada akhir suatu urusan. Barang siapa mencari kemuliaan bukan dengan Allah, maka Allah akan menyesatkannya. "
Jemaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Peristiwa kehancuran pasukan bergajah menjelang kelahiran Nabi saw seakan mengisyaratkan bahwa kegelapan syirik dan kesombongan akan segera digantikan oleh cahaya kenabian. Tidak ada yang mampu menghalangi datangnya rahmat Allah. Allah berfirman:
"Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, justru hendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai." (Q.S At-Taubah [9]: 32).
Oleh sebab itu, kita sebagai umat Nabi saw harus meneladani pesan dari Amul Fil. Jangan sampai kita menjadi seperti Abrahah yang sombong dan zalim, merasa kuat dengan kekuasaan dan harta. Hendaklah kita menjadi hamba yang tunduk, menjaga kehormatan agama, dan senantiasa bertawakal kepada Allah dalam segala urusan.
Jemaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Marilah kita jadikan kisah ini sebagai pengingat agar kita senantiasa menjaga hati dari kesombongan, menjaga amal dari riya, dan menjaga kehidupan dari ketergantungan pada selain Allah. Sebab, sehebat apapun perencanaan manusia, tanpa rida Allah akan sirna. Sebaliknya, sekalipun kita lemah, jika Allah menolong, maka tidak ada yang dapat mengalahkan.
Link download pdf. >>> di sini
(Latifah)