BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Hingga Sabtu (29/11), 22 hari sudah kebakaran, yang menimpa kediaman Ardian, warga Jalan Kampung Gadang Gang Silaturahim Kota Banjarmasin, berlalu.
Rumahnya masih berupa puing. Bekas kebakaran pada Jumat (7/11) juga tampak di sejumlah rumah tetangga.
Namun demikian, bantuan dari pemerintah kota belum juga diterima Ardian. Padahal keluarganya telah terdata sebagai penerima.
“Sudah ada rencana bantuan, namun belum cair. Bantuan yang akan diberikan itu senilai Rp 3 juta per kepala keluarga atau per rumah,” kata Ardian, Kamis (27/11/2025). Dia pun menunggu kabar dari ketua RT.
Ardian menyebut sesaat setelah kejadian, Wakil Wali Kota Hj Ananda menyambangi korban kebakaran termasuk dirinya dan keluarga.
Ketika itu Ananda menyerahkan bantuan langsung berupa sembako dan kasur tipis, serta menjanjikan bantuan uang tunai Rp 3 juta.
Kendati bantuan belum juga cair, Ardian dan keluarga mulai menyicil bahan perbaikan rumah secara mandiri. Terlihat ada beberapa kayu yang sudah dibeli, yang rencananya untuk fondasi.
Tidak hanya menghanguskan sejumlah rumah, kebakaran menewaskan satu keluarga yang terdiri atas tiga orang. Keluarga ini tinggal persis di belakang rumah Ardian.
Pemilik Bakso Engot, Suparman, yang juga menjadi korban, mengaku tidak menerima bantuan pemko.
“Kerugian sekitar Rp 25 juta untuk dua gerobak yang hangus, Alhamdulillah tempatnya tidak sampai hangus,” ujarnya.
Meski tidak dihubungi atau terdata sebagai penerima bantuan, ia juga berharap mendapat perhatian pemko.
“Kalau dikasih bantuan alhamdulillah. Kalau tidak, tidak apa-apa,” kata Suparman.
Untuk diketahui, Pemko Banjarmasin sempat kehabisan anggaran bantuan logistik dan dapur umum korban kebakaran pada APBD murni 2023, yang nilainya sekitar Rp 400 juta.
Anggaran tambahan Rp 800 juta kemudian diajukan pada APBD Perubahan. Pada tahun itu kebakaran mencapai 190 kejadian. Pada 2024, kebakaran juga tergolong tinggi yakni 134 kasus.
Padahal selain memberikan bantuan sembako serta kebutuhan sandang seperti pakaian dan peralatan dapur, pemko biasanya memberikan dana.
Di laman dinsos.banjarmasinkota.go.id tertera pada 2025 sedikitnya 17 kali penyerahan bantuan dana oleh Wali Kota HM Yamin HR, Wakil Wali Kota Hj Ananda atau Dinas Sosial.
Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Banjarmasin H Edy Wibowo menjelaskan bantuan untuk korban bencana termasuk kebakaran masuk anggaran Belanja Tak Terduga (BTT). Namun demikian anggaran ini tidak serta merta bisa disalurkan.
“Prosesnya dimulai dari SKPD pengampu. Misalnya kebakaran diproses Dinas Sosial, kematian di Kesra. Pihak dinas melakukan pendataan, verifikasi lalu menyampaikan permohonan ke BPKAD,” jelasnya.
Apabila persyaratan belum lengkap akan dikembalikan oleh BPKAD. Namun bila memenuhi syarat, oleh BPKAD akan diproses ke bank dalam kurun waktu 1x24 jam sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).
Selain bantuan untuk korban bencana atau kematian, anggaran BTT juga bisa digunakan SKPD untuk program nasional. “Kalau anggaran di SKPD habis bisa menggunakan anggaran BTT,” ujar Edy.
Anggaran BTT yang disiapkan BPKAD berkisar Rp 5 miliar-Rp 7 miliar. Sementara serapan untuk membantu korban kebakaran dan kematian selama 2025, ungkap Edy, mencapai Rp 1 miliar.
Sementara Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin, Husni Thamrin, menerangkan pihaknya tak punya anggaran khusus untuk membantu korban kebakaran.
Kendati demikian pihaknya mendapatkan stok bantuan dari BPBD provinsi maupun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bantuan biasanya berupa matras, sembako, family kit atau alat-alat mandi dan kesehatan, peralatan bayi hingga obat-obatan.
“Setiap tahun ada stok bantuan dari BPBD provinsi dan BNPB, jika ada langsung kami salurkan ke korban bencana kebakaran dan lainnya,” ucapnya.(Banjarmasinpost.co.id/Mariana)