150 Warga Sumut, Sumbar dan Aceh Tewas Diterjang Banjir dan Longsor, Wali Kota Sibolga Pun Hilang
Hari Widodo November 29, 2025 08:31 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan 116 orang meninggal dunia dan 42 lainnya masih dalam pencarian akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara.

 “Yang pertama untuk Provinsi Sumatera Utara, per hari ini, per sore ini, kami mendata untuk seluruh Provinsi Sumatera Utara, korban meninggal dunia ada 116 jiwa, kemudian 42 jiwa masih dalam pencarian,” ujar Kepala BNPB Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Jumat (29/11/2025).

Menurut Suharyanto, jumlah korban tersebut masih berpotensi bertambah, karena masih ada daerah yang belum dapat ditembus akibat longsor, dan masih dalam proses penanganan.

“Tentu data ini akan berkembang terus karena kami informasikan juga masih ada titik-titik yang belum bisa ditembus, yang masih dalam proses penanganan, yang diindikasikan di tempat-tempat longsoran yang belum bisa tembus itu, mungkin juga ada korban jiwa manusia, sehingga setiap hari akan kami update untuk sementara datanya itu,” ucap dia.

Dari rincian BNPB, korban terbanyak terdapat di Tapanuli Tengah yakni 47 jiwa dan Tapanuli Selatan 32 jiwa.

Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazry Penarik diduga menjadi salah satu korban banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sibolga dan Tapanuli Tengah sejak awal pekan ini.

Dia dilaporkan hilang kontak sejak Selasa (25/11/2025). 

Syukri sempat mengabarkan dirinya terjebak banjir dan longsor di Kecamatan Sitahuis, Tapanuli Tengah.

Hilangnya kontak sang Wali Kota terjadi bersamaan dengan terputusnya akses jalan dan lumpuhnya jaringan komunikasi di wilayah tersebut.

Ketua Nasdem Teritori Aceh, Bakhtiar Ahmad Sibarani,membenarkan Wali Kota Sibolga tidak dapat dihubungi.

“Iya benar (sampai saat ini belum dapat berkomunikasi),” ungkap Bakhtiar saat dihubungi Kompas.com, melalui akun Instagram-nya (@bakhtiar_sibarani) pada Jumat.

Ia menjelaskan Syukri berangkat dari Medan pada Senin (24/11/2025) malam setelah menerima laporan meningkatnya curah hujan di Sibolga. 

Pada Selasa siang, mereka sempat berkomunikasi melalui ponsel.

“Dia mengirim pesan soal kondisi yang terjebak di Sitahuis, dan tidak ada jaringan di sana,” kata Bakhtiar.

Dalam pesan yang dikirimkan, Syukri mengaku terjebak banjir dan longsor di Sitahuis saat berusaha menuju Kota Sibolga.

Dari tangkapan layar yang dibagikan Bakhtiar, pesan terakhir Syukri dikirim pada pukul 11.10 WIB.

Pesan itu menggambarkan situasi sulit yang ia hadapi di tengah terputusnya akses jalan dan matinya jaringan komunikasi.

Bakhtiar kembali mencoba menghubungi Syukri pada Rabu (26/11) pukul 11.33 WIB dan 17.32 WIB. Namun kedua panggilan itu tak mendapat jawaban.

Banjir dan tanah longsor juga melanda Nangroe Aceh Darussalam dan Provinsi Sumatera Barat. Total korban jiwa di ketiga provinsi tersebut telah lebih dari 150 jiwa.

Kadis Kominfo Kabupaten Bener Meriah, Nangroe Aceh Darussalam, Ilham Abdi,  mengatakan data yang masuk untuk korban meninggal sudah mencapai 11 orang.

“Tapi ini data sementara yang kita peroleh,” kata Ilham saat dikonfirmasi, Kamis (27/11) malam.

Dia pun menyampaikan Bener Meriah mengalami kerusakan parah. Ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Akibat bencana ini, Pemkab Aceh Tengah menetapkan status Tanggap Darurat. Banjir dan longsor mencakup 14 Kecamatan dan menyebabkan 15 jiwa meninggal.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Aceh Tengah, Andlika, menyampaikan sebanyak 3.213 Kepala Keluarga (KK) harus mengungsi.

Sementara BPBD Sumatera Barat mencatat hingga Jumat sore, sebanyak 23 orang meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi.

“Yang masih hilang ada 12 orang. Sementara yang luka-luka ada empat orang,” terang Juru Bicara BPBD Sumbar, Ilham Wahab.

Banjir merendam sebagian badan jalan di jalur dua Pasar Baru hingga Pasar Ambacang, Kota Padang, Jumat. Banjir bandang terjadi sejak Jumat dini hari, akibat curah hujan tinggi.

Cuaca esktrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi terjadi sejak Sabtu (22/11). Kondisi tersebut berlangsung hingga Jumat pagi.

Akibat cuaca ekstrem tersebut membuat beberapa wilayah Kota Padang dilanda bencana seperti banjir, banjir bandang, dan longsor.

Pantauan Tribunpadang.com sekitar pukul 14.30 WIB di kawasan Pasar Baru, banjir bandang merendam kedua sisi badan jalan di Pasar Baru, Padang. Terdapat juga material berupa lumpur dan potongan kayu berukuran kecil yang terbawa banjir juga memenuhi badan jalan. 

Motor-motor masyarakat yang melintas juga terlihat kotor, saat melewati jalan di Pasar Baru.

Warga, Ruslaida mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Kemudian kembali membesar pada Jumat pagi.

Beruntung, kata Ruslaidar, banjir hanya sampai teras rumahnya. “Rumah Alhamdulillah selamat, hanya kena bagian luar. Banjir baru berhenti sekira pukul 11.00 WIB,” katanya. (tribunnews/kompas)

 

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.