Sejarah Indonesia dipenuhi dengan 'manusia kebal', dari Ken Arok, Mbah Suro, hingga perampok Slamet Gundul. Bagaimana ilmu pengetahuan melihatnya?
Penulis: B. Soelist
Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Juni 1993 dengan judul “Manusia Kebal antara Kenyataan dan Legenda”
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Kisah manusia kebal sudah terdengar sejak zaman dulu. Meski demikian, dikotomi dalam mengungkap misterinya tetap mengiringi hingga kini. Ada yang menganggapnya gaib semata, ada juga pakar yang mengungkapkan, itu terjadi karena perubahan mekanisme saraf tubuh saja.
Kabut tebal masih memeluk Bengawan Solo. Desa Nginggil, Kecamatan Menden, Kabupaten Blora, markas gerakan dukun sakti Mbah Suro sudah dikepung pasukan ABRI dari berbagai penjuru. Dalam sekejap, pertempuran tak seimbang pun meledak. Senapan petugas ABRI melawan kentes (pentungan), jimat-kemat kekebalan anak buah Mbah Suro yang menamakan diri Banteng Ulung.
Tapi sungguh sangat fantastis. Meski berondongan timah panas terus meluncur dari moncong senjata petugas, para pembangkang di tepi Bengawan Solo itu terus maju, dan semakin dekat. Malah ada yang berteriak, "Ayo tembak aku lagi!"
Akhirnya gelap berubah menjadi pagi di kawasan yang gawat itu. Dalam kesenyapan nampak ratusan orang tewas terkapar. Mereka adalah sebagian dari orang yang kabarnya kebal peluru itu. Mbah Suro sendiri, yang oleh pengikut dan masyarakat sekitar diyakini tak bisa terbunuh, akhirnya terkapar mati dieksekusi. Peristiwa itu terjadi 5 Maret 1967.
Sejenak setelah kematian Mbah Suro, cerita tentang manusia kebal pun surut meski rada mustahil bisa lenyap. Kekebalan dari dulu tetap dipercaya bahkan dijadikan media penghimpun gerakan konyol melawan pemerintah.
Di kancah kejahatan lebih belakangan tersebut nama Slamet Santoso alias Supriadi alias Slamet Gundul yang dikenal sebagai penjahat kebal senjata. Dalam penyergapan dan kontak senjata melawan polisi, Slamet selalu bisa lolos. Nyatanya, ketika diwawancarai Majalah Tiara (Mei 1993), dia menyangkal hal itu.
Keyakinan serba gaib
Kasus gerakan Mbah Suro dan fenomena Slamet Gundul hanyalah contoh kecil dari sekian banyak kisah tentang kekebalan manusia yang dimanfaatkan untuk melakukan praktek kejahatan. Jimat yang dibagi-bagikan berupa kenthes atau sabuk dengan praktik-praktik gaib, menjadikan yang bersangkutan dirasuki keyakinan tak bisa mati.
Dalam kerangka lebih teoritis, barangkali seperti dirumuskan oleh Sejarawan Sartono Kartodirdjo dalam Ratu Adil (Jakarta, 1984: 42 - 43). Kebudayaan tradisional Jawa diliputi oleh suatu keyakinan kuat akan hal-hal yang serba gaib. Kalau kalangan elite cenderung menciptakan sejenis individualisme kebatinan gaib yang berorientasi pada kekuasaan, kaum jelata dipengaruhi oleh kekuatan gaib dan ramalan tentang Ratu Adil. Sejarah gerakan sosial Jawa pada abad XIX-XX memperlihatkan luasnya kepercayaan gaib yang berorientasi pada kepercayaan jimat.
Sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pun bertaburan kisah kekebalan. Pada perlawanan melawan Belanda Clash II (Agresi Militer II) tahun 1948, misalnya, siapa pun yang terlibat dalam perang saat itu, pasti mengenal nama Komarudin. Seorang prajurit yang kebal peluru dari Sleman, Yogyakarta. Begitu kentalnya keyakinan itu sehingga film Janur Kuning pun tak menyingkirkan kisah keberanian Komarudin dari berondongan peluru musuh.
Supriyadi, oleh pengagum fanatiknya, juga dipercaya kebal peluru. Pahlawan dalam pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar itu, bahkan diyakini bisa menghilang.
Tokoh lain, siapa lagi kalau bukan Bung Karno? Berapa kali, tokoh besar Indonesia ini mengalami usaha pembunuhan tapi selalu lolos justru tanpa disadari? Peristiwa penembakan waktu sembahyang Idul Adha atau peristiwa Cikini, menjadikan tokoh kemerdekaan ini semakin dikenal sakti.
Soal kekebalan, dari dulu tokoh-tokoh Indonesia kuno sudah mengenalnya. Tengok saja di Kitab Pararaton, betapa Ken Arok atau Gajah Mada kebal senjata tajam. Berapa kali Ken Arok dikejar-kejar warga desa, tapi selalu luput dari kematian. Bahkan akhirnya anak Ken Endok jadi raja.
Enam abad telah lewat sejak zaman Gajah Mada, namun cerita kekebalan tumbuh terus semakin berbunga-bunga. Peristiwa G30S misalnya, menyisakan cerita kekebalan di kalangan mereka yang ditumpas.
Seorang tokoh lokal di Madiun yang dulu melawan PKI berkisah, suatu ketika dia menyaksikan beberapa orang PKI dijejer berbaris dengan mata ditutup untuk dieksekusi dengan tebasan pedang algojo.
Namun tiba-tiba keajaiban terjadi: seseorang tak mempan ditebas. “Lehernya sekeras baja, hingga pedang algojo itu gempil,” kata si tokoh mengenang. Algojo itu bingung. Dicarinya daun kelor dan dicambukkan ke tubuh tokoh PKI itu. Tiba-tiba tubuh yang semula kebal menjadi lemas tiada daya.
Sampai kini kisah kesaktian manusia itu masih sering terdengar.
Tapi Mujiono, mantan mantri polisi pamong praja di kawasan Dungus, Kecamatan Wungu, Madiun, percaya soal kekebalan dalam peristiwa 1965 itu. Dia menambahkan, “Di sini dulu beberapa orang PKI dieksekusi,” ujarnya sembari menunjuk kawasan hutan jati 10 km timur Madiun.
Kesenian rakyat
Ilmu kebal juga mengalir dalam bentuk kesenian rakyat. Debus, yang sering dimainkan oleh penduduk Banten, merupakan paduan kekebalan dan keindahan gerak silat.
Tontonan sejenis adalah kuda lumping di Jawa Tengah dan sekitarnya. Seni tradisional itu memamerkan satu sisi kedigdayaan manusia lewat pecahan kaca dan pisau silet yang dikunyah-kunyah. Bara api pun diinjak-injak hingga memercik-mercik.
Sedangkan di Bali ada pertunjukan Barong vs Rangda yang tak kalah mencengangkan. Tokoh yang dijuluki Rangda alias Calonarang itu bertubi-tubi ditikam sungguhan. Tapi justru keris baja itu yang bengkok.
Bagaimana ini bisa diterangkan oleh akal manusia? Dr. Luh Ketut Suryani, ketika diwawancarai Intisari adalah kepala bidang Laboratorium Psikiatri Universitas Udayana, menyatakan, kekebalan muncul akibat perubahan keadaan kesadaran manusia yang meliputi perubahan kognisi, persepsi, dan sensasi, atau yang lazim disebut trance.
Lebih jauh wanita pertama peraih gelar doktor psikiatri itu menerangkan, seseorang yang berhasil memasuki alam trance, segala sensasi yang diatur oleh mekanisme saraf-saraf tubuh telah berubah, sehingga mampu membentuk saraf tubuh menjadi kebal.
"Dulu banyak orang menganggap itu semua mistik, abstrak. Tapi sebenarnya bukan, sebab dapat diterangkan dengan ilmu kedokteran dan ini sudah dibuktikan," ujarnya.
Ilmu kekebalan di Bali itu disebut kanuragan. Banyak versi ilmu kekebalan di sana, salah satunya yang berbasis pada ajaran Hindu dengan pendalaman yoga. Ketika orang telah mencapai titik temu yang sedalam-dalamnya dengan pemusatan pikiran, konon semua pancaindera akan mati. Tak ada panas yang terlalu panas, dingin yang terlalu dingin. Semua kosong, tak tampak sesuatu sekali pun. Pada tingkat demikian ini orang akan kebal senjata, bahkan mampu mengobati sekaligus tahu sebelum terjadi.

Anugerah Tuhan
Ilmu kekebalan juga merambat di berbagai seni bela diri. Banyak perguruan pencak silat menyertakan ilmu kebal atau tenaga dalam di puncak latihannya. Kini perguruan tenaga dalam menjamur dan banyak diminati bukan saja oleh kalangan muda.
Di Yogyakarta, misalnya, pernah ada tak kurang dari 50 perguruan, tapi menurut catatan hanya sekitar 33 perguruan yang terdaftar dalam anggota Ikatan Perguruari-perguruan Bela Diri Tenaga Dalam. Fenomena baru ini oleh beberapa pengamat dinilai sebagai pertanda meningkatnya gairah masyarakan mengungkap ilmu yang katanya warisan-leluhur.
Mungkin betul. Hanya saja, ilmu ini tetap menjadi teka-teki yang tak gampang dijawab. Artinya, betulkah ada orang kebal sungguhan yang tak mempan dibacok, ditusuk, dan dibakar sebagaimana diperlihatkan dalam acara demonstrasi?
Di Yogyakarta persoalan ini pernah diseminarkan oleh Koran Minggu Pagi 9 November 1991. Tak kurang, dari pengarang cerita silat ternama Asmaraman S. Kho Ping Hoo angkat bicara, di samping kalangan paranormal lainnya.
Apa kesimpulan seminar ilmu kasekten itu? Keberadaan ilmu gaib tetap belum dapat dijabarkan secara tuntas. Bahkan Kho Ping Hoo tegas menyatakan, kesaktian itu terletak pada pikiran manusia. Ia merupakan bagian kecil dari anugerah Allah yang disesuaikan dengan kondisi zaman.
“Jadi, menurut saya, kesaktian itu letaknya pada pikiran manusia. Manusia mampu membuat peralatan teknologi canggih itu namanya sakti," kata pengarang dari lereng Gunung Lawu itu diplomatis.
Sedangkan Daliso R. Mangunkusump, S.H. beranggapan, manusia sakti pada galibnya adalah manusia yang selalu terhindar dari segala malapetaka. Manusia, sejak lahir sebenarnya sudah diberi kelebihan tersendiri. "Seperti gelombang radio, tergantung kepekaan kita menangkapnya," ujarnya.
Lebih jauh menurut Daliso, kedigdayaan dan kesaktian itu sangat berbeda. Kedigdayaan lebih menyangkut soal fisik, sedangkan kesaktian lebih cenderung berkaitan dengan batin insan kamil. "Kalau saya disuruh nmemilih, jelas pilih menjadi manusia sakti,” ujar pakar tenaga dalam itu sedikit humor.
Beberapa pembicara dalam seminar kasekten itu percaya, kedigdayaan, kekebalan, maupun kesaktian merupakan anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia untuk kebaikan. Tentu saja tidak gampang memperoleh mukjizat tersebut. Semuanya butuh laku dan penyucian diri.
Menurut Daliso, yang disebut orang sakti dan digdaya itu sebetulnya orang yang telah meninggalkan sifat keduniawian. Dia sakti tanpa aji-aji, kebal tanpa jimat dan kemat. Karena tubuhnya telah terbungkus "medan elektromagnet" yang secara tidak langsung mampu menolak segala mara bahaya.
Namun, di balik kekebalan murni di atas, muncul pula tandingan kekebalan "hitam" yang kini banyak dipelajari. Para penjahat, maling, kecu, copet dan sejenisnya, tak sedikit yang membentengi dirinya dengan ilmu kebal. Entah itu susuk, akik, atau gembolan berupa jimat.
Penuh pernik
Dunia ilmu kekebalan di Indonesia memang sarat dengan cerita. Macam-macam aliran bermunculan penuh pernik dan lekak-lekuk persyaratan dari ajaran yang berbeda. Ada guru yang mewajibkan muridnya berpuasa, ada pula yang.mengubur hidup-hidup pengikutnya, atau menjauhi wanita. Yang paling brutal adalah yang mensyaratkan pemerkosaan belasan gadis.
Di Yogyakarta ada dukun bernama Soma Dihardjo dari Desa Selomartani, Kalasan, Sleman. Di samping pintar memasang susuk kecantikan (Intisari, Maret 1993), dukun ini juga disebut bisa menyulap orang menjadi digdaya. Hanya dengan komat-kamit mengucap mantra, membakar dupa, Mbah Soma mampu "menyetrum" manusia menjadi kebal. Tajamnya golok tak mampu merobek kulit. Pelor pun konon mental, hanya bikin kulit jadi gatal.
Syaratnya pun sangat ringan. Cukup datang dan bawa uang. "Banyak orang mengaku baik (walau akhirnya diketahui nakal) datang minta gembolan," ungkap dukun yang pernah bertapa di Gunung Cereme itu berterus terang.
Tapi tak sedikit gembong gali di Yogyakarta yang konon kebal peluru, terkapar oleh senjata petugas dalam operasi pemberantasan kejahatan tahun 1983. Masyarakat baru menyadari, kekebalan para gembong gali itu cuma isapan jempol semata.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih meyakini kekebalan itu ada bukan dalam sistem kepercayaan saja. Dengarlah penuturan mantan warok Ponorogo, Ngainan Tunggul, yang di hari tuanya lebih suka menyendiri di padepokannya di Dusun Kedungwringin, Ponorogo, Jawa Timur.
Saat masih muda, dia mengaku suka berguru menimba ilmu kanuragan dan bertirakat. Zaman dulu, belum dulu sekali, seorang warok memang harus digdaya, tinatah mendat, jinoro menter, ora tedas tapak paluning pande sisaning gurinda. Penguasaan ilmu kedigdayan itu syarat mutlak agar warok disegani masyarakat. "Tapi sekarang zaman sudah berubah. Saya sudah tua, perlu dekat dengan Allah,” ungkap Ngainan saat ditemui di rumah mantan warok H. Tobroni.
Keberadaan kekebalan seorang warok juga diakui oleh R. Purwowijoyo, budayawan Ponorogo. Untuk memperoleh kedigdayaan itu tidak gampang dan banyak tantangan. Antara lain tidak boleh menggauli perempuan. "Itu sebabnya warok zaman dulu lebih memilih teman hidup lelaki yang lebih halus dan tampan, yang disebut gemblak,” ujar penulis buku Warok Suromenggolo dan Babad Ponorogo itu.
Daun kelor dan batang padi
Kekebalan memang telah menjadi realitas tersendiri, bahkan telah menjadi bagian dari sistem kebudayaan di sebagian masyarakat kita. Dalam versi kejawen tentu orang pernah mendengar wesi kuning, batu merah delima, atau ajian welut putih, semar mesem, dan semacamnya. Kalau orang menggenggam ajian ponco soma, konon jika terbunuh akan bangkit lagi selama tubuhnya masih menyentuh tanah.
Di balik cadar kisah kehebatan manusia kebal, ada sesuatu yang sangat mengherankan. Mereka justru akan roboh hanya terkena sabetan daun kelor atau goresan batang padi. "Penganut paham ilmu kebal bersusuk, akan rontok juga jika makan pisang emas," kata dukun susuk Redjo Menggolo berpesan.
Namun, menurut Drs. Masyhudi, orang yang mengaku pernah menjalani ilmu kebal, kekebalan itu butuh perawatan khusus. Hanya saja, siapa yang mampu terus menerus tirakat? "Saya pikir-pikir apa gunanya kekebalan tubuh itu untuk zaman sekarang," ungkap Masyhudi. Yang penting 'kan selamat. Makna selamat itu tak perlu harus kebal tubuh, cukup menjaga mulut dan perilaku.
Kebenaran atas kisah kekebalan berikut kelemahan semua itu, pastilah butuh kajian tersendiri. Namun, siapa yang wajib menguji dan berani diuji di depan khalayak urrium? Seandainya pun benar-benar ada, alangkah bijaksana kalau dipergunakan untuk jalan kebaikan. Setidaknya untuk mempersenjatai satpam dan hansip penjaga keamanan.