TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – United Nations Development Programme (UNDP) menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, dan kesejahteraan masyarakat lokal di wilayah penghasil komoditas strategis Indonesia.
Provinsi Aceh, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur disebut sebagai rumah bagi ekosistem terkaya di dunia sekaligus pusat produksi sawit nasional.
Sekitar 90 persen produksi sawit Indonesia berasal dari kawasan ini, dengan 2,5 juta petani kecil berperan langsung dalam rantai pasoknya.
Hal tersebut disampaikan Head of Nature, Climate and Energy Unit UNDP Indonesia, Aretha Aprilia, dalam pameran jurnal foto dan gelar wicara bertajuk “Kolaborasi untuk Transformasi Komoditas dan Lanskap Berkelanjutan di Indonesia” di Pos Bloc, Jakarta Pusat, Jumat (28/11/2025).
“Kawasan-kawasan ini bukan hanya pusat produksi komoditas strategis, tetapi juga rumah bagi ekosistem paling kaya di dunia,” ujar Aretha.
Ia menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor agar perlindungan alam, kesejahteraan petani, dan daya saing Indonesia dapat berjalan beriringan.
Melalui Sustainable Landscape Program Indonesia (SLPI), UNDP mendorong kerja sama antara pemerintah daerah, swasta, petani, dan organisasi masyarakat untuk menciptakan lanskap produktif, inklusif, dan berkelanjutan.
Pameran foto yang digelar dalam acara ini menampilkan perjalanan tiga tahun SLPI, dengan dukungan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Swiss melalui Sekretariat Negara untuk Urusan Ekonomi Swiss (SECO).
Foto-foto yang dipamerkan berasal dari Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, menyoroti kisah nyata perubahan hidup masyarakat, wajah para petani, ruang belajar bersama, hingga bentang alam yang dipulihkan.
“Foto jurnal hari ini hadir sebagai jendela yang menampilkan kisah-kisah perubahan yang hidup,” kata Aretha.
Kepala Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi SECO Kedubes Swiss untuk RI, Violette Ruppanner, menegaskan dukungan penuh Swiss terhadap Indonesia dalam memperkuat rantai pasok komoditas yang lebih bertanggung jawab.
“Kami mendukung penuh pemerintah Indonesia dalam mendorong rantai pasok komoditas yang semakin bertanggung jawab,” ujarnya.
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera, menilai inisiatif UNDP dan mitra terkait sebagai contoh nyata mekanisme kolaborasi yang tepat.
“Acara ini menunjukkan hal-hal yang bisa dicapai masyarakat Indonesia dengan mekanisme kolaborasi yang tepat, mulai dari merintis sumber penghidupan alternatif, mengimplementasikan praktik pertanian yang baik, hingga memperkuat tata kelola lahan untuk melindungi lingkungan,” kata Dida.