Ringkasan Berita:
- Tulungagung Djadoel dikritik karena tak mencerminkan nuansa jadul dan dipenuhi pedagang luar daerah.
- Pengunjung keluhkan harga makanan mahal dan tidak sesuai porsi.
- Panitia Hari Jadi ke-108 Kabupaten Tulungagung, Jatim, minta maaf dan berjanji mengevaluasi penyelenggaraan acara.
SURYA.CO.ID, TULUNGAGUNG - Gelaran Tulungagung Djadoel di Alun-alun Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), menuai kritik masyarakat.
Acara yang diklaim menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-108 Kabupaten Tulungagung itu, dinilai tidak mencerminkan konsep “jadul” seperti yang dijanjikan.
Banyak pengunjung mengeluhkan bahwa tampilan Tulungagung Djadoel jauh dari kesan jaman dulu.
Makanan dan produk yang dijual justru didominasi produk modern, serta sebagian besar pedagang ternyata berasal dari luar daerah.
“Nama Jadul saya bayangkan suasana Tulungagung era lama. Ternyata isinya tenda pedagang, permainan ketangkasan dan cendera mata,” ujar seorang pengunjung, Deffi.
Ia juga menyebut, harga makanan di lokasi tersebut tergolong mahal untuk ukuran masyarakat Tulungagung.
Beberapa makanan memiliki harga yang dinilai tidak sesuai kuantitas.
Deffi memberikan contoh, ice cream roll 6 gulung seharga Rp 30 ribu, cumi bakar porsi kecil Rp 30 ribu, hingga penthol pedas kecil berisi delapan Rp 15 ribu.
“Namanya anak yang minta, tetap beli. Tapi kalau dibanding tempat lain, ini tergolong mahal,” ucapnya.
Seorang pedagang penthol pedas bahkan mengaku berasal dari Kabupaten Kediri.
Ia datang setelah mendapat tawaran berjualan melalui grup pedagang.
“Ditawarkan lewat grup, siapa yang berminat. Akhirnya saya ikut,” tuturnya.
Ketua Panitia Hari Jadi ke-108 Kabupaten Tulungagung, Fuad Saiful Anam, membenarkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan warga.
Menurutnya, banyak masyarakat menduga acara ini sebenarnya menggandeng komunitas pasar malam, lalu diberi nama Tulungagung Djadoel.
“Atas kekurangan ini kami mohon maaf, akan segera kami konsolidasikan,” kata Fuad.
Ia menjelaskan, bahwa panitia memberikan kebebasan masyarakat untuk menyelenggarakan kegiatan secara mandiri, namun tetap harus dikoordinasikan dengan panitia pusat.
Fuad mengakui bahwa Tulungagung Djadoel merupakan kegiatan di luar Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sehingga luput dari perhatiannya.
Acara ini, akan menjadi bahan evaluasi panitia untuk penyelenggaraan hari jadi di tahun berikutnya.
“Ke depan kami ingin ada koordinasi, sehingga kemasan dan isi bisa sesuai. Saya menerima banyak masukan dari berbagai pihak,” pungkasnya.