Tolak Jadi Bendahara Umum PBNU, Sumantri Suwarno Tegaskan Fokus Islah dan Jaga Kepemimpinan Ideal
Sudarma Adi November 30, 2025 02:30 AM
Ringkasan Berita:
  • Penolakan Jabatan: Tokoh NU Sumantri Suwarno menolak posisi Bendahara Umum PBNU hasil rotasi oleh Gus Yahya (28/11/2025).
  • Alasan Utama: Fokus utama Sumantri adalah mendorong Islah (rekonsiliasi) di PBNU dan tidak memiliki ambisi jabatan di tengah situasi konflik.

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Bobby Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Sumantri Suwarno, menegaskan menolak rotasi jabatan yang menempatkannya di posisi Bendahara Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selain fokus mengembangkan usaha, Sumantri meminta PBNU untuk mengedepankan islah. 

Dia menyampaikan bahwa tawaran untuk posisi serupa sudah sering muncul. Namun, dirinya tetap konsisten menolak. 

Suporter Kuat Islah dan Struktur Ideal

Dirinya tidak memiliki ambisi menduduki posisi strategis tersebut, terlebih di tengah situasi internal yang bernuansa konflik. 

"Kalau soal tawaran menjadi bendahara umum atau dorongan itu sudah sering muncul buat saya. Di masa yang paling enak saja saya menolak. Apalagi di masa yang nuansanya konflik seperti ini," ujar Sumantri melalui akun Facebook-nya dikutip Tribun Jatim Network, Sabtu (29/11/2025).

Sumantri menyebut jalan terbaik bagi PBNU saat ini adalah kembali ke jalur islah dengan menegakkan struktur kepengurusan yang ideal dan disepakati bersama.

"Saya ini suporter paling kuat untuk terjadinya islah," katanya.

Pihaknya tetap mendukung Saifullah Yusuf sebagai Sekertaris PBNU dan Gudfan Arif Ghofur sebagai Bendahara Umum.

“Yaitu, tetap mendudukkan Gus Yahya sebagai ketua umum, Gus Ipul sebagai sekjen dan Gus Gudfan sebagai bendum (bendahara)," katanya.

Dibanding menjadi pengganti, dirinya justru akan membantu membereskan dari luar struktur formal jika terdapat persoalan tata kelola.

"Terkait permasalahan-permasalahan tata kelola dan lain-lain, justru itu yang saya akan bantu untuk saya bereskan,” ucapnya.

Sumantri meminta semua pihak tetap tenang. Dia menegaskan bahwa jika ada persoalan dalam tata kelola organisasi, hal tersebut tidak didorong oleh niat buruk siapa pun.

"Untuk semua pihak tenang dan merasa bahwa jika pun ada masalah dalam tata kelola ini dipastikan tidak digerakkan oleh niat jahat. Yang kedua, saya ingin pastikan bahwa di masa depan tidak ada risiko yang akan mengenai PBNU dan NU secara luas," katanya.

Selain menjaga marwah organisasi, Sumantri mengungkapkan bahwa ia memang tidak memiliki cukup waktu untuk mengemban tugas berat sebagai bendahara umum.

"Jadi buat teman-teman yang menyelamati saya sebagai Bendahara PBNU, respon saya yang pertama saya ini sudah nggak punya waktu sekarang untuk mengurusi hal-hal seperti ini karena terus-terang kesibukan duniawi sedang banyak. Saya bahkan kesulitan mencari waktu untuk hal-hal yang terkait kepentingan pribadi dan keluarga," katanya.

Sumantri kembali menegaskan bahwa PBNU memiliki modal besar untuk menyelesaikan perbedaan secara bermartabat. "Kita harus kembali kepada jalur islah. PBNU punya kemampuan untuk terus-menerus mencari jalan tabayun dan kembali menemukan cita-cita bersama dengan cara yang bermartabat," katanya. 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya melakukan perombakan struktur kepengurusan pada Jumat (28/11/2025). Pada rotasi tersebut, lima tokoh menempati posisi baru.

KH Mashuri Malik yang sebelumnya menjabat Ketua PBNU kini dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Sementara itu, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) beralih dari posisi Sekretaris Jenderal PBNU menjadi Ketua PBNU.

Jabatan Ketua PBNU lainnya juga diisi oleh Gudfan Arif yang sebelumnya merupakan Bendahara Umum PBNU.

Perubahan juga terjadi pada posisi Sekretaris Jenderal PBNU, yang kini ditempati Amin Said Husni menggantikan perannya sebagai Wakil Ketua Umum PBNU serta Sumantri Suwarno turut menjadi sorotan karena kini diamanahi tugas sebagai Bendahara Umum PBNU.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.