Pesan Natal KWI dan PGI: Allah di Rumah Kita
maximus conterius December 01, 2025 02:30 AM

Oleh: Herkulaus Mety, S.Fils, M.Pd
Alumnus STF Seminari Pineleng dan IAIN Manado

NATAL selalu datang sebagai cahaya yang terasa akrab, tetapi sesungguhnya tidak pernah berhenti mengejutkan. Ia selalu membawa sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak pernah tuntas dijelaskan oleh tradisi maupun kebiasaan yang berulang dari tahun ke tahun. Namun pada 2025 ini, pesan Natal dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) seolah menyentakkan kesadaran kita dengan cara yang lebih langsung dan intim: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.” Sudah selayaknya, tema ini mengajak kita untuk berefleksi lebih jauh dan lebih dalam. Tema ini bukan sekadar pengulangan jargon religius, bukan kalimat yang diletakkan secara seremonial di spanduk Gereja pada akhir tahun. Ia adalah bisikan sekaligus kritik, doa sekaligus teguran, penghiburan sekaligus pernyataan teologis yang radikal. Matius 1:21-24 mempertunjukkan kisah bagaimana Allah masuk secara konkret ke dalam dinamika sebuah keluarga yang jauh dari ideal – sebuah keluarga yang diwarnai kegelisahan, bisik-bisik tetangga, dilema moral, ketidakpastian ekonomi, dan bayang-bayang ancaman politik. Mungkin itulah sebabnya pesan Natal ini menjadi sangat relevan, karena keluarga masa kini hidup di bawah beban yang tak kalah berat.

Di tengah zaman yang serba cepat, ambisius, dan kompetitif, keluarga bukan hanya kehilangan waktu untuk bersama, tetapi juga kehilangan pusat gravitasi spiritual dan moralnya. Banyak keluarga kehilangan kemampuan untuk mendengar satu sama lain, kehilangan kesabaran untuk berproses, kehilangan kehangatan dalam dialog, bahkan kehilangan keberanian untuk saling menerima. Dalam kondisi demikian, tema Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga bukanlah romantisasi masa lalu, melainkan ajakan untuk membiarkan kisah Natal memulihkan dan membentuk ulang cara kita melihat keluarga.

Kehadiran Allah dalam keluarga Yusuf dan Maria mengingatkan kita bahwa keselamatan tidak datang dalam bentuk spektakuler. Ia datang dalam bentuk-relasi: dalam kesediaan Yusuf untuk mendengarkan mimpi, dalam keberanian Maria untuk menerima misteri, dalam kerentanan seorang bayi yang sepenuhnya bergantung pada kasih orangtuanya. Joseph Ratzinger (2007) pernah mengatakan bahwa Inkarnasi adalah cara Allah menunjukkan bahwa cinta tidak datang dari ketinggian, melainkan dari kedalaman: dari kerendahan hati, dari kehadiran yang menyentuh daging, dari sebuah keluarga yang hidup dalam kenyataan sehari-hari. “Allah adalah Allah yang dekat,” tulisnya dalam Jesus of Nazareth, “dan kedekatan itu tidak bersifat metaforis, melainkan konkret dan manusiawi.”

Matius menggambarkan Yusuf sebagai seorang yang dikaios, seorang benar, tetapi kebenaran moral Yusuf bukanlah kebenaran legalistik – melainkan kebenaran yang lahir dari belas kasih. Ia memilih untuk tidak mempermalukan Maria, bahkan sebelum ia memahami peran Allah dalam peristiwa itu. Keputusan moralnya mendahului penjelasan teologis. Di sinilah keluarga menjadi ruang etis pertama, tempat di mana manusia belajar mengambil keputusan yang tidak hanya benar, tetapi baik; tidak hanya logis, tetapi penuh kasih. Hans Urs von Balthasar (1988) menulis bahwa drama keselamatan tidak mungkin dimengerti tanpa memahami drama cinta manusia. Dengan menerima Maria dan bayi Yesus, Yusuf masuk ke dalam drama ilahi itu – sebuah drama yang berpusat pada kasih yang setia dan berani.

Di dunia modern, drama seperti ini justru semakin jarang. Banyak keluarga yang hidup bukan dari kesetiaan, melainkan dari kalkulasi; bukan dari pengorbanan, melainkan dari tuntutan; bukan dari penerimaan, melainkan dari kompetisi ego. Individualisme yang dipuji dunia modern membuat manusia sulit memahami bahwa kebahagiaan bukanlah penjumlahan kepentingan pribadi, tetapi hasil dari relasi yang diperjuangkan. Karl Rahner (1976) mengingatkan bahwa manusia tidak menjadi manusia dalam isolasi, tetapi dalam perjumpaan yang penuh risiko. Keluarga adalah sekolah pertama dari perjumpaan itu. Ketika keluarga melemah, kemanusiaan pun ikut melemah.

Oleh karena itu, pesan Natal 2025 menjadi panggilan untuk melihat kembali makna keluarga sebagai ruang inkarnasi – ruang di mana cinta menjadi konkret, di mana pengampunan menjadi mungkin, di mana luka diakui, dan di mana harapan dipulihkan. Di dalam keluarga Maria dan Yusuf, kita melihat bahwa keselamatan bukanlah datang melalui keajaiban spektakuler, tetapi melalui kesediaan manusia untuk bekerja sama dengan rahmat. Maria berkata, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu” – sebuah kalimat yang mengandung kekuatan transformasi luar biasa. Keluarga mana pun dapat berubah ketika ada keheningan untuk mendengar, keberanian untuk menerima, dan cinta untuk mengampuni.

Namun realitas keluarga masa kini tidak dapat disederhanakan. Dunia telah berubah, dan perubahan ini memengaruhi struktur dan dinamika keluarga. Banyak keluarga hari ini hidup di bawah tekanan ekonomi yang berat. Orangtua bekerja lebih lama, kadang harus menjadi pekerja migran, dan anak-anak tumbuh dengan rasa kekurangan bukan hanya secara materi, tetapi secara emosional. Ada keluarga yang dihancurkan oleh kekerasan domestik, oleh alkoholisme, oleh kecanduan, oleh kemiskinan, oleh perselingkuhan, oleh konflik yang tak terselesaikan, atau oleh kehadiran media sosial yang mengubah pola komunikasi. Banyak keluarga hidup dalam disfungsi yang tidak pernah mereka pilih, tetapi terpaksa mereka tanggung.

Di sinilah relevansi tema Natal menjadi sangat sosial. Allah hadir bukan untuk meromantisasi keluarga, tetapi untuk menyelamatkan keluarga yang terpecah, terluka, kelelahan, dan terpinggirkan. Walter Kasper (2014) menekankan bahwa keluarga adalah “Evangelium vivum” – Injil yang hidup. Tetapi Injil tidak hidup dalam keluarga ideal, melainkan dalam keluarga nyata, yang tidak sempurna, yang bergumul, tetapi terus mencari terang. Gereja dipanggil bukan untuk menghakimi keluarga yang gagal, tetapi menemani mereka. Pastoral keluarga bukanlah proyek moralistik, melainkan proyek penyembuhan, pendampingan, dan solidaritas.

Dalam terang antropologi, keluarga adalah tempat paling awal di mana manusia belajar memahami dirinya, belajar mengenali emosinya, belajar menerima kasih, dan belajar memberi kasih. John Paul II (1981) dalam Familiaris Consortio menyebut keluarga sebagai “persekutuan hidup dan cinta.” Ini berarti keluarga bukan hanya institusi sosial, tetapi komunitas roh yang membentuk identitas manusia. Ketika keluarga hancur, identitas pun retak. Banyak krisis mental yang dihadapi generasi muda hari ini – kecemasan, depresi, kesepian – berakar pada keluarga yang tidak menyediakan rasa aman yang cukup. John Bowlby (1988) sudah menunjukkan bahwa attachment yang aman adalah fondasi kesehatan psikologis. Jika keluarga menjadi tempat ketakutan, bukan tempat kelekatan, manusia tumbuh dengan luka yang mewarnai seluruh hidupnya.

Tetapi di sinilah Natal menawarkan harapan. Inkarnasi adalah penegasan bahwa Allah tidak hanya memahami luka manusia, tetapi masuk ke dalam luka itu. Keluarga Nazaret tidak sempurna: mereka miskin, mereka harus mengungsi, mereka hidup dalam ancaman politik Herodes. Yesus tumbuh dalam keluarga yang harus bertahan hidup. Dengan demikian, tidak ada keluarga yang terlalu rapuh untuk menjadi tempat kehadiran Allah. Tidak ada luka yang terlalu dalam untuk tidak dapat dipulihkan oleh kasih yang sabar dan setia.

René Girard (1979) menunjukkan bahwa masyarakat manusia sering mengalihkan konflik ke “kambing hitam” – dan dalam keluarga pun pola itu terjadi: pasangan menyalahkan pasangan, orangtua menyalahkan anak, anak menyalahkan orangtua. Natal membawa pesan bahwa Allah tidak memilih kambing hitam; Ia memilih untuk memikul penderitaan. Dalam keluarga, keselamatan muncul ketika seseorang berani menghentikan lingkar kebencian: ketika seorang ayah berani berkata maaf, ketika seorang ibu berani memeluk tanpa syarat, ketika seorang anak berani mengampuni. Ketika proses itu terjadi, keluarga menjadi tempat inkarnasi cinta yang menyelamatkan.

Selain itu, keluarga hari ini hidup di dunia digital yang memecah perhatian dan menciptakan jarak kualitatif. Banyak keluarga menghadirkan tubuh secara fisik tetapi absen secara batin. Kehadiran Allah dalam Natal mengingatkan bahwa cinta membutuhkan kehadiran yang utuh, bukan kehadiran yang terfragmentasi. Allah tidak datang sebagai cahaya virtual, tetapi sebagai bayi yang dapat disentuh. Inkarnasi adalah kritik terhadap relasi digital yang dangkal. Allah hadir melalui kehadiran manusiawi yang penuh perhatian, kehadiran yang tidak dapat digantikan oleh perangkat digital mana pun.

Di sisi lain, keluarga adalah struktur sosial yang memikul beban berat ketidakadilan ekonomi. Banyak keluarga tidak berfungsi bukan karena mereka tidak punya cinta, tetapi karena sistem sosial-ekonomi menindas mereka. Dalam konteks ini, Natal memanggil gereja untuk memperjuangkan struktur sosial yang lebih adil: upah layak, jaminan kesehatan, perlindungan perempuan, layanan konseling keluarga, pendidikan anak, dan dukungan terhadap keluarga miskin. Menghadirkan Allah berarti menghadirkan keadilan. Seperti Yesus yang pada awal hidupnya menjadi pengungsi, banyak keluarga hari ini juga menjadi korban ketidakadilan politik dan ekonomi. Gereja dipanggil untuk menyelamatkan mereka melalui advokasi dan solidaritas yang konkret.

Natal tahun ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak menyelamatkan keluarga dari jauh. Ia hadir dalam kegelisahan mereka. Ia hadir dalam dialog yang tersendat, dalam air mata yang ditahan, dalam keheningan yang penuh beban, dalam cemasnya orangtua tentang masa depan anaknya. Allah hadir dalam perjuangan seorang ibu yang bekerja keras, dalam kesetiaan seorang ayah yang bangun pagi untuk mencari nafkah, dalam senyum anak kecil yang membuka pintu bagi harapan. Bahasa penyelamatan dalam Matius menggunakan kata sōzō, yang berarti memulihkan, membebaskan, menghidupkan kembali. Keselamatan bukan sesuatu yang abstrak, tetapi sesuatu yang menyentuh kehidupan sehari-hari.

Namun keselamatan yang dibawa Yesus bukan berarti keluarga tidak akan mengalami konflik. Keselamatan bukan obat penenang, melainkan keberanian untuk berubah. Keluarga diselamatkan bukan oleh mukjizat instan, tetapi oleh pilihan-pilihan kecil yang setia. José Granados (2016), seorang teolog Katolik kontemporer, menyebut keluarga sebagai tempat “karakter eskatologis” manusia—tempat di mana kasih yang kekal mulai dilatih dalam bentuk yang paling sederhana: berbagi, mendengarkan, memperhatikan, saling menopang.

Natal mengingatkan bahwa Jabatan Orangtua bukan profesi, melainkan panggilan. Keluarga bukan beban, melainkan persekutuan cinta yang membutuhkan keberanian untuk terus dibentuk. Allah telah masuk ke dalam sebuah rumah, sebuah keluarga. Artinya, rumah mana pun dapat menjadi tempat kehadiran Allah jika keluarga membuka diri kepada kasih-Nya.

Pada akhirnya, pesan Natal 2025 adalah undangan untuk mengembalikan keluarga ke pusat kehidupan rohani dan sosial. Gereja tidak bisa menyelamatkan dunia jika ia tidak terlebih dahulu menyelamatkan keluarga. Masyarakat tidak akan mencapai keadilan jika ia mengabaikan keluarga. Sekolah, negara, perusahaan, dan teknologi tidak dapat menggantikan fungsi keluarga. “Keluarga,” tulis John Paul II (1994), “adalah masa depan dunia.” Dan dunia tidak dapat memiliki masa depan jika keluarga tidak diselamatkan.

Allah hadir, tetapi kehadiran-Nya membutuhkan ruang. Allah datang untuk menyelamatkan, tetapi keselamatan itu membutuhkan kerja sama manusia. Ketika keluarga mulai berbicara kembali, mulai mendengar kembali, mulai saling menerima kembali, mulai berdoa kembali, mulai saling memeluk kembali – di situlah kehadiran Allah menemukan rumah-Nya.

Natal adalah deklarasi bahwa Allah tidak mencari rumah di istana, tetapi di tengah keluarga yang berjuang. Bethlehem bukan tempat sempurna. Keluarga Maria dan Yusuf bukan keluarga tanpa masalah. Tetapi di sanalah Allah memilih tinggal. Dan di sanalah Ia terus ingin tinggal – di tengah keluarga kita, dengan segala luka dan kerinduannya.

Seluruh dunia dapat berubah, tetapi jika keluarga diselamatkan, harapan tidak pernah padam. Natal mengajak kita untuk tidak hanya melihat bintang di langit, tetapi untuk melihat Cahaya itu masuk ke rumah kita, menyentuh hati kita, memulihkan relasi kita, dan menjadikan keluarga kita ruang keselamatan yang hidup. Sebab di situlah Allah ingin hadir—bukan di tempat lain, tetapi di rumah kita. (*)

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.