Oleh: Bernabas Unab
Penggiat filsafat
POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa waktu terakhir, kita kerap menjumpai fenomena orang berjoget dan merekam diri di berbagai ruang publik: halaman kantor, lobi pusat perbelanjaan, bandara, fasilitas umum, bahkan ruang yang sesungguhnya mengandaikan kekhusyukan dan penghormatan situasi.
Tubuh bergerak mengikuti alunan musik, kamera diarahkan dengan sudut terbaik, dan rekaman itu segera dikirim ke ruang digital untuk dibagikan, dikomentari, dan dikonsumsi.
Pada pandangan pertama, fenomena ini tampak seperti ekspresi kegembiraan yang wajar, ringan, dan tidak merugikan siapa pun.
Namun ketika diperhatikan lebih dalam, kita menemukan gejala yang lebih mendasar: manusia seperti tidak lagi sepenuhnya hadir pada ruang dan waktu kehidupannya.
Baca juga: Opini: Krisis Pendidikan dan Hilangnya Martabat Manusia
Kesadaran dirinya bergeser, bukan pada tempat di mana kakinya berpijak dan orang lain berbagi ruang dengannya, melainkan pada layar; pada kamera, pada algoritma, pada bayangan tentang kemungkinan dilihat, disukai, dan menjadi viral.
Di sinilah persoalan eksistensial itu menemukan bentuknya. Joget publik bukan semata aksi hiburan, melainkan tanda bagaimana tubuh semakin diperlakukan sebagai objek tontonan.
Manusia hadir secara biologis di satu tempat, tetapi pusat kesadarannya tidak berada di sana.
Ia menari bukan terutama dalam relasi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, melainkan di hadapan khalayak anonim yang ia bayangkan sedang menyaksikannya di ruang maya.
Tubuh yang seharusnya menjadi ruang keberadaan diri; tempat pengalaman batin, relasi, dan tanggung jawab moral berdiam, perlahan direduksi menjadi citra yang diproduksi demi konsumsi digital.
Ruang publik yang pada dasarnya merupakan ruang perjumpaan sosial pun mengalami pergeseran makna.
Ia tidak lagi dipahami sebagai ruang bersama yang mengandaikan tata rasa, kepekaan situasi, dan penghargaan terhadap kehadiran orang lain, melainkan berubah menjadi latar visual bagi performa personal.
Dalam banyak peristiwa, aktivitas berjoget berlangsung tanpa memperhitungkan fungsi ruang, suasana sosial, atau momen kebersamaan yang sedang terjadi.
Manusia memang secara fisik berada di satu lokasi, tetapi kesadarannya hadir di ruang yang lain.
Relasi tatap muka melemah, digantikan relasi imajiner dengan kamera; kehadiran yang konkret dikesampingkan demi kehadiran yang diproyeksikan ke layar.
Fenomena ini menyiratkan bentuk ketidaksadaran eksistensial. Manusia bergerak, tersenyum, dan mengekspresikan diri, namun tidak selalu disertai kesadaran reflektif atas makna tindakannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang mestinya lahir dari kepekaan etis yakni ruang ini untuk apa, siapa saja yang berada di sekitarku, bagaimana tindakanku memengaruhi mereka, perlahan tidak lagi menjadi pertimbangan.
Tindakan tidak lagi dinilai dari kedalaman batin dan tanggung jawab sosial, melainkan dari kemungkinan memperoleh perhatian, respons, dan validasi digital.
Kebebasan yang tampak di layar sesungguhnya berjalan di dalam rel jalur sempit yang dibentuk oleh logika algoritma.
Dalam situasi seperti ini, identitas diri pun kerap dibangun bukan melalui refleksi jujur atas pengalaman hidup, melainkan melalui angka-angka yang bergerak cepat: suka, jangkauan, tayangan.
Diri yang tampil di layar perlahan menjauh dari diri yang sungguh hadir di dunia nyata, namun jarak itu tidak lagi disadari sebagai persoalan.
Manusia merasa sedang mengekspresikan kebebasan, padahal kebebasan tersebut bergerak mengikuti pola yang telah ditentukan lebih dahulu oleh struktur digital.
Krisisnya tidak semata terletak pada teknologi, tetapi pada renggangnya hubungan manusia dengan kesadarannya sendiri.
Karena itu, kritik terhadap fenomena ini tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap kegembiraan, kreativitas, atau budaya ekspresi. Yang perlu disoroti ialah cara tubuh dan ruang publik mengalami penyempitan makna.
Tubuh bukan hanya alat visual, dan ruang publik bukan sekadar panggung personal.
Keduanya adalah bagian dari kehidupan bersama yang menuntut kesadaran, kepekaan, dan tanggung jawab.
Mengembalikan martabat tubuh berarti mengembalikan manusia pada hubungan yang lebih jujur dengan dirinya: menyatukan tindakan dengan kesadaran ruang, menghargai keberadaan orang lain, dan menempatkan ekspresi diri dalam batas kemanusiaan yang etis.
Di titik ini, refleksi tidak hanya menyentuh wilayah privat, melainkan juga wilayah kebangsaan.
Indonesia sedang menapaki perjalanan panjang menuju cita-cita 2045, tahun ketika bangsa ini diharapkan memasuki fase kedewasaan sejarahnya.
Namun kedewasaan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi, teknologi, dan infrastruktur.
Ia ditopang oleh kedewasaan manusia yang hidup di dalamnya; kedewasaan cara kita hadir di ruang publik, cara kita menghargai orang lain, dan cara kita memaknai tubuh serta martabat sesama warga.
Indonesia Emas tidak mungkin lahir dari manusia yang semakin menjauh dari dirinya sendiri.
Negeri ini membutuhkan manusia yang mampu hadir secara utuh, yang tidak sekadar mengejar visibilitas di ruang digital, tetapi juga memelihara tanggung jawab sosial di ruang nyata.
Manusia yang mengerti bahwa setiap tindakan memiliki dampak, bahwa ruang publik adalah bagian dari kehidupan bersama, bahwa kebebasan selalu berjalan seiring dengan kepekaan dan penghormatan terhadap orang lain.
Kesadaran eksistensial, dalam arti yang paling sederhana, menjadi fondasi etis bagi peradaban bangsa.
Karena itu, di penghujung tahun, refleksi ini dapat dibaca sebagai undangan; agar kita belajar hadir kembali.
Hadir pada ruang di mana kita berpijak, pada orang-orang yang berdiri di sekitar kita, pada keheningan batin yang memberi jarak dari dorongan untuk selalu tampil.
Hadir bukan sebagai citra yang dikejar algoritma, melainkan sebagai pribadi yang memilih dengan sadar, bertindak dengan kasih hormat, dan memikul tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Jika 2045 ingin kita maknai sebagai tonggak kedewasaan Indonesia, maka kedewasaan itu perlu dimulai dari hal-hal yang paling sederhana, dari cara kita berdiri, bergerak, menghadirkan tubuh, dan menghargai ruang bersama.
Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan angka pertumbuhan, tetapi juga oleh kualitas kesadaran manusia yang membentuknya hari demi hari.
Di tengah derasnya arus digital, mungkin tugas kita adalah memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menjauhkan kita dari diri, dari sesama, dan dari martabat kemanusiaan yang menjadi dasar rumah bersama bernama Indonesia. (*)