Riset Kemenag: Gen Z Lebih Toleran Dibanding Generasi Milenial dan Baby Boomers, Ini Dampaknya
SERAMBINEWS.COM – Riset yang dilakukan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) bekerja sama dengan Alvara Strategic Research menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) memiliki tingkat toleransi beragama yang lebih tinggi dibandingkan generasi Milenial dan Baby Boomers.
Untuk diketahui, Gen Z adalah mereka yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012. Sementara Minilenial rentang 1981 hingga 1996, Gen X pada 1965 hingga 1980, dan Baby Boomers yang lahir antara tahun 1946 hingga 1964.
Temuan ini dinilai berdampak positif terhadap penguatan kerukunan sosial dan masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Hasil riset yang tertuang dalam Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 itu mencatat Gen Z unggul dalam sejumlah indikator toleransi.
Mulai dari sikap menerima pelaksanaan ibadah agama lain, tidak mencela keyakinan pihak lain, hingga menolak praktik persekusi dan pembubaran kegiatan keagamaan.
Gen Z juga masuk kelompok tertinggi dalam kemampuan membaca Al-Quran dibandingkan generasi lainnya.
Temuan ini dinilai menjadi sinyal optimis bagi masa depan kehidupan beragama di Indonesia.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kementerian Agama, Arsad Hidayat, menyebut hasil survei ini sebagai capaian yang menggembirakan dan patut dijadikan rujukan kebijakan.
“Hasilnya cukup menggembirakan dan memberikan optimisme. Laporan ini idealnya menjadi acuan bagi para pengambil kebijakan untuk merumuskan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tanah air,” ujar Arsad di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Baca juga: Seruan Provokatif untuk Gen Z Aceh: Optimalkan Sosial Media Kalian, Bantu Pemulihan Bencana
Menurutnya, survei ini sejalan dengan visi Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam penguatan sumber daya manusia dan kerukunan sosial.
"Fokus utamanya adalah membangun sumber daya manusia yang unggul sekaligus memperkokoh kerukunan dan cinta kemanusiaan sebagai fondasi stabilitas nasional,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga capaian positif generasi muda, terutama dalam aspek toleransi dan literasi keagamaan.
“Penguatan aspek yang sudah baik, seperti toleransi dan literasi kitab suci pada generasi muda, harus terus dikawal agar menjadi karakter permanen bangsa,” tegas Arsad.
Peneliti Alvara Strategic Research, Lilik Purwandi, mengatakan, Gen Z memiliki peran strategis sebagai motor penggerak menuju Indonesia Emas 2045.
Survei ini, menurutnya, mencatat sejumlah indikator positif yang memperkuat optimisme tersebut.
Pertama, literasi Al-Quran, terutama kemampuan membaca Al-Quran di kalangan Gen Z menunjukkan hasil positif, bahkan indeksnya tertinggi jika dibandingkan generasi lainnya.
Indeks kemampuan membaca Al-Qur’an dengan tartil pada Gen Z tercatat sebesar 56,29, lebih tinggi dibandingkan Milenial (54,06), Generasi X (53,97), dan Baby Boomers (50,95).
Kedua, Gen Z mencatat skor tertinggi dalam salah satu indikator toleransi beragama.
Pada indikator sikap tidak membubarkan kegiatan keagamaan aliran atau organisasi keagamaan lain, Gen Z meraih indeks 80,03, melampaui Milenial (78,77), Generasi X (78,97), dan Baby Boomers (78,81).
Secara keseluruhan, indeks pengamalan toleransi Gen Z berada pada angka 79,65, hanya terpaut tipis dari Generasi X yang mencatat 79,67, dan lebih tinggi dibandingkan Milenial (79,07) dan Baby Boomers (78, 63).
Indikator toleransi mencakup penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela, tidak melakukan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian.
“Data ini menunjukkan Gen Z memiliki kedewasaan sikap yang luar biasa dalam menghargai perbedaan. Mereka adalah generasi yang paling menolak praktik persekusi atau pembubaran kegiatan keagamaan pihak lain,” ujar Lilik.
Ketiga, survei juga mencatat potensi positif kehidupan beragama di wilayah perkotaan yang didominasi populasi muda.
Meski indeks dimensi ibadah masyarakat urban (78,38) sedikit lebih rendah dibandingkan perdesaan (79,37), pemahaman keagamaan yang kuat dinilai menjadi modal penting bagi pengembangan spiritual ke depan.
“Gen Z dan Milenial adalah pilar masa depan. Walaupun terdapat tantangan dalam pengamalan ibadah harian, modal intelektual melalui pemahaman Al-Qur’an dan sikap toleransi yang matang merupakan aset besar bagi kohesi sosial,” kata Lilik.
Survei ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan cakupan nasional, melibatkan 1.208 responden Muslim di 34 provinsi.
Metode yang digunakan adalah multistage random sampling melalui wawancara tatap muka langsung. Margin of error tercatat 2,89 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.
Secara nasional, Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 berada pada angka 78,80 dan masuk kategori tinggi.
Dimensi Akhlak menjadi aspek dengan skor tertinggi, yakni 81,88.
Hasil survei ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan program pembinaan keagamaan yang lebih relevan dengan karakter Gen Z dan Milenial.
Sehingga penguatan toleransi dan literasi keagamaan dapat berjalan seiring dengan peningkatan pengamalan ibadah secara berkelanjutan.
(Serambinews.com/Agus Ramadhan)
Bergabunglah Bersama Kami di Saluran WhatsApp SERAMBINEWS.COM