POS-KUPANG.COM, KUPANG - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Kupang, H. Muhamad MS menyampaikan malam pergantian tahun bukan sekadar perayaan, melainkan kesempatan berharga untuk menoleh ke belakang, lalu menata langkah ke depan dengan lebih bijak.
“Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk bermuhasabah. Apa yang sudah kita lakukan, apa yang perlu diperbaiki, dan nilai apa yang harus kita jaga agar kehidupan sosial semakin baik,” ujar H. Muhamad, Selasa (30/12).
Ia mengajak masyarakat untuk menyambut Tahun Baru 2026 dengan cara yang sederhana namun bermakna, menghindari pesta berlebihan, serta tetap menjaga keamanan dan ketertiban umum.
Menurutnya, Kota Kupang yang dikenal sebagai kota yang damai dan toleran. Karena itu, semangat kebersamaan dan saling menghormati harus terus dipelihara, terlebih di momen pergantian tahun yang sering kali rawan gangguan ketertiban.
Sementara Ketua MUI NTT, H. Muhamad Wongso menaruh harapan besar pada generasi muda agar menjadikan 2026 sebagai tahun yang produktif, menjauhi perilaku negatif, serta berani bermimpi dan bekerja keras demi masa depan yang lebih baik.
“Mari kita isi tahun 2026 dengan hal-hal yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat. Kota Kupang akan maju jika generasi mudanya tumbuh dengan nilai moral yang kuat,” katanya.
Menutup pesannya, dia mengajak seluruh masyarakat untuk memulai Tahun Baru 2026 dengan doa, harapan, dan komitmen bersama menjaga kedamaian, persatuan, serta kesejahteraan di Kota Kupang.
Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) NTT, Indra Effendy, menyampaikan harapan agar Tahun Baru 2026 menjadi titik balik bagi masyarakat untuk memperkuat kedamaian, toleransi, dan persaudaraan di tengah keberagaman.
Menurutnya, tantangan kehidupan sosial yang semakin kompleks menuntut setiap individu untuk lebih mampu mengendalikan pikiran, ucapan, dan tindakan. Tahun baru, bukan sekadar pergantian kalender, tetapi kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri.
“Jika kita ingin kehidupan yang damai, maka yang pertama harus dibenahi adalah batin. Dari batin yang jernih akan lahir ucapan yang menyejukkan dan tindakan yang membawa kebaikan,” ujarnya.
Indra mengajak masyarakat NTT menjadikan Tahun Baru 2026 sebagai awal untuk meninggalkan kebencian, prasangka, dan sikap saling menyalahkan.
Ia menekankan pentingnya nilai cinta kasih, welas asih, dan keseimbangan batin sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Dalam pesannya, ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kerukunan, menghindari provokasi dan ujaran kebencian, serta terus merawat semangat toleransi dan gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan NTT.
“Perbedaan bukan ancaman, melainkan anugerah. Ketika perbedaan dirawat dengan kebijaksanaan, ia akan menjadi sumber kekuatan dan persatuan,” ungkapnya.
Selain itu, Permabudhi NTT mendorong masyarakat untuk ikut menjaga ketertiban, keamanan, dan kedamaian bersama selama pergantian tahun.
Menurut Indra, kedamaian tidak bisa dipaksakan, tetapi dibangun melalui kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Menutup refleksinya, Indra Effendy berharap Tahun Baru 2026 membawa ketenangan batin, keharmonisan dalam keluarga, serta harapan baru bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur.
“Sabbe satta bhavantu sukhitatta semoga semua makhluk berbahagia. Semoga tahun yang baru menjadi ruang tumbuh bagi kebijaksanaan dan kedamaian,” ujarnya.
Salah satu masyarakat Kota Kupang Ni Luh Putu Ningsih mengatakan harapannya di tahun 2026.
"Berharap 2026 banyak lagi hal baik datang, khususnya untuk Kota Kupang. Semoga harga bahan-bahan pokok jangan naik drastis walaupun UMP kita naik tapi semoga seimbang," ujarnya.
Tertibkan Petasan dan Terompet
Menjelang malam pergantian Tahun Baru, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Kupang mengintensifkan penertiban penggunaan petasan dan terompet guna menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat.
Kepala Satpol PP Kota Kupang, Rudi Abubakar, mengatakan pihaknya bersama Satlantas Polresta Kupang Kota telah melakukan operasi penertiban di sejumlah titik sejak beberapa hari terakhir, menyusul adanya aduan dari masyarakat.
“Satpol PP bersama Satlantas sudah melakukan operasi di beberapa titik seperti Jalan El Tari dan gereja-gereja. Bahkan sebelum itu, selama tiga malam berturut-turut kami sudah melakukan penertiban berdasarkan laporan masyarakat,” ujar Rudi Abubakar, Selasa (30/12).
Menurutnya, pembatasan penggunaan petasan dan terompet dilakukan untuk mencegah gangguan keamanan dan keselamatan publik, terutama di ruang-ruang umum dan jalan raya. Kebijakan tersebut juga sejalan dengan arahan pimpinan Polri terkait pengamanan malam Tahun Baru.
“Terkait petasan, itu sudah jelas aturannya dari kepolisian. Pada malam Tahun Baru kami tidak ingin ada gangguan yang membahayakan masyarakat, karena itu kami tertibkan,” jelasnya.
Rudi menyebutkan, beberapa lokasi menjadi prioritas pengawasan karena rawan pelanggaran, di antaranya Jalan El Tari, kawasan Kuanino dan bundaran Tirosa. Di titik-titik tersebut kerap ditemukan aktivitas masyarakat yang menyalakan atau melempar petasan ke jalan. (iar/uan)