TRIBUNTRENDS.COM - Seorang siswi kelas 6 sekolah dasar di Medan harus menghadapi kenyataan pahit setelah perbuatannya sendiri merenggut nyawa ibu kandungnya.
Peristiwa tragis ini meninggalkan penyesalan mendalam bagi bocah berusia 12 tahun tersebut.
Siswi berinisial Al itu mengaku sangat sedih karena kini harus hidup tanpa sosok ibu.
Penyesalan tersebut muncul setelah ia menyadari bahwa tindakannya telah membawa konsekuensi besar dalam hidupnya.
Aksi nekat Al bermula dari rasa sakit hati ketika melihat kakaknya diperlakukan kasar.
Baca juga: Bocah 12 Tahun Bunuh Ibu Kandung di Medan Bakal Dihukum Berat? Kriminolog Menentang: Pemulihan!
Ia mengaku emosi memuncak saat menyaksikan sang kakak dipukuli oleh ibu mereka sendiri.
Situasi semakin memanas ketika Al melihat kakaknya diancam menggunakan pisau.
Dorongan emosi itulah yang akhirnya membuat Al kehilangan kendali.
Dalam kondisi tersebut, ia mengambil pisau dapur dan melukai ibu kandungnya, hingga tercatat melakukan penusukan sebanyak 26 kali.
Kasat Reskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto, menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan Al bukan terjadi karena gangguan kejiwaan.
Menurutnya, Al melakukan perbuatan tersebut dalam keadaan sadar.
"ABH (anak berdahadapan dengan hukum) melakukan tindakan dengan sadar, tidak memiliki ilusi, skizofrenia dan NPD," katanya dikutip dari TV One, Rabu (31/12/2025).
Tak hanya itu, pihak kepolisian juga mengungkap fakta lain mengenai kondisi psikologis Al.
Bayu Putro menyebutkan bahwa siswi tersebut memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata dibandingkan anak seusianya.
"Anak ini punya tingkat IQ superior, sering mendapat prestasi baik perlombaan atau juara di sekolah," tuturnya.
Berdasarkan pengakuan Al ke penyidik, bocah 12 tahun itu menyesal telah membunuh ibunya.
"Saya secara khusus menemui, dari hasil pendekatan, hati ke hati, secara tulus, secara jelas, dia mengutarakan telah menyesal dan bersedih," ungkap Bayu.
Bahkan hal itu juga disampaikan oleh Al ketika ditanya oleh keluarganya.
"Ditanya oleh orangtua dan keluarga pun, dia menyesal karena sudah kehilangan ibunya," kata dia lagi.
Untuk saat ini, kata Bayu, Al tidak ditahan melainkan berada di rumah aman.
"Saat ini anak ada di rumah aman," ucapnya.
Bayu menuturkan, motif pembunuhan yang dulakukan oleh Al yakni karena sering melihat kekerasan yang dilakukan oleh ibunya.
Baca juga: Anak 12 Tahun Tetap Tenang Usai Bunuh Ibu di Medan, Psikolog Heran Saat Lakukan Pemeriksaan
Sang ibu kerap memukuli kakaknya, bahkan terakhir hingga menyebabkan memar.
"Disimpulkan bahwa dari si anak ini lebih kepada melihat secara langsung kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan terhadap kakaknya di kamar oleh ibunya," jelas dia.
Penyiksaan yang dilakukan sang ibu, Faizah Soraya kepada anak pertamanya itu berlangsung hampir tiga jam.
"Tanggal 22 November 2025 dari 21.00 - 23.30 hampir tiga jam digunakan menggunakan alat," katanya.
"Bahkan sapu yang dipakai untuk memukul paha dan lengan korban sampai patah," ucap Bayu lagi.
Tak hanya itu, Al juga sempat melihat sang ibu menodongkan pisau ke kakaknya.
"Sebelumnya pelaku sempat lihat pengancaman yang dilakukan ibunya kepada kakaknya yang dilihat langsung pakai pisau," ucap dia.
Sejak saat itulah Al mulai berpikiran untuk menghilangkan nyawa ibunya menggunakan pisau tersebut.
"Dari itu anak ini berpikiran melakukan hal tersebut," ujarnya.
Konflik di dalam rumah itu, kata dia, sudah terjadi sejak tahun 2022 sejak Faizah pisah ranjang dengan suaminya, Alham.
"Tahun 2022 saat konflik ketidak harmonisan antara ibu dengan korban, dengan bapak, sudah pisah ranjang ayah di lantai 2, ibu bersama adik dan kakak yang jadi TKP," tutur dia.
Namun kata Bayu, keinginan Al untuk menghilangkan nyawa ibunya itu mulai muncul saat kakaknya dipukuli.
"Keinginan anak berkonflik hukum ini ingin menghilangkan ibunya dari tanggal 23 November 2025, pada saat melihat kekerasan yang dilakukan ibunya kepada kakaknya," tandasnya.
(TribunTrends/TribunBogor)