Isi Surat Mahasiswi UNIMA Sebelum Tewas di Kamar Kos, Dilecehkan Dosen dalam Mobil: Saya Tertekan
January 02, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA), Evia Maria Mangolo rupanya sempat menulis surat sebelum ditemukan tewas.

Surat itu menceritakan kronologi dugaan pelecehan yang dilakukan oleh dosennya.

Evia Maria bahkan mengatakan kalau dirinya sangat tertekan dengan kasus pelecehan yang dialaminya itu.

Maria ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya, kawasan Kaaten, Kota Tomohon, Sulawesi Utara, Selasa (30/12/2025).

Wanita berusia 21 tahun itu tewas dalam kondisi tergantung di kamar kosnya.

Ia diduga mengalami depresi karena mendapat tindakan pelecehan seksual yang dilakukan oleh sang dosen.

Namun keluarga melihat ada yang janggal di balik kematian Maria.

Mulai dari adanya tanda biru di bagian kaki Maria.

"Saat itulah, ada tanda biru serta tanda seperti luka," ujar Ketsia dilansir TribunnewsBogor.com dari Tribun Manado, Jumat (2/1/2026).

Bukan cuma di kaki, keluarga juga menemukan diduga luka lainnya di bagian tubuh Maria.

Yakni di pinggang kiri dan dan paha atas tubuh korban.

Karena penemuan itulah keluarga akhirnya menyerahkan kasus kematian Maria ke pihak kepolisian.

Dari temuan lebam di tubuh Maria juga lah yang membuat keluarga curiga akan penyebab kematian Maria.

Keluarga semakin dibuat bertanya-tanya soal penyebab Maria tewas setelah melihat kain di kosan korban.

"Untuk posisi kain juga agak janggal," ujar pengacara keluarga Maria, Cyprus Tatali.

Karenanya, keluarga meminta agar jenazah Maria diotopsi.

Surat Maria 

Sebelum ditemukan tewas, Maria rupanya sempat menulis surat.

Surat itu ia tulis pada tanggal 16 Desember 2025.

Dalam surat itu, Maria menceritakan kronologi pelecehan yang dialaminya.

Baca juga: Postingan Terakhir Evia Maria Mahasiswi Manado Sebelum Tewas, Sempat Bongkar Kebejatan Sang Dosen

Ini kronologi yang ditulis Maria dalam suratnya.

Kronologi kejadian:

Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya, beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia. Saya jawab "Maria tidak tau ba urut Mner" Mner bilang Mener capek sekali. Dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu. Sebelumnya ada percakapan di chat yang mana beliau bilang ke saya begini "Jangan bila pa harikedua kalau mo pijit pa Mner"

Kebetulan saya bersama teman saya Deisye, Hari kedua dan Refina Bawale lagi duduk di food court kampus. Saya kasih baca chat saya dari Mner Danny ke Deis, mereka berdua bilang ke saya jangan pergi, tapi Mner danny sudah mengalihkan pembicaraan menyangkut rekapan nilai, yang sebenarnya sudah daya selesaikan itu.

Tapi karna saya pikir ada yang akan diubah, saya berpikir untuk pergi ke Mner Danny di depan parkiran mmobil Kampus. Sebelum saya pergi tepatnya jam 19.20 saya sudah live location di grup WA saya dan teman saya Radina d Deisye.

Setelah saya sampai di tempat parkiran, beliau menyuruh saya untuk naik ke mobilnya, saya pun naik dan saya bertanya kepada beliau bahwa saya ke sini mau ngapain ada yang mau diubah nilainya? terus beliau hanya bilang Mner capek sekali.

Saya chating ke teman saya kalau semisal mobilnya jalan, kalian pantau terus saya di live locatio. Kebetulan hp saya batrenya sedikit sekali jadi saya semakin takut. Saya bilang ke teman saya jika hp saya tidak aktif live location kalian ikut saya naik indriver, mobil sudah jalan sampai samping pascasarjana beliau berhenti. Beliau memaksa saya untuk duduk di depan. Saya menolak perintah tersebut.

Di situ saya mulai ragu dengan Mner saya takut diapa-apain sama beliau. Saya bilang ke beliau kalau saya mau duduk di depan saya mau lewat pintu saja (di situ saya berpikir kalau beliau menyiakan membuka pintu pasti saya sudah lari situ, karna saya sudah takut dan tidak tau harus berbuat apa.

Beliau memaksa saya pindah di depan dengan melangkah saja, posisi saya pakai rok, setelah saya sudah di depan mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaringm, saya disuruh urut. Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur terus saya di belajang, beliau kembali bertanya "Ia tau ba urut perasaan, dengan spontan saya bilang tidak tau, beliau menjawab "nanti kasi ajar" Katanya urut perasaa itu urut yang akan saya pegang di area tertentu, beliau bertanya kembali contohnya kalau beliau sudah salah pegang saya ikhlas atau tidak, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas.
Tapi beliau dengan pikiran kotornya hanya menjawab "oh yang penting so kasi tau.

Baca juga: Tampang Danny Dosen UNIMA yang Minta Urut di Parkiran Kampus, Mahasiswinya Sampai Tewas dalam Kamar

Kata beliay Jumat tanggal 19 dia akan ke sini memberikan ujian kepada guru2 saya pun diajaknya tapi saya tidak mau. Mener bilang ke saya "Ia kita smo menghayati kalau so satu kamar kita mo bapelo"
Saya bilang Mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliay hanya berkata "Nda apa-apa torang manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no"

Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil tersebut. Saya bilang saya mau pulang ada teman yang sudah menunggu, terus beliau menjawab oh iya maaf Mner so keenakan mobil belum jalan, beliau bertanya
bisa mo dicium, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas. Saya sudah takut sambil menangis tapi saat saya menangis beliau tidak melihat. Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya). Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner. Terus dia bilang 'bibir nda'. Saya bilang tidak mau. Mobil sudah jalan ketemu 2 satpam Mner hanya menurunkan kaca mobilnya sedikit dan bertegur sapa dengan kedua bapak tersebut.

Mener tersenyum dia bilang mereka kira saya sendirian saya padahal lagi bersama Maria dari sore 15.03 saya samapi di prodi PGSD
Di situ saya semakin benci sama Mner. Karena dengan perilakunya tidak mencerminkan dia adalah dosen

Pada saat itu beliau berkata bahwa dia adalah dosen yang paling bahagia

Pada tanggal 16 Desember beliau chat saya tapi saya tidak meresponnya

Bukti chat pada tanggal 12 itu sudah terhapus karena chatnya pakai batas waktu dan sudah tidak sempat saya simpan dan ada yang sudah saya ss chat tanggal 16. Saya tidak dapat merekan waktu di mobil karena hp saya baterainya sedikit. Saya takut kalau maati dan posisi hp saya jatuh

Tujuan pengaduan ini, melalui surat ini, saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini, kalau bisa kasi sanksi kepada Mner Danny jangan dibiarkan orang seperti itu.
Dampak yang saya dapat adalah trauma dan ketakutan, saya takut bila bertemu Mner Danny, saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya turun atau naik di mobilnya, akan jadi pembicaraan.
Saya tertekan dengan masalah tersebut.

Atas perhatian dan tindak lanjut Bapak, saya ucapkan terimakasih

https://whatsapp.com/channel/0029VaGzALAEAKWCW0r6wK2t

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.