TRIBUNJOGJA.COM - Liburan ke Yogyakarta tak melulu soal kuliner dan jalan-jalan di Malioboro.
Kota budaya ini juga menawarkan beragam museum yang menyimpan cerita sejarah, tradisi, hingga perjuangan bangsa.
Mulai dari Museum Sonobudoyo, Benteng Vredeburg, Keraton Yogyakarta, Museum Kotagede, hingga Museum Perjuangan, kelimanya bisa menjadi destinasi edukatif yang cocok menemani liburan di Kota Gudeg.
Berikut 5 rekomendasi museum yang cocok temani liburan awal tahun supaya lebih bermanfaat:
Museum Sonobudoyo adalah satu di antara destinasi wajib dikunjungi saat berkunjung ke Yogyakarta.
Museum ini diresmikan pada 06 November 1935 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.
Total koleksinya saat ini mencapai 10 jenis mengenai sejarah dan budaya yang menarik. Seperti koleksi geologika, biologika, ethnografika, arkeologi, heraldika, historika, filologika, keramologika, senirupa, dan teknologika.
Pada pameran Museum Sonobudoyo, pengunjung akan dipandu oleh tour guide yang menjelaskan mengenai sejarah dari koleksi-koleksi tersebut.
Selain pameran tetapnya, Museum Sonobudoyo juga menyediakan bioskop yang memutar film-film kebudayaan hanya hari Sabtu dan Minggu.
Tak ketinggalan pentas wayang orang juga menjadi hal menarik untuk ditonton, untuk jadwalnya bisa mengikuti laman sosial media resminya.
Hal unik lainnya di Museum Sonobudoyo, pengunjung dapat menyaksikan pagelaran wayang kulit.
Pagelaran ini hanya berdurasi dua jam (pukul 20.00-22.00 WIB) dilengkapi dengan sinopsis dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
Selama pagelaran diiringi dengan alunan gamelan yang merdu.
Berikut lebih rinci terkait Museum Sonobudoyo dinukil dari website sonobudoyo.jogjaprov.go.id:
Wisatawan domestik anak-anak: 5.000
Wisatawan domestik dewasa: 10.000
Wisatawan mancanegara anak-anak: 10.000
Wisatawan mancanegara dewasa: 20.000
Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta merupakan peninggalan kolonial tertua di kota yang menawarkan lebih dari sekedar wisata sejarah.
Benteng Vredeburg ini menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi di kota Yogyakarta semenjak pemerintah kolonial Belanda masuk ke Yogykarta.
Museum ini dikelola oleh Indonesia Heritage Agency (Badan Layanan Umum–Museum dan Cagar Budaya).
Pada tanggal 23 November 1992 Museum Benteng Vredeburg diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan.
Pada Museum Benteng Vredeburg menyuguhkan narasi dan diorama-diorama sejarah yang kompleks mulai dari era Diponegoro hingga Order Baru.
Selain itu, museum ini memuat lebih dari 7.000 benda bersejarah, mulai dari peralatan rumah tangga, peralatan perang, hingga benda-benda sejarah lainnya.
Sehingga Museum Bentang Vredeburg ini menawarkan wawasan sejarah dan kebudayaan Nusantara.
Selain 5 ruang diorama sejarah, fasilitas lainnya yang tersedia yaitu ruang terbuka hijau, perpustakaan, taman bermain anak, toilet, dan mushola yang nyaman.
Berikut lebih rinci terkait Museum Benteng Vredeburg dicuplik dari website museum.kemenbud.go.id:
Senin – Kamis: 08.00-20.00 WIB
Anak-Anak Rp.10.000
Dewasa Rp.15.000
Foreigner Rp.30.000
Jumat – Minggu: 08.00-16.00 WIB
Anak-Anak Rp.15.000
Dewasa Rp.20.000
Foreigner Rp.40.000
Jumat – Minggu: 16.00-21.00 WIB
Anak-Anak Rp.20.000
Dewasa Rp.25.000
Foreigner Rp.50.000
Baca juga: 5 Museum Legendaris di Jogja yang Wajib Dikunjungi, Lengkap Harga Tiket dan Alamat
Keraton Kasultanan Yogyakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa yang masiih bernapas dan menjadi kediaman resmi Sri Sultan Hamengku Buwono beserta keluarga.
Wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung kebudayaan, adat, tradisi, seni, dan nilai filosofis Jawa yang masih terus nyala dan dilestarikan.
Keraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi tahun 1755, beberapa bulan setelah Perjanjian Giyanti terjadi.
Museum Keraton Yogyakarta ini menjadi saksi perjalanan sejarah, sosial, budaya, dan politik dari masa kerajaan hingga modern.
Museum Keraton Yogyakarta dikelola langsung oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Memasuki ruang pameran akan tersimpan berbagai koleksi bernilai tinggi, mulai dari benda pusaka keraton, gamelan, kereta kencana, busana adat sultan, senjata, miniatur, barang pecah belah, hingga arsip dan foto-foto sejarah.
Pengunjung juga dapat menyaksikan langsung aktivitas budaya seperti latihan tari klasik, karawitan, wayang golek, wayang kulit, dan upacara adat yang rutin digelar di lingkungan keraton.
Tentunya pertunjukan seni tersebut dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya.
Berikut informasi lebih lengkap Museum Keraton Yogyakarta dikutip dari website kratonjogja.id:
Wisatawan domestik anak-anak: Rp10.000
Wisatawan domestik dewasa: Rp15.000
Wisatawan mancanegara anak-anak: Rp20.000
Wisatawan mancanegara dewasa: Rp25.000
Museum Kotagede: Intro Living Museum sesuai namanya yaitu intro, sebagai pengantar dari kawasan sekitar Kotagede.
Tradisi, kebudayaan, sejarah yang masih terjaga dan lestari di Kotagede ini menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Sehingga Museum Kotagede ini menjadi titik awal pusat informasi dari kawasan bersejarah tersebut.
Intro Living Museum Kotagede menempati salah satu bangunan yang menjadi warisan budaya yaitu Rumah Kalang. Pada bangunan penuh budaya itu terdapat 40 koleksi.
Pengunjung disuguhi 4 ruang bagian yang ada di Kotagede yaitu ruang situs arkeologi dan lanskap sejarah seperti artefak, bangunan, cagar budaya, dan lainnya.
Ruang kemahiran teknologi tradisional memuat informasi mengenai peninggalan arsitektur dan kriya perak.
Ruang seni pertunjukan sastra, adat tradisi, dan kehidupan keseharian yang terdapat kesenian serta kuliner khas Kotagede seperti kipo dan waru.
Terakhir ruang pergerakan sosial kemasyarakatan yang menyajikan perkembangan organisasi sosial masyarakat Kotagede, termasuk peran komunitas tersebut dalam kemerdekaan Indonesia.
Berikut rincian lebih lengkap mengenai Museum Kotagede: Intro Living Museum dilansir dari website museum.kemenbud.go.id:
Museum Perjuangan Yogyakarta merupakan museum sejarah yang didirikan untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia, khususnya di Yogyakarta.
Khususnya pada momentum mempertahankan kemerdekaan pada masa agresi militer Belanda.
Museum ini berdiri di kawasan yang memiliki nilai historis tinggi karena Yogyakarta pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia pada tahun 1946–1949.
Kehadiran Museum Perjuangan menjadi simbol keteguhan semangat nasionalisme serta pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
Museum Perjuangan Yogyakarta diresmikan pada 23 Juni 1961 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX di pusat kota Yogyakarta.
Museum Perjuangan Yogyakarta menyuguhkan narasi sejarah perjuangan kemerdekaan melalui diorama, relief, dan koleksi benda-benda bersejarah.
Koleksi yang ditampilkan antara lain senjata tradisional dan modern, foto dokumentasi perjuangan, arsip, seragam pejuang, serta miniatur peristiwa penting seperti Serangan Umum 1 Maret 1949.
Melalui pendekatan visual dan edukatif, museum ini memberikan gambaran nyata tentang dinamika perjuangan rakyat dan peran Yogyakarta dalam sejarah Republik Indonesia.
Selain ruang pamer, museum ini juga dilengkapi dengan perpustakaan, auditorian, tempat parker luas, toilet, dan area ibadah yang memadai.
Berikut rincian mengenai Museum Perjuangan Yogyakarta dinukil dari website iha.kemenbud.go.id:
Wisatawan domestik anak-anak: Rp3.000
Wisatawan domestik dewasa: Rp5.000
Wisatawan mancanegara: Rp20.000
(MG Zahrah Suci Al Aliyah)