TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Medan - Calon istri anggota TNI, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung menangis histeris setelah sang prajurit tewas diduga dianiaya seniornya saat bertugas di perbatasan Indonesia-Papua Nugini.
Diungkap orangtua Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung anaknya telah berjanji kepada seorang wanita pujaan hatinya akan menikahinya seusai pulang dari Papua.
"Kami terkejut, saat dapat kabar meninggal itu, ada wanita datang memeluk foto dia. Rupanya teman dekatnya. Dibilangnya kalau mereka sudah mengikat janji akan menikah setelah pulang pamtas IND-PNG," ujar Zakaria Marpaung, dikutip dari TribunMedan, Jumat (2/1/2025).
Katanya, wanita itu menangis histeris didepan rumahnya sambil terisak memanggil nama Pratu Farkhan.
"Bang kenapa kau tinggalkan aku, dibilang wanita itu sambil memeluk foto anakku. Dibilangnya kalau mereka sudah berjanji akan menikah seusai pulang dari pamtas," ujarnya.
Ia juga mengaku, baru tau ternyata wanita tersebut ikut mengantar Pratu Farkhan di pelabuhan Aceh saat berangkat ke Papua.
"Aku baru tau, ternyata anak gadis ini juga datang ke Aceh saat melepas anakku di pelabuhan di Aceh," katanya sambil menitikkan air mata.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Bila melihat dari kepangkatannya, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung ini kemungkinan lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar 2023-2024.
Adapun Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) tempat Pratu Farkhan Syauqi Marpaung berdinas, merupakan satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.
Kabar duka itu pertama kali diterima Zakaria dari sepupu korban. Ia diberi tahu bahwa anaknya sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian.
Tak lama kemudian, seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi Pratu Farkhan.
"Kami dapat informasi dari sepupunya, anak kami ini sakit lalu menghangatkan badan didekat perapian, kemudian datang seniornya berpangkat sersan menanyakan, dibantunya untuk mengusulkan," jelas ayah korban, Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2026).
Namun situasi berubah. Menurut penuturan keluarga, datang senior lain berpangkat kopral yang kemudian diduga melakukan kekerasan.
Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat.
"Setelah dia tunduk taubat, lalu dia ditendang, dia melawan. Aku bangga dengan anakku ini, dia berani melawan membela nyawanya didepan seniornya berpangkat kopral," kata Zakaria dengan suara bergetar.
Sebagai orang tua, Zakaria tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai sesama prajurit TNI seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua.
"Yang aku kecewakan anakku mati di tangan sesama TNI, bukan dipucuk senjata sparatis."
"Di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI ini yang sangat kurang ajar. Tidak ada yang tidak tugas yang namanya ke Papua, mereka menyambung nyawa di sana," katanya.
Zakaria menyebut perbuatan tersebut tak bisa ditoleransi.
Alih-alih menjadi penguat dan pelindung bagi junior, senior justru diduga menjadi penyebab hilangnya nyawa anaknya.
"Belum kering makan Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Sampai kapan anak-anak ini gugur di tangan sesama seragam TNI," pungkasnya.