TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Kisaran - Kronologi tewasnya prajurit TNI Pratu Farkhan Syauqi Marpaung, yang diduga dianiaya seniornya berpangkat Kopral TNI, dibongkar ayah korban, Zakaria Marpaung.
Menurut Zakaria, putranya sempat melawan saat oknum Kopral TNI tersebut diduga melakukan tindakan penganiayaan.
Dugaan penganiayaan terhadap Pratu Farkhan itu terjadi saat ia menjalankan tugas pengamanan di perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Pratu Farkhan Syauqi Marpaung merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti Aceh. Bila melihat dari kepangkatannya, Pratu Farkhan Syauqi Marpaung ini kemungkinan lulus Sekolah Calon Tamtama (Secaba) sekitar 2023-2024.
Adapun Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti (Yonif 113/JS) tempat Pratu Farkhan Syauqi Marpaung berdinas, merupakan satuan militer TNI AD di bawah Kodam Iskandar Muda (Kodam IM) wilayah Aceh.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari Tribun-Medan.com, ayah Pratu Farkhan, Zakaria Marpaung tak menyangka anaknya, pulang dari Papua dalam keadaan tak bernyawa.
Zakaria pun menceritakan kronologi putranya tewas, berdasarkan keterangan dari sepupu korban.
Bukan gugur di medan tempur melawan musuh, melainkan diduga tewas akibat penganiayaan seniornya sendiri saat menjalankan tugas pengamanan perbatasan Indonesia–Papua Nugini.
Meski meninggal dunia, namun Zakaria sempat bangga terhadap putranya itu, lantaran sempat melawan dugaan tindakan penganiayaan yang dilakukan seniornya tersebut.
Kabar duka itu pertama kali diterima Zakaria dari sepupu korban. Ia diberi tahu bahwa anaknya sempat sakit dan menghangatkan badan di dekat perapian.
Tak lama kemudian, seorang senior berpangkat sersan datang menanyakan kondisi Pratu Farkhan.
"Kami dapat informasi dari sepupunya, anak kami ini sakit lalu menghangatkan badan didekat perapian, kemudian datang seniornya berpangkat sersan menanyakan, dibantunya untuk mengusulkan," jelas ayah korban, Zakaria Marpaung, Jumat (2/1/2026).
Namun situasi berubah. Menurut penuturan keluarga, datang senior lain berpangkat kopral yang kemudian diduga melakukan kekerasan.
Pratu Farkhan dipukul menggunakan ranting dan dipaksa melakukan sikap tobat.
"Setelah dia tunduk taubat, lalu dia ditendang, dia melawan. Aku bangga dengan anakku ini, dia berani melawan membela nyawanya didepan seniornya berpangkat kopral," kata Zakaria dengan suara bergetar.
Baca juga: Pratu Farkhan Tewas Saat Tugas ke Papua, Ayah Korban: Anakku Mati di Tangan Sesama TNI
Sebagai orang tua, Zakaria tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai sesama prajurit TNI seharusnya saling menjaga, terlebih saat bertugas di wilayah rawan seperti Papua.
"Yang aku kecewakan anakku mati di tangan sesama TNI, bukan dipucuk senjata sparatis."
"Di bawah tangan dan kaki seorang Kopral TNI ini yang sangat kurang ajar. Tidak ada yang tidak tugas yang namanya ke Papua, mereka menyambung nyawa di sana," katanya.
Zakaria menyebut perbuatan tersebut tak bisa ditoleransi.
Alih-alih menjadi penguat dan pelindung bagi junior, senior justru diduga menjadi penyebab hilangnya nyawa anaknya.
"Belum kering makan Prada Lucky, kini masuk lagi makam Pratu Farkhan Syauqi Marpaung. Sampai kapan anak-anak ini gugur di tangan sesama seragam TNI," pungkasnya.
Tangis Marsinah, ibu Pratu Farkhan, anggota TNI yang meninggal dunia saat bertugas di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini pecah saat menceritakan tentang sang anak.
Sang ibu tampak tak kuasa menahan duka, tubuhnya sedikit terkulai dengan kepala mendongak ke atas, mulut terbuka lebar seolah meluapkan ratapan yang tertahan.
Air mata dan jeritan kesedihan menyatu dalam ekspresi wajahnya yang menggambarkan kehilangan paling dalam seorang ibu terhadap anaknya.
Dengan kedua tangan, ia mendekap erat bingkai foto Pratu Farkhan, potret sang anak mengenakan seragam loreng TNI seolah tak ingin melepaskan kenangan terakhir.
Pelukan pada foto itu menjadi simbol ikatan batin yang terputus secara tragis, sekaligus penyangga di tengah ambruknya perasaan.
Setiap tarikan napasnya tampak berat, menggambarkan amarah, pilu, dan ketidakpercayaan atas kepergian sang anak.
"Dia menelpon saya sebelum meninggal itu, dibilangnya Tuah sakit mak, kayanya tipes atau malaria. Tapi tuah baik-baik aja di sini Mak," ujar Ibu Pratu Farkhan, Marsinah Wati Silalahi, Jumat (2/1/2026).
"Tapi anakku tetap aja dipukul dianiaya sama kopral itu. Tak percaya orang itu, anakku sakit," katanya sambil tubuh terkulai tak berdaya.
Marsinah tidak menyangka bahwa anaknya telah meninggal dunia dalam tugas yang bukan lain diduga di tangan seniornya sendiri.