TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Jumlah Kunjungan wisatawan ke Jateng selama periode liburan natal dan tahun baru (Nataru) 2025/2026 naik tipis dari periode sama tahun lalu.
Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng mencatat selama periode 20 Desember 2025 sampai dengan 1 Januari 2026 sebanyak 3,89 juta wisatawan mengunjungi provinsi ini.
Angka itu naik 1,8 persen dari periode sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 3,82 juta.
"Dibanding realisasi periode yang sama pada libur nataru tahun 2024/2025 ini mengalami kenaikan sebesar 1,89 persen," kata Kepala Disporapar Jateng, Muhamad Masrofi, kepada Tribun Jateng, di kantornya, Jalan Ki Mangunsarkoro, Semarang Tengah, Jumat (2/1).
Ia membantah kenaikan tipis kunjungan pariwisata itu karena larangan pesta kembang api.
Menurutnya, pelarangan itu hanya mengubah pola perayaan tahun baru, tapi tidak menghentikan pergerakan pariwisata.
Ia mencontohkan, di Simpanglima Kota Semarang tetap ramai meskipun tidak ada perayaan kembang api melainkan diganti dengan doa bersama.
"Jadi keramaian kota tetap hidup lewat format alternatif yang lainnya," ujarnya.
Namun, Masrofi sepakat soal perbedaan jumlah wisatawan saat Natal dan tahun baru. Ia menilai, jumlah kunjungan wisatawan ke Jateng ditopang saat momen liburan Natal.
Kunjungan pada saat itu lebih ramai karena Natal ada cuti bersama. Sebaliknya, malam tahun baru tidak ada cuti bersama.
"Sehingga tentu saja kunjungan okupansi hotel agak menurun. Itu saja sih. Tapi kan menurunnya enggak signifikan," bebernya.
Ia pun memprediksi kunjungan wisatawan akan terus naik sampai Minggu (4/1), dengan jumlah yang akan mencapai angka 4,3 juta sampai 4,5 juta wisatawan. "Jadi jumlah wisatawan belum final, masih menunggu sampai akhir pekan," tukasnya.
Adapun, Disporapar Jateng mencatat 10 tempat wisata yang paling banyak dikunjungi wisatawan selama libut Nataru 2025/2026. Deretan destinasi wisata yang menjadi favorit wisatawan itu mayoritas didominasi wisata religi dan sejarah.
Ia merinci, 10 destinasi favorit di Jateng meliputi wisata sejarah Kota Lama Semarang dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 461.197 orang, Masjid Agung Demak 298.315 orang, Makam Sunan Kalijaga Demak 272.368 orang.
Kemudian, Taman wisata Candi Prambanan Klaten 232.983 orang, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Surakarta 167.524 orang, Candi Borobudur Magelang 146.860 orang, dan Kawasan Dieng Banjarnegara 136.643 orang.
Tempat wisata berikutnya Pantai Karangjahe Rembang 111.171 orang, Gedung Lawang Sewu Kota Semarang 108.522 orang, dan Owabong Water Park Purbalingga 113.467 orang.
Untuk kota paling banyak dikunjungi yakni Kota Semarang mencapai 677.982 orang, Klaten 562.906 orang, Demak 523.525 orang, Rembang 334.271 orangm, dan Surakarta 300.751.
"Semua tempat wisata itu memiliki keunggulan masing-masing, tapi yang masih menjadi favorit itu wisata sejarah dan religi," terangnya.
Masrofi menyebut, tempat wisata tersebut menjadi favorit kunjungan wisatawan karena pengelolaan dan daya tarik tempat tersebut, seperti Kota Lama yang secara tiketing gratis.
Pengunjung hanya perlu membayar parkir dan biaya tambahan ketika ingin memanfaatkan jasa wisata di tempat itu seperti jasa foto dan pameran.
Ia berujar, peningkatan kunjungan wisata itu tidak lepas pula dari imbauan kepada para pengusaha pariwisata, di antaranya dengan memberikan pelayanan prima kepada semua jenis usaha pariwisata baik dari akomodasi, transportasi, makanan, minuman, dan daya tarik wisata.
Selain itu, dia menambahkan, pengusaha wisata melakukan pembenahan terhadap lokasi-lokasi destinasi pariwisata. Kemudian menambahkan penyelenggaraan event yang berlokasi di masing-masing usaha pariwisata.
"Kami juga meminta pengusaha pariwisata dan asosiasi hotel untuk memberikan promosi wisata, jadi semua kerja kolaborasi," paparnya.
Lepas dari 10 tempat wisata favorit itu, Masrofi mengungkap ada sejumlah destinasi baru yang menyedot wisatawan di antaranya Benteng Fort Willem I, atau lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Namun, ia belum mendapatkan data jumlah kunjungan wisatawan di objek wisata tersebut secara detail. "Kami terus promosikan tempat wisata tersebut agar semakin dikunjungi wisatawan," tuturnya. (Iwan Arifianto)