TRIBUNNEWS.COM – Angkatan Udara Amerika Serikat terus melanjutkan rencana peningkatan besar-besaran terhadap jet tempur silumannya, F-22 Raptor, sebagai bagian dari upaya mempertahankan keunggulan udara hingga dekade 2030-an.
Langkah ini diambil seiring meningkatnya tantangan strategis dari negara pesaing dan bertujuan menjaga relevansi operasional F-22, lebih dari tiga dekade sejak pesawat tersebut pertama kali dirancang.
Bahkan, dalam sejumlah laporan, varian hasil modernisasi ini mulai dijuluki sebagai “F-22 Super.”
Mengutip 19FortyFive, rencana tersebut dikonfirmasi dalam proposal anggaran Angkatan Udara AS untuk Tahun Fiskal 2026, yang mengalokasikan dana khusus bagi program peningkatan kelayakan tempur F-22.
Program tersebut mencakup serangkaian pembaruan pada sensor, sistem pertahanan, serta kapabilitas peperangan elektronik pesawat.
Inti dari program peningkatan ini adalah integrasi Infrared Defensive System (IRDS), yakni sistem sensor inframerah tertanam yang dirancang untuk mendeteksi ancaman dan melacak pesawat musuh secara lebih efektif di wilayah udara yang semakin diperebutkan.
Paket modernisasi juga mencakup peningkatan radar, kemampuan siluman, serta sistem peperangan elektronik guna menghadapi perkembangan pesat teknologi pertahanan udara milik China dan Rusia.
Namun, rencana tersebut juga memicu kembali perdebatan mengenai kelayakan investasi besar pada pesawat tua yang dikembangkan pada era Perang Dingin.
Baca juga: China Temukan Pembeli Baru untuk Jet Tempur JF-17 Thunder
F-22 Raptor mulai beroperasi pada pertengahan 2000-an setelah dikembangkan sejak awal 1990-an.
Pesawat ini menjadi jet tempur generasi kelima pertama yang menggabungkan teknologi siluman, kemampuan supercruise, dan sistem sensor terintegrasi.
Meski demikian, kemajuan pesat teknologi militer dalam dua dekade terakhir membuat sejumlah negara, khususnya China dan Rusia, mengembangkan sistem pertahanan udara canggih yang berpotensi mengurangi keunggulan Raptor.
Sebagai balasan, Angkatan Udara AS bersama industri pertahanan terus memperbarui sistem avionik dan sensor F-22 agar tetap relevan di medan tempur modern.
Meski peningkatan tersebut dinilai penting, para analis menyoroti sejumlah tantangan besar, terutama dari sisi biaya dan keberlanjutan.
Struktur dasar F-22 membatasi sejauh mana peningkatan dapat dilakukan, sehingga investasi tambahan berpotensi menghasilkan keuntungan yang semakin menurun.
Selain itu, pendanaan besar untuk modernisasi F-22 berpotensi mengurangi anggaran bagi program pesawat tempur generasi berikutnya, termasuk proyek Next Generation Air Dominance (NGAD), yang tujuan awalnya untuk menggantikan F-22.
Nantinya, produk utama dari NGAD adalah F-47, pesawat tempur generasi keenam.
Pesawat tempur generasi keenam F-47 saat ini tengah dikembangkan oleh Boeing dan diperkirakan akan melakukan penerbangan perdananya pada 2028.
Hal itu disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara Amerika Serikat, Jenderal David Allvin, pada September 2025, sebagaimana dikutip dari Defense News.
Allvin menyatakan bahwa tim Boeing bergerak cepat dalam proses pengembangan pesawat tersebut sejak kontrak resmi diumumkan pada Maret 2025.
“Ini adalah platform yang, bersama dengan sistem pendukung lainnya, akan memastikan dominasi udara di masa depan,” ujar Allvin.
Ia menambahkan bahwa dalam beberapa bulan sejak pengumuman proyek tersebut, Boeing telah memulai pembangunan prototipe awal.
“Kami bergerak cepat. Kami harus bergerak cepat,” tegasnya.
Meski detail teknis masih dirahasiakan, F-47 diproyeksikan menjadi pesawat tempur generasi keenam dengan kemampuan siluman tingkat lanjut, sistem persenjataan canggih, serta integrasi dengan wahana nirawak atau collaborative combat aircraft.
Pada Mei 2025, Allvin mengunggah grafik yang menunjukkan bahwa F-47 dirancang memiliki radius tempur lebih dari 1.000 mil laut dan mampu melaju dengan kecepatan melebihi Mach 2, atau sekitar 1.500 mil per jam.
Dalam unggahan tersebut, ia juga menyebutkan bahwa Angkatan Udara AS berencana membeli setidaknya 185 unit F-47, jumlah yang sebanding, bahkan berpotensi melampaui, armada F-22 saat ini.
Menurut Allvin, keberadaan F-47 akan menjadi elemen kunci dalam menjaga keunggulan udara Amerika Serikat di masa depan.
“Tidak cukup hanya mampu menyerang,” katanya.
“Anda harus mampu membuat musuh memahami bahwa Anda mampu mengalahkan mereka.”
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)