Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM KUPANG - Wakil Gubernur NTTJohni Asadoma, mengajak masyarakat mengurangi kebiasaan mengonsumsi siri pinang, rokok, minuman keras (miras), hingga judi online.
Menurutnya, kebiasaan tersebut memberi dampak langsung terhadap kondisi ekonomi keluarga, kesehatan, serta masih tingginya angka stunting di wilayah NTT.
Johni mengatakan, pesan itu kerap ia sampaikan setiap kali bertemu masyarakat. Ia menilai, pengeluaran harian warga untuk pinang, rokok, dan miras tergolong besar dan berpotensi menggerus pendapatan rumah tangga.
“Tiga hal ini selalu saya sampaikan. Karena setiap hari pasti ada pengeluaran sekitar Rp 50 ribu untuk pinang, rokok, dan miras. Itu belum termasuk judi online,” kata Johni, Jumat (2/12/2026) di Kupang.
Johni Asadoma mendorong masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam mengelola keuangan rumah tangga. Ia menilai, uang yang selama ini dihabiskan untuk kebiasaan tersebut seharusnya dialihkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak.
“Bayangkan Rp 50 ribu itu dipakai untuk beli makan anak. Setiap hari Rp 10 ribu untuk telur, masih sisa Rp 40 ribu untuk daging, ikan, dan sayur,” kata dia.
Purnawirawan Polri itu menyebut, jika pola pikir tersebut ditanamkan secara konsisten, maka dalam satu hingga dua tahun ke depan akan terlihat perubahan perilaku di tengah masyarakat.
“Kalau mindset ini kita tanamkan, pasti akan ada perubahan. Kita tidak boleh pesimis selama rencana kita itu baik,” tegasnya.
Mantan Kapolda NTT ini juga menyinggung besarnya perputaran uang untuk pembelian pinang yang disebutnya mencapai Rp 1 triliun. Angka itu dinilai sangat besar dan seharusnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih produktif.
“Pembelian pinang yang mencapai Rp 1 triliun itu bisa kita kurangi. Uangnya bisa dipakai untuk keperluan masyarakat,” ujarnya.
Johni Asadoma menilai, tingginya angka stunting di NTT tidak terlepas dari kebiasaan orang tua yang lebih memprioritaskan rokok, pinang, dan miras dibandingkan pemenuhan gizi anak.
“Kalau uang dipakai untuk rokok, pinang, dan miras, wajar kalau anak-anak NTT masih banyak yang stunting,” katanya.
Ia menegaskan, konsumsi rokok dan miras berdampak buruk bagi kesehatan anak, bahkan sejak masih berada dalam kandungan.
Johni Asadoma mengakui, perubahan kebiasaan di masyarakat kerap memunculkan penolakan. Namun, ia meminta para orang tua berani berkorban demi masa depan anak-anak mereka.
“Bapa mau anak sehat dan punya masa depan atau tidak? Atau mau anak tidak sehat dan stunting?” kata dia.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai kunci masa depan NTT dan Indonesia.
“Sekaya apa pun kita, kalau SDM-nya kurang, kita akan dijajah bangsa lain. Tapi kalau generasi kita pintar, bangsa ini akan terbangun dengan baik,” katanya.
Selain aspek ekonomi dan kesehatan, Johni juga menyoroti kebiasaan menyembur pinang sembarangan yang dinilai mengganggu kebersihan lingkungan dan berpotensi menimbulkan penyakit.
“Banyak masyarakat makan pinang lalu sembur di mana-mana. Ini kumal dan menimbulkan penyakit,” kata Johni. (fan)