TRIBUNBANYUMAS.COM, PURBALINGGA — Viralnya temuan batuan presisi di kawasan Igir Karem, Desa Karangjambu, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, memantik perhatian publik.
Bentuk batu yang tampak simetris dan tersusun rapi memunculkan beragam spekulasi, mulai dari situs purbakala hingga peninggalan peradaban kuno.
Menanggapi fenomena tersebut, pemerhati sejarah dan alam wisata sekaligus Kepala Bagian Perekonomian dan SDA Setda Purbalingga, Gunanto Eko Saputro menilai, kemunculan batuan seperti di Igir Karem sejatinya bisa dijelaskan melalui dua sudut pandang keilmuan, yakni geologi dan arkeologi.
Menurutnya, alam memiliki kemampuan membentuk batuan dengan struktur presisi tanpa campur tangan manusia.
Contohnya, bisa ditemukan di berbagai belahan dunia, seperti di Giant's Causeway Irlandia atau batuan bahari di Purworejo, yang secara alami membentuk kolom-kolom simetris.
"Gunung Padang saja, material batunya bukan hasil karya manusia tapi hasil karya alam. Namun, kemudian disusun menjadi sebuah bangunan."
"Artinya, batu presisi itu bisa saja terbentuk secara alami," katanya saat dijumpai Tribunbanyumas.com di Purbalingga, Senin (5/1/2026).
Baca juga: Misteri Penemuan Igir Karem Purbalingga, Bekas Bangunan Peradaban Purba?
Batuan presisi di wilayah Kabupaten Purbalingga sendiri dapat ditemukan di berbagai daerah, semisal di Panusupan dan Ponjen.
Melihat hal ini, batuan Igir Karem sangat dimungkinkan terbentuk melalui proses geologis.
Di Ponjen misalnya, fenomena columnar joint dikenal sebagai bentukan alami dari lava yang membeku.
Sementara, di Igir Karem, berdasarkan diskusi dengan Dr Siswandi Kastari, geolog Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), formasi tersebut bisa saja terbentuk dari proses turbidit.
Namun demikian, Gunanto menegaskan bahwa sebuah temuan geologis dapat berubah status menjadi temuan arkeologis apabila terdapat sentuhan peradaban manusia.
"Ketika batu-batu itu dipindah, disusun atau dimanfaatkan menjadi punden berundak, dolmen, atau menulis misalnya sebagai sarana ritual bagi masyarakat pada masa lalu, maka statusnya dapat berubah menjadi temuan arkeologis," jelasnya.
Ia mencontohkan, keberadaan menhir di Desa Dagan.
Sejatinya, batu tersebut merupakan batuan biasa tetapi karena didirikan tegak dan digunakan sebagai sarana pemujaan, batuan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya.
Begitu pula dolmen di Bocari, batu tersebut difungsikan sebagai meja ritual sehingga memiliki nilai arkeologis.
Lebih lanjut, Gunanto menilai, kawasan Igir Karem berada dalam lanskap geologi yang sangat tua.
Menurutnya, kemungkinan besar Purbalingga telah mengalami aktivitas vulkanik dari ratusan bahkan ribuan tahun lalu, entah dari Gunung Slamet Purba atau gunung api lainnya.
"Letusan tersebut membentuk material lava beku yang kemudian terperangkap dan membentuk struktur batuan seperti yang kita lihat sekarang," katanya.
Dengan kondisi tersebut, ia menyimpulkan, batuan Igir Karem bisa saja murni temuan geologis namun juga tidak menutupi kemungkinan adanya unsur arkeologis, jika kelak ditemukan adanya bukti pemanfaatan oleh manusia purba.
Karenanya, Gunanto menekankan pentingnya melakukan justifikasi ilmiah melalui penelitian mendalam.
Gunanto telah menghubungi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan melalui Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) agar segera dilakukan kajian.
"Batuan itu sebenarnya sudah lama ada. Tapi karena viral di media sosial, akhirnya terangkat kembali dan diusulkan untuk diteliti," ujarnya.
Sembari menunggu penelitian, Gunanto berharap, viralnya Igir Karem dapat dimaknai secara positif, yakni sebagai peluang pengembangan wisata alam, sejarah hingga geologi di Karangjambu.
Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi besar, baik disisi pemandangan, kepastian hutan ataupun nilai ilmiahnya sehingga harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik.
Gunanto juga mengingatkan agar pengelolaan kawasan tersebut dapat dilakukan secara bijak, mengingat lahan tersebut merupakan kawasan milik Perhutani.
Maka, segala bentuk pengelolaan haruslah melalui kerja sama yang resmi.
"Yang utama, dijaga dulu. Kalau mau dikelola, silakan kerja sama dengan Perhutani."
"Bisa juga dibentuk Pokdarwis, atau pemandu, lalu kalau ada pengunjung yang datang bisa dikasih pemahaman ke mereka terkait batuan tersebut," jelasnya.
Baca juga: Bermodalkan HP, Pemuda Purbalingga Berburu Kelemahan Sistem Digital Hingga Diapresiasi NASA
Selain itu, pihaknya juga menyoroti pentingnya viralitas sebagai sarana dokumentasi dan perlindungan.
Ia mengatakan, sebelumnya, banyak temuan arkeologis yang tecatat namun kini justru hilang sebelum banyak orang mengetahui.
"Saya pernah menemukan catatan arca di Kaligondang dalam arsip Belanda, dulu ada, sekarang sudah hilang."
"Belum sempat ditetapkan malah sudah diambil oknum."
"Makanya, kalau sekarang di dokumentasikan dan diviralkan, setidaknya orang tau dan ikut menjaga," ujarnya.
Meski memiliki sisi positif, ia juga mengingatkan dampak negatif dari viralitas yang tidak diimbangi dengan penanganan yang tepat.
"Harapan saya, kalaupun bisa dijadikan wisata, biarkan tetap alami saja."
"Tracking biasa saja, dan jangan terlalu banyak intervensi di lokasi yang justru merusak kealamian kawasan," tegasnya. (*)