TRIBUNJATIM.COM - Wandi, remaja berusia 17 tahun di Tasikmalaya, Jawa Barat jalan kaki sepanjang 69 kilometer menuju pantai di Pangandaran.
Ia nekat karena ingin melihat laut. Orangtua tidak memiliki uang untuk mengajaknya liburan.
Wandi diketahui merupakan remaja hanya lulusan sekolah dasar.
Ia merupakan warga Dusun Pasanggrahan, Desa Neglasari, Kecamatan Pancatengah, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.
Awal hal ini terungkap yakni pada Jumat (2/1/2026) dinihari pukul 01.00 WIB.
Kanitreskrim Polsek Cijulang, Pangandaran, Bripka Zera Janwara sedang berada di depan Masjid Agung Al Hikmah, Kecamatan Parigi.
Dia sedang mengetik laporan sepulang bertugas dari Polsek Cijulang Kecamatan Parigi letaknya bertetangga dengan Kecamatan Cijulang. Dua kecamatan ini berada di barat Pantai Pangandaran.
"Saya dihubungi masyarakat setempat, namanya Pak Nanang. Dia melapor telah menemukan anak di bawah umur atas nama Wandi, di Masjid Agung Al Hikmah," kata Zera melalui pesan WhatsApp kepada Kompas.com, Selasa (6/1/2026).
Oleh warga, Wandi dibawa ke pos ronda, tak jauh dari masjid agung. Zera bergegas menemui remaja tersebut di pos ronda.
Zera kemudian bertanya kepada anak itu ihwal asal muasal tempat tinggalnya. Wandi mengatakan berasal dari Tasikmalaya.
"Anak itu mengaku berangkat dari rumah pada Kamis 1 Januari 2026, sekitar pukul 12.30 WIB," kata Zera.
Baca juga: Warga Jalan Kaki 1 KM di Tol Cipali Setelah Ingat Tinggalkan Ponsel di Rest Area, Pasrah saat Balik
Perjalanan nekat Wandi dimulai sepulang mengaji di masjid dekat rumahnya.
Dengan mengenakan baju gamis warna hitam dan bekal Rp 10 ribu, remaja itu mulai menyusuri jalanan dari Pancatengah ke arah Pangandaran.
"Memakai baju gamis, dan sandal jepit beda warna yang sudah rusak," kata Zera.
Dia bertanya kenapa Wandi tidak bepergian dengan keluarga, dan malah berjalan kaki.
Remaja itu menjawab, orang tuanya tidak mempunyai uang untuk sekadar mengajaknya berlibur ke pantai.
"Karena tidak punya uang, sehingga tidak bisa mengantar atau memenuhi keinginan Wandi bermain dan melihat laut," kata Zera.
Malam itu, masyarakat menyerahkan Wandi kepada Bripka Zera.
Sesaat kemudian, Zera menghubungi warga Cijulang yang mengetahui alamat kampung asal Wandi.
Setelah diketahui alamat rumahnya, Zera dan Wandi berangkat ke Cijulang menemui warga tersebut.
Di perjalanan menuju Cijulang, Zera mengajak makan kepada Wandi.
Namun remaja tersebut menolaknya, dengan alasan telah diberi makan oleh warga di sekitar Masjid Agung Al Hikmah Parigi.
Warga yang tahu alamat Wandi kemudian menghubungi rekannya. Ternyata rekannya itu adalah tetangga Wandi di Pancatengah.
Karena malam semakin larut, kemudian Wandi juga terlihat sangat lelah, Zera membawa anak itu ke Polsek Cijulang untuk beristirahat.
Wandi kemudian rebahan di kursi sofa dan diberikan bantal oleh Zera.
Keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB, Zera melihat Wandi masih terlelap.
Namun satu jam kemudian, anak itu sudah tidak ada di sofa tempat istirahatnya.
Setelah dicari, Zera menemukan Wandi yang sedang melihat kendaraan yang berlalu lalang di perempatan lampu merah Cijulang.
"Saya ajak dia makan, namun ditolak. Anak itu telah diberi makan oleh pemilik warung makan di pinggir Polsek," kata Zera.
Baca juga: Petani Korban Banjir Capek Jalan Kaki Bawa Cabai ke Luar Kota Agar Terjual, Berharap Tak Digusur
Dia membawa Wandi kembali ke mapolsek. Zera kemudian bertanya tentang sekolah dan keseharian Wandi di rumah.
Wandi mengaku hanya lulusan sekolah dasar.
Ia tidak melanjutkan sekolah ke SMP karena merasa kasihan kepada orang tuanya yang tidak mempunyai uang untuk biaya sekolah.
"Keseharian Wandi membantu keluarganya memberi pakan ikan di kolam milik saudaranya. Dia juga membantu masyarakat di sawah, membantu cuci piring di tempat hajatan warga," kata Zera.
Wandi memberikan uang hasil jerih payahnya itu kepada orang tuanya. "Untuk membantu orang tua," ujar Zera.
Saat Wandi berada di mapolsek, ada warga yang merasa iba. Warga memberikan pakaian kepada remaja tersebut.
Zera juga memberikan celana kepada Wani. Dia menyuruh Wandi untuk mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian baru.
Sekitar pukul 10.00 WIB, Bripka Zera Janwara, Brigadir Andri Anggara, dan Bripda Agus Asri Muldani mewujudkan keinginan Wandi untuk bermain dan melihat pantai.
Baca juga: Warga Bangsring Tahan Bus Wisawatan Surabaya karena Tak Bayar Rp 150 Ribu, Lansia Diminta Jalan Kaki
Tiga anggota kepolisian dari Polsek Cijulang ini mengajak Wandi ke Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, dengan kendaraan dinas. Saat itu, Wandi merasa senang.
"Wandi bermain air dengan diawasi anggota Polsek," kata Zera.
Karena hari sudah siang, mendekati adan duhur, Zera membawa Wandi pulang ke mapolsek.
Tak lama setelah beristirahat di mapolsek, sekitar pukul 13.30 WIB, Zera kembali mengantar Wandi menikmati Pantai Batukaras.
"Wandi sangat ingin berenang. Tiba di pantai langsung berenang," kata Zera.
Sekitar pukul 16.15 WIB, pegawai harian lepas (PHL) Polsek menghubungi Zera bahwa keluarga Wandi sudah tiba di mapolsek untuk menjemput anaknya.
"Kami pulang ke Polsek," kata Zera.
Ketika dalam perjalanan menuju mapolsek, Wandi berkata sangat bersyukur bertemu polisi baik.
Remaja itu merasa diangkat derajatnya, merasa seperti anak raja karena bisa bermain, berenang, dan melihat laut diantar Pak Polisi.
Sesampainya di mapolsek, Zera langsung menyerahkan Wandi kepada pihak keluarga.