TRIBUNJAMBI.COM -Polres Pelabuhan Belawan mengamankan tiga orang yang diduga berkaitan dengan insiden peluru nyasar yang melukai seorang anak balita di kawasan Medan Belawan.
Ketiga orang tersebut diamankan oleh Satuan Reserse Kriminal karena diduga terlibat dalam aksi tawuran yang terjadi di wilayah tersebut.
Pelaksana harian Kapolres Pelabuhan Belawan AKBP Wahyudi Rahman menyampaikan bahwa proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan peran masing-masing terduga pelaku.
Pihak kepolisian belum memastikan siapa di antara mereka yang menggunakan senjata api hingga menyebabkan seorang anak terluka.
“Sudah ada tiga orang yang diamankan terkait tawuran dan saat ini masih dilakukan pendalaman mengenai siapa yang memegang senjata,” ujar AKBP Wahyudi Rahman, Rabu (7/1/2026).
Kasus ini bermula dari peristiwa yang menimpa Asmi Anggraini (4), warga Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan.
Anak tersebut harus menjalani perawatan intensif setelah mengalami luka tembak di bagian mata kanan.
Peristiwa itu diduga terjadi saat bentrokan antarkelompok berlangsung di kawasan Medan Belawan pada Senin (5/1/2026).
Saat dirawat di Rumah Sakit Pirngadi Medan, Asmi terlihat masih dalam kondisi lemah.
Mata kanan korban tertutup perban akibat luka yang dideritanya.
Infus tampak terpasang di tangan kiri anak tersebut sebagai bagian dari perawatan medis.
Ibu korban, Romanda Siregar (33), terus mendampingi anaknya sejak kejadian tersebut.
Romanda menceritakan bahwa peristiwa itu terjadi ketika dirinya bersama anaknya hendak menjemput sang suami yang bekerja sebagai nelayan.
Pada Senin malam sekitar pukul 19.30 WIB, mereka berangkat dari rumah menggunakan becak motor.
Di tengah perjalanan, laju kendaraan terhenti karena adanya sekelompok orang yang terlibat tawuran di sekitar Jalan Medan–Belawan.
Melihat situasi yang tidak aman, mereka memilih berhenti dan menunggu hingga keadaan memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
“Awalnya kami mau keluar rumah pergi menjemput bapaknya menaiki becak motor, tahu-tahu ada perang. Jadi, kami menunggu la di simpang Canang,” kata Romanda, Selasa (6/1/2026).
Dalam kondisi menunggu tersebut, Asmi tiba-tiba mengeluh kesakitan sambil memegang mata kanannya.
Romanda kemudian menyadari darah keluar dari mata anaknya dan mengenai pakaian yang dikenakan.
Ia segera berusaha mencari bantuan medis dengan meminta pengemudi becak menuju rumah sakit terdekat.
Namun, akses jalan menuju rumah sakit terhambat karena tawuran masih berlangsung.
Mereka sempat singgah di sebuah klinik, tetapi pihak medis tidak dapat melakukan penanganan karena luka berada di area mata.
“Karena klinik pun gak berani dan disarankan ke rumah sakit,” ujar Romanda.
Setelah itu, Romanda kembali berupaya membawa anaknya ke rumah sakit meski kondisi jalan belum sepenuhnya aman.
Ia bahkan harus menggendong anaknya turun dari becak demi mendapatkan pertolongan medis.
Upaya tersebut sempat terkendala karena dokter mata tidak tersedia di rumah sakit yang didatangi.
Romanda kemudian mencari tumpangan kendaraan untuk menuju Rumah Sakit Pirngadi Medan.
Setibanya di rumah sakit tersebut, tim medis langsung melakukan pemeriksaan menyeluruh.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya proyektil peluru yang bersarang di mata kanan korban.
“Bingung mau bagaimana ini. Anak gak rewel. Cuma kadang dia kedip darah mengucur, sakit,” kata Romanda.
Sementara itu, pihak kepolisian masih terus mendalami kasus tersebut untuk mengungkap asal senjata api yang digunakan dalam tawuran.
Penyidik juga berupaya memastikan pihak yang bertanggung jawab atas luka yang dialami korban balita tersebut.
Baca juga: Prediksi Skor Paris Saint-Germain vs Marseille, Head-to-Head di Piala Super Prancis