Pariwisata Bangka Belitung: Terjebak Event, Lupa Destinasi
January 08, 2026 12:03 AM

Oleh: Ridho Ilahi - Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

LONJAKAN kunjungan wisatawan nusantara ke Bangka Belitung pada November 2025 tampak impresif di atas kertas. Jumlah perjalanan mencapai 373,31 ribu, melonjak 50,57 persen secara tahunan. Jumlah tamu menginap pun meningkat menjadi 59.539 orang. Namun, jika dicermati lebih dalam, angka ini memperlihatkan rapuhnya fondasi pariwisata Bangka Belitung. Kenaikan tersebut hampir sepenuhnya ditopang oleh event dan kunjungan kerja pemerintah pusat, bukan karena daya tarik destinasi yang berkelanjutan.

Indikator kunci pariwisata Bangka Belitung menunjukkan masalah struktural yang serius. Tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang hanya 29,50 persen, terendah di Sumatra. Rata-rata lama menginap (RLMT) hanya 1,52 malam dan terus menurun secara tahunan. Ini berarti wisatawan datang untuk kepentingan acara, bukan untuk menikmati destinasi. Setelah agenda selesai, wisatawan langsung pergi. Tidak ada insentif pengalaman yang mendorong mereka tinggal lebih lama.

Fenomena itu adalah contoh klasik event-dependent tourism. Pariwisata hanya hidup saat kalender kegiatan terisi. Ketika panggung dibongkar, aktivitas ekonomi ikut berhenti. Model ini menyedot anggaran besar tanpa hasil berkelanjutan. Manfaatnya terkonsentrasi pada segelintir pelaku dan lokasi. Masyarakat lokal tidak memperoleh efek pengganda ekonomi yang berarti.

Beberapa studi literatur menegaskan keberlanjutan destinasi tidak ditentukan oleh banyaknya event. Faktor penentunya adalah kualitas pengalaman yang dirasakan wisatawan. Wisatawan kembali bukan karena jadwal acara, melainkan karena pengalaman yang membekas. Mereka datang lagi ketika merasa puas dan dihargai. Keaslian destinasi menjadi daya tarik yang sesungguhnya, jauh lebih kuat ketimbang kemegahan panggung dan seremoni. Layanan yang hangat dan profesional membuat perjalanan terasa layak untuk diulang.

Narasi budaya memberi makna pada kunjungan, bukan sekadar tontonan sesaat. Kuliner lokal yang menyatu dengan pengalaman memperkuat ingatan dan cerita yang dibawa pulang. Tanpa unsur-unsur ini, kunjungan hanya singgah lalu berlalu. Event memang mampu mengundang keramaian. Namun, fondasi pariwisata yang kokoh hanya lahir dari pengalaman yang konsisten dan bernilai.

Masalah pariwisata Bangka Belitung sesungguhnya berakar pada cara kita membaca keberhasilan. Kebijakan lebih sering mengejar sorotan dan angka kunjungan, bukan ukuran yang benar-benar mencerminkan kualitas. Jumlah event dipamerkan, sementara lama tinggal dan belanja wisatawan jarang dipersoalkan. Padahal, indikator inilah yang menentukan apakah pariwisata memberi dampak. Akibatnya, aktivitas wisata terkonsentrasi di Kota Pangkalpinang. Lebih dari seratus ribu perjalanan menumpuk di kota, sementara kabupaten lain tertinggal. Padahal, wilayah-wilayah itu menyimpan pantai, geopark, dan kekayaan budaya.

Strategi konkret

Jika Bangka Belitung ingin keluar dari jebakan ini, strategi penguatan destinasi harus dilakukan secara sistemik dan berbasis data. Pertama, reposisi destinasi dari event location menjadi experience-based destination. Sudah saatnya Bangka Belitung memaknai ulang destinasi wisatanya. Daerah ini tidak cukup hanya dikenal sebagai lokasi acara, tetapi harus tumbuh sebagai ruang pengalaman. Pantai dan lanskapnya jangan lagi diperlakukan sebagai objek yang dipandang lalu ditinggalkan. Ia perlu dihidupkan sebagai cerita dan pengalaman yang bermakna.

Wisata bahari berbasis konservasi, jejak sejarah timah, kampung nelayan, hingga spiritualitas Melayu dapat menjadi benang merahnya. Ketika pengalaman dikurasi dengan baik, wisatawan merasa terlibat. Tanpa itu, pantai hanya menjadi latar swafoto sehingga tidak ada alasan bagi wisatawan untuk tinggal lebih lama.

Kedua, kuliner lokal harus dinaikkan kelasnya sebagai jangkar ekonomi pariwisata. Makanan bukan sekadar pelengkap perjalanan, namun juga pengalaman yang mudah diingat. Cita rasa autentik kuliner lokal membuat wisatawan ingin kembali. Sayangnya, wisata kuliner di Bangka Belitung masih berjalan sendiri-sendiri dan belum bercerita. 

Narasi tentang lada, laut, dan tradisi Melayu belum dirangkai sebagai kekuatan bersama. Padahal, kekayaan ini tidak dimiliki banyak daerah lain. Negara seperti Jepang dan Korea membuktikan bahwa gastronomi lokal mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan hingga 30–40 persen. Ketika kuliner dikelola serius, lama tinggal dan nilai ekonomi pariwisata ikut tumbuh.

Ketiga, manfaatkan teknologi digital untuk mengatasi keterbatasan atraksi. Teknologi digital kini membuka cara baru menikmati destinasi. Augmented reality dan virtual reality bukan lagi sekadar hiasan, tetapi jembatan pengalaman. Melalui teknologi ini, geoheritage timah dapat bercerita. Sejarah maritim dan budaya Melayu bisa dihidupkan kembali secara imersif. Wisatawan bisa merasakan makna di balik tempat yang dikunjungi. Pengalaman digital sebelum berangkat membangun rasa penasaran. Saat tiba di lokasi, ekspektasi mereka
lebih terarah.

Keempat, ubah pendekatan promosi dari kuantitas ke kualitas wisatawan. Data memperlihatkan bahwa wisatawan asing cenderung tinggal lebih lama 2,45 malam ketimbang wisatawan domestik 1,51 malam. Mereka datang tidak hanya singgah, tetapi ingin mengenal tempat secara lebih mendalam. Sayangnya, potensi ini belum digarap dengan sungguh-sungguh di Bangka Belitung.  Pasar mancanegara masih diperlakukan sebagai angka, bukan segmen dengan minat yang berbeda-beda.

Tanpa konektivitas yang memadai, wisatawan sulit menjangkau destinasi. Tanpa paket tematik, mereka tidak tahu harus berbuat apa selama berada di sini. Promosi akan kehilangan makna tanpa cerita yang mampu berbicara ke dunia internasional,. Akibatnya, anggaran besar habis tanpa dampak yang sepadan.

Kelima, integrasikan pariwisata dengan kebijakan fiskal dan pembangunan wilayah. Pariwisata seharusnya dipandang sebagai jalan baru bagi ekonomi Bangka Belitung setelah era timah meredup. Karena itu, kebijakan fiskal perlu diarahkan pada hal-hal yang membangun. Investasi amenitas yang layak membuat wisatawan nyaman tinggal lebih lama. 

Pelatihan SDM lokal memberi ruang bagi masyarakat untuk terlibat dan tumbuh bersama pariwisata. Sementara itu, penguatan UMKM destinasi memastikan manfaat ekonomi tidak berhenti di panggung acara semata.

Pariwisata Bangka Belitung sejatinya kaya potensi dan cerita. Yang masih kurang adalah keberanian untuk meninggalkan cara pandang lama. Selama pariwisata dipersempit sebagai daftar acara, manfaatnya akan selalu terbatas. Kamar hotel tetap banyak kosong meski event silih berganti. Wisatawan datang sebentar lalu pergi tanpa meninggalkan jejak ekonomi berarti. Tanpa perubahan paradigma, pariwisata sulit menjadi penggerak ekonomi lokal.

Sudah saatnya Bangka Belitung melangkah lebih jauh. Yang dibutuhkan adalah membuat wisatawan merasa betah dan ingin tinggal lebih lama. Dari rasa betah itulah keinginan untuk kembali akan tumbuh. Dari pengalaman yang berkesan, cerita baik akan menyebar dengan sendirinya. Tanpa perubahan ini, pariwisata hanya ramai di atas kertas tetapi dampaknya tidak terasa. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.