Bikin Bangga, dari Bandung, Tika Tazkya Raih Jadi Valedictorian di University of Melbourne Australia
January 08, 2026 08:29 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kerja keras bertahun-tahun membawa Tika Tazkya Nurdyawati, perempuan asal Bandung itu berdiri di podium, menyampaikan pidato di hadapan wisuda di University of Melbourne di penghujung tahun 2025.

Perempuan berusia dua puluh lima tahun ini lulus Master of International Relations dengan predikat Cum Laude (First Class Honours), nilai 86,13 setara IPK 4,0 di kampus peringkat satu Australia.

“Alhamdulillah, kemarin baru wisuda dan terpilih jadi valedictorian. Itu semacam perwakilan wisudawan yang menyampaikan pidato,” ujar Tika, saat berbincang dengan Tribunjabar.id,  Kamis (8/1/2026).

Valedictorian adalah gelar yang diberikan kepada siswa atau mahasiswa dengan prestasi akademik tertinggi dalam satu angkatan kelulusan. Dalam tradisi pendidikan, khususnya di negara-negara yang menganut sistem pendidikan Barat, valedictorian biasanya dipilih berdasarkan nilai akademik terbaik, konsistensi prestasi, serta kriteria tambahan seperti kepemimpinan dan kontribusi di lingkungan sekolah atau kampus.

Baca juga: Liburan Jadi Momen Latihan, Atlet Sepatu Roda Purwakarta Bidik Prestasi di Tahun 2026

Perempuan asal Moh Toha, Kota Bandung ini mengaku ketertarikannya pada dunia hubungan internasional bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.

Sejak duduk di bangku SMA Negeri 8 Bandung, ia sudah menaruh mimpi untuk menekuni bidang tersebut.

Jalur undangan membawanya masuk ke Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad).

Menurutnya, aktif di bidang akademik  membuka cakrawala berpikirnya.

Di Unpad, Tika mulai terekspos pada pengalaman global: konferensi internasional, kisah student exchange, dan pertemuan dengan mahasiswa dari berbagai negara. Dari sana, mimpi itu tumbuh.

“Aku mikir, oh iya, kita harus berani bermimpi besar,” katanya.

Kesempatan student exchange ke Polandia menjadi titik balik. Di sana, ia merasakan sistem pendidikan yang berbeda.  Lebih egaliter, tanpa jarak kaku antara mahasiswa dan profesor. Ia juga menemukan paradoks menarik belajar hubungan internasional justru membuatnya semakin memahami Indonesia.

“Itu yang bikin aku mikir, aku harus cari beasiswa S2 ke luar negeri,” ujarnya.

Keputusan itu bukan tanpa keraguan. Tika sempat mempertanyakan dirinya sendiri, apakah ia cukup mampu, cukup pintar, cukup layak mendapat beasiswa?.

Persiapan serius baru dimulai setelah lulus dari Unpad. Selama hampir satu tahun, ia menyiapkan semuanya, memperbaiki bahasa Inggris, mengikuti IELTS, menulis esai, meminta rekomendasi, dan menelusuri berbagai skema beasiswa baik dari pemerintah Indonesia maupun luar negeri.

Ia memilih Australia bukan hanya karena kualitas akademik, tetapi juga faktor stabilitas politik, lingkungan yang ramah bagi muslim, dan tidak adanya sentimen anti-imigran.

Baca juga: Miliki Bakat Menjanjikan di Bidang Olahraga Basket, Rafasya Sudah Banjir Prestasi di Usia 10 Tahun

"Secara geografis pun memungkinkan ia tetap pulang ke Indonesia. Tidak seperti ke Eropa, atau Amerika yang jaraknya cukup jauh dari Indonesia," kata dia.

Setelah sempat ditolak, percobaan kedua membuahkan hasil. Beasiswa Indonesia Maju membawanya ke University of Melbourne kampus nomor satu di Australia.

"Aku juga pernah gagal. Take a break kemudian terus mencoba," kata Tika.

Mimpi yang terwujud ternyata tidak serta-merta indah. Semester pertama menjadi ujian paling berat. Dia pun dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat.

“Nilai saya itu pernah 51. Dari sana berusaha untuk tetap mengejar ketertinggalan. Di perpustakaan itu bisa 10 jam sehari, membaca, menulis, review materi," tuturnya.

Tika tak menampik, kepercayaan diri yang ia bangun selama kuliah di Indonesia runtuh seketika.

 Ia sempat berpikir untuk menyerah, mempercepat studi agar bisa pulang lebih cepat ke Indonesia.

Namun setelah perasaannya mereda, Tika memilih jalan lain dengan belajar kembali dari nol.

Ia memanfaatkan sistem pendukung kampus tutor, mentor, student support dan meminta feedback dari profesor.

“Aku allowing myself to grow, to make mistakes, to fail,” katanya.

Kepercayaan diri dan semangat Tika kemudian pulih. Target barunya jelas, untuk menggarap tesis, tugas akhir mahasiswa magister.

Meski demikian, di University of Melbourne, tesis hanya bisa diambil oleh mahasiswa dengan first class honours. Dengan nilai di bawah rata-rata, mimpi itu nyaris mustahil.

Tika menuturkan, tekadnya semakin bulat untuk memperbaiki nilai.

Dikatakannya, semakin ia belajar, semakin ia sadar betapa banyak yang belum ia ketahui.

Baca juga: UKSW Panen Prestasi Nasional: Tiga Gold Winner dan Satu Penghargaan di Anugerah Diktisaintek 2025

“Justru aku bersyukur dikasih nilai 51. Supaya aku enggak merasa cukup, enggak merasa di atas awan.”

Kerja keras itu terbayar. Nilainya merangkak naik, hingga akhirnya lulus dengan capaian setara IPK 4,00.

Tantangan akademik mendorong Tika menemukan pelajaran lain yakni pentingnya rehat sejenak agar tidak burn out.

Sistem pendidikan Australia memberinya ruang untuk menjadi manusia seutuhnya bahkan dalam hal-hal yang sering dianggap remeh.

“Aku bisa bilang ke profesor kalau lagi sakit menstruasi dan minta deadline diundur. Mereka sangat akomodatif,” katanya.

Meski lelah dan putus asa dirasakannya, cara Tika menenangkan diri dengan cara sederhana, berjalan kaki di taman, mendekat ke alam, tanpa gawai. Bukan scrolling, bukan distraksi digital.

"Biasanya jalan-jalan di taman, main ke alam. Meski kita rebahan, secara kognitif, otak tetap bekerja aktif saat seseorang menggunakan media sosial. Jadi salah satu stress realese-nya mengurangi interaksi di sosial media," kata Tika.

Tika dikenal sebagai sosok yang aktif tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga dalam lingkungan sosial.

Di tengah kesibukannya menempuh pendidikan, ia tetap menunjukkan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan.

Dia  salah satu founder Muda Empati, sebuah wadah komunitas yang bergerak di bidang sosial dan berfokus pada penguatan kepedulian serta empati di tengah masyarakat.

"Karena saya saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri, saat ini memiliki keterbatasan untuk berkontribusi secara langsung. Tapi kalau rapat-rapat, bahas program masih bisa diusahakan dengan kemudahan komunikasi yang ada, seperti zoom dan lain sebagainya," jelasnya. 

Tak berhenti di sana, capaian akademiknya membuka pintu baru. Setelah lulus, Tika langsung mendapat tawaran beasiswa PhD dari University of Melbourne tanpa harus mengulang IELTS atau mencari pendanaan lagi. Kampus akan membiayai penuh studinya.

Tahun 2026 menjadi babak baru, Tika berkomitmen fokus menempuh PhD sekaligus berbagi inspirasi pendidikan melalui media digital.

Dia berharap, ruang-ruang baru yang dibukanya dapat menjadi sumber motivasi pendidikan, terutama bagi perempuan Indonesia. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.