Deru mesin motor bersahut-sahutan di luar Stasiun Cikarang, Jalan Yos Sudarso, Karang Asih, Cikarang Utara. Bukan lalu lalang pembeli pasar atau aktivitas perdagangan ruko seperti beberapa tahun silam, melainkan barisan kendaraan roda dua yang kini mendominasi sepanjang kawasan Pasar Lama Cikarang.
Di luar area resmi stasiun, ruas jalan yang dahulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang berubah wajah menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, sebagian besar tanpa atap pelindung.
Pemandangan itu kontras dengan kawasan sekitar Stasiun Bekasi yang mayoritas parkirannya sudah tertata dan beratap.
Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak yang tak kecil. Sejumlah ruko tampak tertutup rapat, catnya memudar, etalase kosong tanpa aktivitas.
Bangunan yang semula disewakan untuk berdagang kini kehilangan peminat, tersisih oleh kebutuhan praktis para pengguna commuter line yang mengutamakan kecepatan.
Pelanggan: Enggak Ribet
“Parkir di luar lebih cepat,” ujar Wati, salah satu pengguna jasa parkir, singkat.
Ia mengaku tidak berlangganan dan hanya memilih parkir di luar stasiun karena kepraktisan. “Buat hari ini saja. Enggak ribet,” katanya sebelum bergegas.
Pilihan serupa rupanya menjadi alasan utama menjamurnya parkiran di luar area stasiun. Padatnya parkir resmi, antrean keluar-masuk, hingga kebutuhan mengejar waktu keberangkatan kereta membuat parkiran informal menjadi alternatif favorit, meski minim fasilitas.
Tarif Harian Rp 6 Ribu, Kapasitas 150 Motor
Ari, salah satu juru parkir di kawasan tersebut, mengungkapkan tarif parkir relatif sama dengan area dalam stasiun. “Harian Rp 6.000, kalau nginep Rp 10.000,” jelasnya. Ia menyebut belum ada rencana kenaikan tarif di beberapa titik parkir luar stasiun.
Menurut Ari, faktor kedekatan juga berperan. “Karena sudah kenal, jadi menitip di sini. Mulut ke mulut saja. Kalau di dalam kan parkiran padat dan mereka harus berusaha sendiri. Kalau di sini asal ada tiket kita yang keluarkan. Cepat dan tidak capek buat pelanggan,” katanya.
Satu titik parkir yang dikelolanya, kapasitasnya bisa mencapai sekitar 150 unit motor. Lahan itu, kata dia, bukan miliknya. “Saya cuma kerja. Ada bosnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Fenomena parkiran luar stasiun ini perlahan membentuk ekosistem sendiri: cepat, akrab, namun nyaris tanpa perlindungan. Motor-motor terpapar panas dan hujan, sementara kawasan sekitar kian kehilangan fungsi awalnya sebagai pusat ekonomi kecil.
Di tengah geliat mobilitas penumpang yang terus meningkat, wajah Pasar Lama Cikarang seolah terjebak di persimpangan, antara kebutuhan parkir yang mendesak dan tata kota yang kian tergerus. Ruko-ruko sunyi menjadi saksi bisu ketika ruang usaha kalah oleh kebutuhan menitipkan kendaraan yang cepat, praktis, dan apa adanya.