TRIBUN-BALI.COM - Sejumlah siswa menyampaikan isi hatinya mengenai menu Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui tulisan tangan dalam secarik kertas. Tulisan tangan ini diselipkan dalam ompreng MBG usai anak-anak menikmati hidangan, yang disebut surat cinta.
Salah satunya yang diterima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Buleleng-Kampung Anyar, Kelurahan Kampung Anyar, Buleleng. Kepala SPPG Kampung Anyar, Nurul, mengatakan, pihaknya hampir setiap hari menerima lebih dari 10 surat dari para siswa.
Surat tersebut berisi isi hati para siswa. Ada yang mengucapkan berterima kasih karena makanannya enak, adapula yang request (permintaan) menu tertentu. Mulai dari seblak dan rendang, hingga mie goreng pedas.
"Adapula yang secara detail request menu nasi goreng, full daging, telur, rambutan dan susu coklat. Kemudian chicken katsu, kentang goreng dan buahnya mangga," jelasnya, Kamis (8/1).
Baca juga: ASDP Segera Carikan Solusi Pekerja Jerambah Usai Disebut Pungli, Pekerja Datangi Lurah Gilimanuk!
Baca juga: BAU Menyegat Limbah dan Cemari Lingkungan, Satpol PP Datangi Lokasi Pembuangan Limbah Bulu Ayam
Menurut Nurul, kebanyakan surat cinta yang masuk berupa request menu. Kebanyakan surat cinta datang dari siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI)/SD. Walau demikian ia tidak memungkiri adapula surat cinta yang berisi komplain. "Biasanya kalau yang komplain ini siswa SMA, karena dagingnya terlalu kecil," ucapnya.
Kendati banyak siswa request menu tertentu, pihak SPPG tetap ada pertimbangan tertentu. Pihak SPPG lebih dulu melakukan kajian bersama ahli gizi untuk memastikan kandungan nutrisi tetap terpenuhi.
"Setiap ada surat masuk, pasti kami lakukan observasi. Tidak serta-merta langsung membuat menu sesuai permintaan, karena harus disesuaikan dengan standar gizi," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Buleleng, Rusdianto. Menurutnya berbagai masukan atau request menu tetap harus disesuaikan juga dengan pagu anggaran yang tersedia, kesiapan masing-masing dapur, serta jadwal menu dan kandungan gizi yang telah ditetapkan.
"Termasuk juga ketersediaan barang. Contohnya ada yang request buah naga, kita sesuaikan apakah sedang musim atau tidak. Kalau sedang musim dan harganya murah, bisa kita turuti," ucapnya.
Menanggapi fenomena surat cinta, Rusdianto menilai ini sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang kreatif dan positif dari para siswa. Menurutnya metode ini memudahkan pihak penyelenggara dalam mendapatkan umpan balik secara langsung.
"BGN selalu menyampaikan agar saran dan masukan diterima. Sebab saran, masukan, hingga testimoni siswa dapat menjadi bahan evaluasi dalam menentukan menu, rasa, dan pilihan makanan ke depan. Soal caranya, seperti lewat ompreng ini, itu kreativitas dari siswa sendiri dan tidak terduga," tandasnya. (mer)