Digital Parenting 2026: Anak Kita Butuh Kita, Bukan Hanya WiFi
January 09, 2026 10:47 AM

Penulis : Dr. Elinda Rizkasari,S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta

Di banyak rumah hari ini, kalimat yang paling sering terdengar dari mulut anak bukan lagi, “Ayah, Ibu, temani aku bermain,” tetapi, “Ayah, password WiFi-nya apa?” Kita hidup di era ketika koneksi internet sering kali lebih dijaga daripada koneksi hati di dalam keluarga.

Memasuki tahun 2026, orang tua sibuk menyusun resolusi: menjadi lebih sehat, lebih produktif, lebih mapan secara finansial. Namun ada satu resolusi yang sering terlewat, yaitu bagaimana menjadi orang tua yang lebih hadir baik secara fisik, emosional, maupun digital bagi anak-anak kita.

Padahal di balik layar gadget anak, ada risiko yang tidak selalu terlihat: kecanduan, kesepian, perundungan daring, hingga gangguan kesehatan mental. Dunia digital memberi banyak peluang belajar, tetapi sekaligus membuka pintu pada potensi bahaya jika anak menavigasinya sendirian.

Kisah Nyata: Anak yang Terlihat Tenang, Ternyata Sedang Diserang di Dunia Maya

Sebut saja namanya Rafi, siswa kelas 6 SD. Orang tuanya bangga karena Rafi “anteng” di rumah. Ia jarang keluar bermain dan lebih sering berada di kamar bersama ponsel dan laptop. Mereka berpikir, “Syukurlah, di rumah saja. Aman.”

Hingga suatu hari wali kelas menelpon. Rafi tampak murung, nilai pelajarannya turun, dan ia sering mengeluh pusing. Setelah dibimbing dengan sabar, barulah terungkap bahwa selama beberapa bulan terakhir Rafi mengalami perundungan daring.

Ia diejek di grup gim online dan media sosial, dihina fisiknya, bahkan diancam akan dikeluarkan dari grup jika tidak menuruti teman-temannya.

Baca juga: Menguatkan Peran Komite Sekolah dan Membangun Sistem Komunikasi Sehat

Di rumah, Rafi memilih diam. Bukan karena ia tidak sayang pada orang tuanya, tetapi karena ia merasa dunia digital yang ia hadapi tidak pernah menjadi ruang diskusi di rumah.

Setiap hendak bercerita, yang ia lihat justru orang tuanya sibuk dengan ponsel masing-masing.

Orang tua merasa sudah memberikan yang terbaik: gadget, kuota, dan WiFi yang kencang. Namun ada satu hal yang luput: kehadiran yang hangat dan pendampingan yang utuh.

Apa Kata Penelitian tentang Anak dan Dunia Digital?

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa teknologi digital pada anak ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membantu anak belajar, berkreasi, dan terhubung dengan banyak orang.

Namun tanpa pendampingan yang memadai, risikonya meningkat, mulai dari paparan konten berbahaya, perundungan daring, hingga gangguan tidur dan konsentrasi.

Menariknya, riset juga menemukan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas digital anak berkorelasi dengan risiko yang lebih rendah terhadap masalah perilaku dan kesehatan mental.

Ketika orang tua berdialog tentang konten yang ditonton anak, sesekali ikut bermain gim bersama, atau memberi contoh penggunaan gawai yang sehat, anak merasa aman dan tidak berjalan sendirian di dunia maya.

Artinya, persoalannya bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada seberapa jauh orang tua hadir mendampingi.

Bukan Sekadar Mengatur Durasi Layar

Ketika muncul masalah, respons cepat yang sering dilakukan orang tua adalah membatasi durasi layar.

Pembatasan memang penting, tetapi digital parenting jauh lebih luas dari sekadar hitungan jam. Yang perlu diperhatikan adalah apa yang diakses anak, dengan siapa mereka berinteraksi, serta bagaimana mereka memaknai pengalaman digitalnya. 

Anak mungkin saja tetap berada di rumah, tetapi secara sosial ia bisa berada di tengah-tengah orang asing di ruang obrolan gim atau media sosial.

Tanpa dialog yang hangat, aturan sering terasa seperti larangan sepihak. Anak mungkin patuh di depan orang tua, tetapi diam-diam mencari cara lain di belakang. Sebaliknya, ketika orang tua membuka ruang percakapan, aturan lahir dari kesepakatan, bukan dari paksaan.

Anak Butuh Didengar, Bukan Hanya Diawasi

Banyak orang tua merasa sudah “mengawasi” anak: memeriksa ponsel, menengok riwayat pencarian, atau memasang aplikasi kontrol. Namun pengawasan tanpa kehangatan justru berpotensi menciptakan jarak.

Anak yang merasa diawasi tanpa dipahami cenderung menutup diri. Sementara anak yang merasa didengar akan lebih terbuka bercerita, termasuk saat mengalami hal yang tidak menyenangkan di dunia maya.

Di era digital ini, kemampuan berempati justru menjadi keterampilan paling penting. Anak tidak hanya membutuhkan orang tua yang paham teknologi, tetapi juga orang tua yang peka terhadap perasaan mereka.

Menyambut 2026 dengan Resolusi Digital Parenting

Tahun 2026 bisa menjadi momentum bagi keluarga untuk merumuskan resolusi bersama tentang penggunaan gawai.

Waktu tanpa gawai di rumah, misalnya saat makan malam atau menjelang tidur, dapat menjadi momen kecil yang sangat berarti. Pada saat-saat inilah percakapan mengalir, tawa muncul, dan anak merasa diperhatikan.

Orang tua juga bisa mulai memasuki dunia digital anak. Bertanya tentang gim yang mereka mainkan, konten kreator yang mereka sukai, atau tren yang sedang mereka ikuti membuat anak merasa dihargai. Dari sana, orang tua dapat memberi panduan dengan lebih bijaksana, bukan sebagai hakim, tetapi sebagai teman dialog.

Aturan penggunaan gawai sebaiknya dibangun sebagai kesepakatan keluarga. Ketika anak dilibatkan, mereka belajar tentang tanggung jawab.

Di saat yang sama, orang tua pun perlu menjadi teladan. Akan sulit meminta anak meletakkan ponsel jika orang tuanya sendiri tidak pernah lepas dari layar.

Tak kalah penting, orang tua dapat membantu anak memahami literasi digital: bagaimana menolak ajakan yang tidak nyaman, bagaimana memblokir atau melaporkan akun yang berbahaya, serta bagaimana mengelola perasaan ketika dikomentari atau diabaikan di media sosial. Pendampingan seperti ini membuat anak tidak merasa sendirian.

Koneksi Terpenting Bukan Internet, Melainkan Hati

Teknologi akan terus berkembang. Koneksi internet akan semakin cepat, aplikasi semakin canggih, dan dunia digital semakin luas.

Namun ada satu hal yang tidak berubah: kebutuhan anak untuk dicintai, didengar, dan ditemani.

WiFi yang kuat memang bisa menghubungkan anak dengan seluruh dunia. Tetapi hanya hati orang tualah yang mampu menghubungkan mereka dengan rasa aman, percaya diri, dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Memasuki 2026, marilah kita ingat: anak kita tidak hanya butuh WiFi yang stabil. Mereka butuh orang tua yang kehadirannya tidak pernah “disconnect.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.