Menyaksikan Perjuangan Batin Pahlawan Banjar, Ratu yang Pulang dengan Luka
January 09, 2026 10:52 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN- Permainan kilauan lampu yang redup dan terang di atas panggung Gedung Balairung Sari, Taman Budaya, Kalimantan Selatan membawa susana batin penonton ke masa lalu, masa-masa perjuangan Ratu Zaleha.

Di tengah panggung, sejumlah orang berdiri kaku, sebagian menunduk, sebagian lain memalingkan wajah. Di tengahnya, seorang perempuan berlutut, wajahnya menghadap penonton, matanya seolah-olah menahan luka yang tak pernah sempat disuarakan.

Malam itu, Sabtu (3/1), kisah Ratu Zaleha tak dituturkan lewat denting senjata atau pekik perlawanan. Ia hadir lewat bisik hati, lewat ketakutan, pengkhianatan, dan rasa terasing. Bahkan di tanah kelahirannya sendiri.

Pementasan Sendratasik Berkarya ke-15 garapan mahasiswa Pendidikan Seni Pertunjukan FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memilih jalan sunyi itu. Mereka mencoba menelusuri batin seorang perempuan pejuang yang lebih sering diingat karena garis darahnya, bukan pergulatan jiwanya.

Baca juga: Candamu Tidak Lucu

Baca juga: Jaksa Tuntut Mantan Bupati Tabalong Kalsel 3,5 Tahun, Terkait Kasus Dugaan Korupsi Perumda TJP

Gusti Zaleha, yang kelak dikenal sebagai Ratu Zaleha adalah bagian dari kelompok Pagustian yang dianggap berbahaya oleh kolonial Belanda. Ia berjuang di tengah kepungan, pengkhianatan, dan tekanan mental yang tak kalah kejam dari medan perang.

Ketika suaminya, Gusti Muhammad Arsyad, menyerah pada 1905 akibat pengepungan tanpa jalan keluar, Zaleha pun sampai pada titik paling rapuh dalam hidupnya. Tubuhnya melemah, jiwanya letih. Awal 1906, ia menyerahkan diri, lalu memilih mengikuti suaminya ke pengasingan di Bogor, jauh dari Banjar, jauh dari rumah.

Semua itu diterjemahkan ke atas panggung lewat gerak lambat, dialog pendek yang menusuk, serta komposisi tubuh yang menggambarkan keterasingan.

Memasuki adegan akhir, Zaleha digambarkan kembali ke Banjar, namun justru ditolak dan dicurigai oleh kawan seperjuangannya sendiri.

“Di teater ini kami tidak mengangkat perjuangan fisiknya melawan Belanda, tapi lebih ke perasaan beliau. Hati dan psikologisnya,” ujar Abdullah Samad Ilham, pimpinan produksi Sendratasik Berkarya ke-15.

Menurutnya, Ratu Zaleha adalah representasi perempuan yang selalu melibatkan hati dalam mengambil keputusan, dan justru di situlah luka paling dalam tercipta.

Panggung pun mencapai klimaks pada adegan penutup. Dibalut oleh cahaya, sosok Ratu Zaleha berdiri di depan rumah Banjar. Ia diam, tenang, tak lagi dikejar bayang-bayang masa lalu. Ia pulang. Ia diterima. Langkahnya mantap, luka-lukanya telah menemukan tempat untuk beristirahat.

Banjarmasin post/rifki soelaiman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.