40 Persen Keluarga di Paser Berisiko Stunting, DP2KBP3A Fokus Edukasi dan Pencegahan
January 09, 2026 11:09 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur mencatat sekitar 40 persen keluarga di Bumi Daya Taka tergolong sebagai keluarga berisiko stunting di tahun 2025.

Angka ini menjadi perhatian serius dalam upaya pencegahan stunting yang melibatkan berbagai pihak lintas sektor.

Kepala DP2KBP3A Kabupaten Paser, Amir Faisol, menyampaikan bahwa peran antar instansi menjadi kunci dalam penanganan stunting.

"Kita berbagi peran. Kalau data stunting itu dari Dinkes, kami lebih pada data keluarga risiko stunting dan edukasi pencegahannya melalui program keluarga berencana dan keluarga sejahtera," terang Amir, Jumat (9/1/2026).

Baca juga: Kuota Haji di Kabupaten Paser Tahun Ini Naik 3 Kali Lipat Jadi 604 Jamaah

Terdapat sejumlah indikator yang digunakan oleh DP2KBP3A Kabupaten Paser dalam mengidentifikasi keluarga risiko stunting Indikator itu meliputi:

  1. Tidak tersedianya sarana air bersih, 
  2. Tidak memiliki jamban atau WC, 
  3. Memiliki lebih dari tiga anak, 
  4. Jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, 
  5. Adanya anggota keluarga yang merokok.

"Kalau indikator-indikator ini tidak diintervensi atau tidak diberikan edukasi, maka dikhawatirkan jika ibunya hamil dan melahirkan, anak yang dilahirkan berisiko mengalami stunting," tambahnya.

Selain itu, faktor kemiskinan juga menjadi penyumbang signifikan terhadap tingginya angka stunting di daerah.

Dari hasil kajian yang ada, sambung Amir, sekitar 60 persen kasus stunting di Paser berasal dari keluarga miskin atau kurang mampu yang angkanya sejalan dengan tren nasional.

"Misalnya di Paser ada ribuan kepala keluarga miskin, maka 60 persen dari kasus stunting ada di kelompok itu. Ini menunjukkan bahwa stunting sangat erat kaitannya dengan kondisi ekonomi keluarga," ungkapnya.

Untuk itu, Ia menekankan pentingnya program peningkatan ekonomi keluarga sebagai bagian integral dari upaya pencegahan stunting.

Menurutnya, memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga akan berdampak langsung pada perbaikan gizi dan pola asuh anak.

"Peningkatan ekonomi keluarga itu sangat erat hubungannya dengan pencegahan stunting. Ini bukan hanya soal kesehatan, tapi juga soal kesejahteraan," pungkasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.