Digusur, Bertahan di Lorong, Hingga Tragedi Panti Werda Damai Manado: "Selamat Jalan Oma Adel"
January 09, 2026 12:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Airmata David Losu tumpah di atas peti jenazah ibunya Adel Losu (75) di depan ruang jenazah RS Bhayangkara Sulut, Jumat (9/1/2026).

Hari itu, jenazah Adel beserta lima penghuni Panti Werda Damai Manado lainnya diserahkan pihak

Polda Sulut pada keluarga.

David menangis menggerung - gerung, sembari itu memeluk peti jenazah ibunya.

Keluarga lainnya coba menghibur.

Namun David sulit dihibur.

Baca juga: Ini Identitas 6 Jenazah Korban Kebakaran Panti Werda Damai Manado yang Berhasil Diidentifikasi

Airmatanya terus meleleh, meski sudah tidak berada dekat peti jenazah sang ibu.

Suatu waktu David coba tegar. Ia berupaya tak menangis.

Namun tembok pertahanannya jebol saat ketemu ketua Panti Olva Sumual.

Ia memeluk ketua Panti itudan menangis di pelukannya.

David akrab dengan panitia Panti karena kerap berjumpa saat ketemu sang ibu.

Kepada Tribunmanado, David mengaku sang ibu baru sebulan berada di Panti Werda tersebut.

"Awalnya rumahnya digusur, kemudian singkat cerita ibu menghuni panti," katanya.

David mengatakan, ia datang menjenguk ibunya pada Natal 25

Desember 2025. Waktu itu sang ibu agak berbeda.

"Ia kecup pipi saya berkali kali, tak tahunya itu kecupan terakhir," katanya. 

Bertahan di Penggusuran

Kisah oma Adel Losu adalah simbol perlawanan terhadap penggusuran.

Rumahnya di Pondol digusur.

Oma yang enggan rumahnya digusur memilih bertahan di lokasi penggusuran.

Ia tinggal di lorong dengan ditemani cucunya serta beberapa warga.

Di sana, oma tidur di kursi kayu yang dilapisi kertas karton. 

Terpal yang menutupi lorong itu kadang bocor, hingga oma sakit. 

Peristiwa itu viral lantas oma dibawa tim 

Pemkot Manado ke Panti Werda. 

Sesungguhnya Oma sempat dibawa keluarga ke kediaman mereka. 

Tapi oma kembali lagi ke lorong. 

Ia beralasan tak betah karena sepi. 

Ketua Panti Olva Sumual mengatakan, oma masih kuat hingga sering membantu menyuapi lansia lainnya. 

"Ia sangat baik dan giat," katanya. 

Sebanyak enam jenazah korban kebakaran Panti Werda Damai Manado, berhasil diidentifikasi Pusdokkes Polda Sulut. 

Keenam jenazah tersebut adalah Ruslin Manembu (74), Cece Mantau (86), Jenny Tuegeh (71), Jenny Tumbelaka (70), Nurul Fitria (60) dan Adel Losu (75).

Penyerahan jenazah kepada pihak keluarga berlangsung di ruang jenazah RS Bhayangkara Manado di Kelurahan Karombasan Utara, Kecamatan Wanea, kota Manado, provinsi Sulut, Jumat (9/1/2026).

Sebanyak empat jenazah langsung dibawa pihak keluarga. 

Dua jenazah lagi nanti dibawa pada Sabtu dan 

Minggu atas permintaan keluarga.

Suasana penyerahan jenazah berlangsung penuh haru. 

Sejumlah anggota keluarga tak bisa menahan tangis melihat peti mati berisi jenazah orang tua mereka. 

Seorang pria terlihat memeluk sebuah peti jenazah sambil menangis menggerung gerung. 

Dia dihibur oleh para petugas. 

Doa singkat dilakukan sebelum jenazah dibawa ke pekuburan. 

Kabid Dokkes Polda Sulut AKBP Tasrif mengatakan, identitas enam jenazah terungkap melalui sejumlah pemeriksaan. 

"Ada ante mortem kemudian post mortem, ada pula expert dan hasil pemeriksaan  DNA dari Pusdokkes," katanya. 

Ungkap dia, pihaknya masih berupaya mengidentifikasi enam jenazah lagi. 

Keenam jenazah tersebut butuh waktu untuk bisa diidentifikasi karena DNA pembandingnya tidak vertikal atas dan bawah. 

"Jadi DNA pembandingnya ada dari kakak dan adik kandung, jadi butuh waktu lama," katanya. 

Diketahui, Panti Werda Damai terbakar pada 28 Desember 2025.

Sebanyak 17 penghuninya meninggal dunia.

Sebagian besar jenazah sudah terbakar hingga butuh proses identifikasi. 

Pekan lalu, sebanyak empat jenazah berhasil diidentifikasi. 

Total sudah sepuluh jenazah yang berhasil diidentifikasi. (Art)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.