Terungkap Motif Khairunisa Nekat Jadi Pramugari Gadungan Batik Air, Begini Pengakuannya
January 09, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Terungkap Khairunisa (23), perempuan yang nekat menyamar sebagai pramugari dan sempat ikut terbang dari Palembang menuju Jakarta. 

Dalam aksinya, KN mengenakan seragam menyerupai awak kabin Batik Air hingga membuat penumpang dan keluarganya percaya.

Penyamaran tersebut akhirnya diketahui setelah kru asli Batik Air mencurigai keberadaan Khairunisa

Kepada petugas, ia mengakui bukan bagian dari awak maskapai dan hanya berpura-pura menjadi pramugari.

"Saya menggunakan atribut pramugari dan seragamnya, sesungguhnya saya bukanlah pramugari Batik Air," katanya.

KN sengaja memakai seragam putih dan rok khas pramugari saat penerbangan menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Yono, menyebut tindakan itu dilakukan untuk mengelabui keluarga.

Selama ini, KN mengaku-ngaku ke keluarganya bekerja sebagai pramugari.

"Supaya keluarganya percaya," kata Kompol Yandri Yono

Menurut Yandri, Khairunisa sebelumnya pernah mendaftar sebagai pramugari, namun tidak lolos seleksi. 

Karena merasa malu mengakui kegagalan tersebut, ia memilih membeli atribut pramugari melalui toko daring, termasuk koper.

Sementara itu, pihak Batik Air menegaskan bahwa seragam dan perlengkapan yang digunakan KN bukan merupakan inventaris resmi maskapai dan tidak berkaitan dengan perusahaan.

Viral

Warga Muara Kuang, Sumatera Selatan, yang belakangan diketahui bernama lengkap Khairunisa itu viral setelah tertangkap basah menyamar sebagai pramugari Batik Air dengan mengenakan seragam lengkap, membawa koper awak kabin, serta menggunakan kartu identitas kru penerbangan.

Aksi Nisya terbilang rapi. Ia mengenakan kebaya putih dengan bawahan kain khas pramugari Batik Air, menata rambut sanggul ke atas, dan melengkapi penampilannya dengan ID card serta koper maskapai.

Dengan tiket asli layaknya penumpang lain, Nisya bahkan sempat terbang dari Palembang menuju Jakarta tanpa menimbulkan kecurigaan berarti.

Penyamarannya mulai terbongkar ketika kru pramugari yang bertugas di pesawat menaruh curiga.

Nisya kemudian diajak berbincang dan ditanya sejumlah hal mendasar terkait standar operasional, prosedur penerbangan, hingga latar belakang tugas kepramugarian.

Dari situ, kejanggalan demi kejanggalan muncul. Jawaban yang diberikan dinilai tidak sesuai dengan pengetahuan seorang pramugari aktif.

Kecurigaan kru semakin menguat saat memeriksa kartu identitas yang dikenakan Nisya.

ID card tersebut ternyata menggunakan desain lama yang sudah tidak dipakai sekitar 15 tahun terakhir.

Fakta ini menjadi bukti kuat bahwa Nisya bukanlah bagian dari awak kabin Batik Air maupun maskapai mana pun yang masih beroperasi.

Setelah didesak, Nisya akhirnya mengakui bahwa dirinya bukan pramugari.

Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, ia kemudian diserahkan kepada petugas pengamanan bandara atau Aviation Security (Avsec) untuk penanganan lebih lanjut sesuai prosedur keamanan penerbangan.

Kasus ini tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga keluarga Nisya sendiri.

Terungkap bahwa orang tua dan keluarga besarnya selama ini tidak mengetahui bahwa Nisya melakukan kebohongan dengan menyamar sebagai pramugari.

Di hadapan keluarga, Nisya disebut kerap berperan seolah-olah benar-benar bekerja sebagai awak kabin, sehingga menumbuhkan rasa bangga tanpa disadari bahwa itu dibangun di atas kepalsuan.

Belakangan, Nisya mengunggah sebuah video pengakuan dan permintaan maaf kepada publik.

Dalam video tersebut, ia mengakui kesalahannya dan menyampaikan penyesalan atas tindakan yang telah dilakukan.

Namun, video itu tidak serta-merta meredam reaksi warganet.

Banyak netizen mengecam keras aksinya dan menilai penyamaran tersebut bukan sekadar penipuan identitas, melainkan juga berpotensi membahayakan keselamatan penerbangan.

Sejumlah pihak menyoroti bahwa keberadaan orang yang menyamar sebagai awak kabin dapat menimbulkan risiko serius, terutama jika terjadi kondisi darurat di dalam pesawat.

Awak kabin memiliki peran krusial dalam penanganan keselamatan penumpang, sehingga penyalahgunaan atribut pramugari dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap aspek keamanan penerbangan.

Di sisi lain, sebagian warganet juga menyinggung kemungkinan adanya persoalan psikologis di balik tindakan Nisya.

Meski demikian, sorotan utama tetap tertuju pada aspek keamanan dan perlunya evaluasi ketat terhadap pengawasan identitas di lingkungan bandara dan maskapai.

Kasus pramugari gadungan ini menjadi pengingat bahwa simbol dan atribut profesi di sektor vital seperti penerbangan tidak hanya menyangkut citra, tetapi juga menyentuh langsung aspek keselamatan publik.

Aparat dan otoritas terkait diharapkan dapat menelusuri motif di balik aksi tersebut sekaligus memperkuat sistem pengamanan agar peristiwa serupa tidak terulang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.