TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Tak ada yang salah dengan humor komika Pandji Pragiwaksono, yang dianggap oleh sejumlah pihak kontroversi karena dinilai politis.
Sebagaimana diketahui, aksi panggung Pandji itu bertajuk Mens Rea di Jakarta.
Pandji mengkritik sejumlah pihak, tidak terkecuali Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Hal itu disampaikan peneliti bahasa dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rahmat Petuguran, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa humor memang selalu politis.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, linguis muda Unnes tersebut menjelaskan bahwa penggunaan humor sebagai alat politik dapat ditemukan di berbagai kebudayaan dan era kekuasaan.
“Humor bisa digunakan oleh penguasa untuk memperkuat dominasi dan hegemoni, tetapi juga bisa digunakan masyarakat tertindas untuk melakukan perlawanan. Bentuknya bisa beragam, dari satir, parodi, sampai anekdot,” katanya.
Sifat politis humor ditemukan Rahmat dalam berbagai era humor di Indonesia, dari humor tradisi seperti ketoprak, lenong, dan ludruk, hingga humor modern dan digital berbentuk komedi tunggal (stand up comedy) dan sketsa.
Baca juga: Adik Jadi Tersangka, Gus Yahya Akui Merasakan secara Emosional, tapi Terkait Hukum Tidak Ikut Campur
Menurutnya, humor bersifat politis karena diciptakan dari latar belakang sosial-budaya yang juga politis. Seperti produk bahasa atau produk sastra lain, humor berangkat dari kegelisahan dan intensi penciptanya. Kegelisahan tersebut diekspresikan secara kreatif dengan skrip yang mengandung ambiguitas, kontradiksi, dan kejutan.
“Humor biasanya ditulis dalam beberapa jenis skrip. Skrip tersebut dikembangkan dari asumsi, pengetahuan umum, dan kegelisahan bersama. Kalau tidak ada ketiga hal itu, humor tidak akan efektif karena nggak relate dengan penikmatnya,” katanya.
Bahkan ketika digunakan dalam komunikasi antarpribadi, lanjut Rahmat, humor tetap bersifat politis.
Misalnya, ada humor etnik yang cenderung mendeskreditkan etnik tertentu, ada humor seksis yang menjadikan Perempuan sebagai bahan lelucon, sampai humor politik yang menjadikan tokoh politik sebagai target.
“Humor tidak pernah hanya menjadi candaan. Justru ketika humor diklaim sebagai ‘sekadar candaan’, ‘hanya guyon’, atau ‘just kidding’, sifat politisnya justru makin tampak. Klaim itu sengaja dipakai supaya.
Sifat politis humor tidak hanya satu arah. Sebagai salah satu genre wacana, selama ini humor digunakan oleh pihak yang berkuasa dan pihak pengkritik kekuasaan.
Baca juga: Masih Dibuka, Syarat RT Kota Semarang Bisa Ajukan BOP Rp 25 Juta per Tahun
Pada tahun 2024, Rahmat pernah meneliti humor presiden dan menemukan bahwa presiden seperti Sukarno, Gus Dur, SBY, dan Jokowi sama-sama memberdayakan humor untuk mencapai tujuan komunikasinya. Dari penelitian itu ditemukan bahwa Jokowi adalah Presiden yang paling produktif menggunakan humor agresif.
Ia menilai wajar jika Pandji menggunakan humor sebagai bentuk kritik sosial. Selain punya keunggulan emosional, humor jadi alat kritik paling cerdas karena juga punya bobot estetik dan intelektual.
“Pilihan dan gaya humor merepresentasikan kecerdasan penggunanya. Di sisi lain, sikap dan respons penguasa terhadap humor akan membuktikan kecerdasan dan kedewasaan pemerintah sebagai target kritik,” katanya. (arl)