Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Jumat malam di Stadion Galuh Ciamis terasa berbeda dari biasanya, bukan sorak-sorai suporter sepak bola yang menggema, melainkan lantunan sholawat yang mengalun lembut membelah udara, Jumat (9/1/2025).
Meski acara dimulai sekira pukul 19.00 WIB, namun sejak matahari tenggelam, arus manusia dari berbagai penjuru Ciamis dan daerah sekitar terus mengalir menuju stadion.
Laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga para santri bersarung dan berpeci memenuhi setiap sudut tribun dan lapangan.
Sebagian datang berombongan dengan bus dan mobil, sebagian lainnya berjalan kaki menuju Stadion Galuh Ciamis.
Malam itu, lebih dari 15 ribu jemaah berkumpul dalam satu tujuan yakni melantunkan Solawat Kebangsaan bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.
Baca juga: Pemkab Ciamis Butuh Data Riil Investasi, DPMPTSP Minta Pengusaha Segera Laporkan LKPM
Lampu-lampu stadion menyinari hamparan manusia yang duduk rapat. Spanduk peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI terbentang di panggung utama.
Namun yang paling dominan bukanlah dekorasi, melainkan suasana batin yang hening, harap, dan penuh rindu kepada Rasulullah SAW.
Deretan tokoh penting tampak hadir di atas panggung berhadapan dengan jemaah di Stadion Galuh malam itu.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya, Wakil Menteri Agama RI Romo H.M. Syafi’i, Anggota DPR RI, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat Dudu Rohman, Wakil Walikota Tasikmalaya Diky Candranegara, jajaran Forkopimda Jawa Barat dan Ciamis, pimpinan ormas Islam, hingga para alim ulama duduk berdampingan, larut dalam suasana selawat.
Ketika Habib Syech mulai melantunkan selawat pertamanya, ribuan suara langsung menyambut.
Getaran doa terasa seperti ombak yang bergerak serempak. Ada yang mengangkat tangan, ada yang memejamkan mata, ada pula yang meneteskan air mata.
Bagi banyak jemaah, malam itu bukan sekadar menghadiri acara. Itu adalah ruang untuk berharap di tengah bencana alam, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika bangsa yang terasa berat.
Kepala Kemenag Ciamis, H. Asep Lukman Hakim, menyebut momen ini sebagai ikhtiar spiritual kolektif.
“Ini bukan hanya acara. Ini doa bersama agar Ciamis, Jawa Barat, dan Indonesia dijauhkan dari marabahaya,” ujarnya.
Ia menuturkan, antusiasme masyarakat benar-benar di luar dugaan. Stadion Galuh yang biasanya menjadi tempat pertandingan olahraga, malam itu penuh sesak oleh jemaah yang datang dengan satu niat takni berselawat.
“Lebih dari 15 ribu orang hadir. Ini bukti bahwa masyarakat haus akan kegiatan yang menyejukkan dan menyatukan,” katanya.
Di tengah kerumunan, terlihat para santri duduk bersila berdampingan dengan pegawai negeri, pedagang, hingga keluarga muda yang membawa anak-anak mereka.
Tidak ada sekat sosial. Semua larut dalam lantunan sholawat yang sama.
Di hadapan ribuan jemaah, Kepala Kanwil Kemenag Jabar, Dudu Rohman menyebut Salawat Kebangsaan ini sebagai puncak rasa syukur Kementerian Agama yang genap berusia 80 tahun.
Menurutnya, selawat bukan sekadar ritual, tetapi memiliki pesan spiritual dan sosial yang mendalam.
Ia menyebut setidaknya ada tiga tujuan besar dari kegiatan tersebut. Pertama, menumbuhkan mahabbah atau kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus memperkuat keimanan umat.
Kedua, menjadi media bermunajat, memohon perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi Jawa Barat dan Indonesia dari berbagai marabahaya.
Tujuan ketiga, selawat ini diharapkan menjadi penyejuk hati dan perekat persatuan, agar seluruh elemen umat dapat terus bersinergi demi terwujudnya Indonesia yang rukun, damai, dan maju.
Sementara itu, Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Ciamis, KH Nonop Hanafi, memaknai kegiatan ini sebagai pertemuan antara spiritualitas dan kebangsaan.
“Di saat bangsa ini diuji oleh berbagai bencana dan krisis, selawat menjadi cara kita mengakui keterbatasan manusia dan menggantungkan harapan kepada Allah,” tuturnya.
Menurutnya, kerukunan dan kedamaian adalah fondasi utama peradaban.
“Bangsa yang besar lahir dari hati yang tenang. Dzikir dan selawat inilah yang menumbuhkan ketenangan itu,” katanya.
Di atas panggung, Habib Syech beberapa kali mengajak jemaah untuk mendoakan Indonesia.
Suaranya yang khas berpadu dengan ribuan suara lain, menciptakan suasana yang syahdu dan menggugah.
Ketika malam semakin larut dan selawat terus bergema, Stadion Galuh seolah berubah menjadi lautan doa.
Di bawah langit Ciamis yang gelap dan sunyi, ribuan orang menitipkan harapan tentang keselamatan, kedamaian, dan masa depan Indonesia yang lebih baik.
Malam itu, Ciamis tidak hanya menjadi tuan rumah sebuah acara. Ia menjadi saksi pertemuan hati-hati yang berdoa untuk negeri.
Acara tersebut ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon, hingga dia penutup yanh dibacakan ileh Habib Syech dan Ketua MUI Ciamis.(*)