Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Dya Ayu
TRIBUNJATIM.COM, BATU - Pada libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Kota Batu, Jawa Timur, anjlok dibanding tahun sebelumnya.
Pada periode 13 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu tercatat hanya 674.195 orang, dari target kunjungan sebanyak 1,1 juta kunjungan.
Penurunan kunjungan wisatawan ini terlihat pada sektor Objek Daya Tarik Wisata yang hanya dikunjungi 565.436 orang, serta sektor akomodasi yang hanya mencatat 108.192 kunjungan.
Jumlah tersebut turun drastis dibanding tahun sebelumnya.
Saat Nataru 2024 di periode yang sama, jumlah wisatawan ke Kota Batu sebanyak 1.142.767 wisatawan.
“Data untuk total keseluruhan baru kami update di tanggal 10 ke atas. Saat ini data yang masuk sudah sekitar 90 persen lebih. Namun memang untuk kalkulasi harian menurun. Tahun sebelumnya rata-rata kunjungan mencapai 20 ribu orang per hari, tahun ini hanya berkisar 6 ribu wisatawan saja per hari,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Onny Ardianto, Jumat (9/1/2026).
Onny menjelaskan, ada beberapa penyebab menurunnya kunjungan wisatawan ke Kota Batu.
Satu di antaranya karena cuaca yang tak menentu di Kota Batu.
“Faktornya cuaca ekstrem dan hujan lebat yang terjadi tepat pada momen puncak liburan. Kondisi tersebut membuat wisatawan banyak yang menunda agenda mereka untuk berkunjung ke Kota Batu,” jelasnya.
Baca juga: Buntut Wisatawan Keluhkan Getok Harga di Telaga Sarangan Magetan, Disbudpar Panggil Pelaku Usaha
Menurunnya jumlah kunjungan wisatawan juga dibenarkan Marketing Manager and Public Relation Jatim Park Group, Titik S Ariyanto.
Ia mengatakan, penurunan pengunjung di Jatim Park Group pada libur Nataru 2026 lalu sekitar 20 persen.
“Terjadi penurunan cukup signifikan di sisi pengunjung, baik tempat wisata maupun hotel. Sekitar 20 persen di seluruh Jatim Park Group. Dipengaruhi beberapa hal, mulai dari tahun politik, pengaruh ekonomi secara global, inflasi, daya saing, pengaruh dari daya beli masyarakat yang menurun dan ada isu efisiensi yang membuat masyarakat menabung dananya dibanding untuk berwisata,” ujarnya.