TRIBUNTRENDS.COM - Rizki Abdul Rahman Wahid resmi melaporkan Pandji Pragiwaksono ke Polda Metro Jaya pada Rabu (7/1/2026).
Pria yang mengatasnamakan dirinya aktivis muda Nahdlatul Ulama (NU) itu memperkarakan sang komika buntut materi stand up di special show Mens Rea.
Sebagai informasi, Pandji Pragiwaksono merupakan komika, aktor, rapper, presenter, hingga sutradara.
Namun untuk saat ini, lulusan Institut Teknologi Bandung itu memilih fokus di dunia stand up. Ia bahkan memboyong istri dan anak-anaknya pindah ke New York demi mengembangkan karier sebagai komika.
Pada tahun 2025, Pandji menggelar stand up tour yang bertajuk Mens Rea.
Pria berusia 46 tahun itu pun mengunjungi 10 kota besar di Indonesia. Jakarta dipilih menjadi kota penutup rangkaian tur stand up Pandji.
Setelah tur selesai, Pandji mengejutkan penggemar lantaran Mens Rea resmi ditayangkan di Netflix mulai 27 Desember 2025.
Mens Rea ditayangkan tanpa disensor maupun dipotong sehingga publik bisa menontonnya secara utuh.
Hal tersebut menjadi awal dari kehebohan yang kini terjadi. Mengingat Pandji begitu vokal dan berani ketika membawakan materi stand up.
Organisasi hingga tokoh besar disebut Pandji dalam Mens Rea, termasuk soal Nahdlatul Ulama atau NU.
Hingga akhirnya Rizki Abdul Rahman Wahid yang mengaku sebagai aktivis muda NU lapor polisi.
Pandji dipolisikan karena dianggap melakukan fitnah hingga menimbulkan kegaduhan di media sosial.
Rizki tak terima NU disebut terlibat politik praktis dengan imbalan tambang.
"Saya kemarin sempat melaporkan saudara Pandji karena memang kami atau saya sebagai aktivis muda Nahdlatul Ulama merasa dirugikan dengan statement beliau yang menyampaikan bahwa NU terlibat dalam politik praktis kemudian mendapat imbalan dalam bentuk tambang," papar Rizki dikutip dari YouTube KOMPAS TV, Sabtu (10/1/2026).
Baca juga: Tak Cuma Dipolisikan Angkatan Muda NU, Pandji Disomasi Jubir Dharma Pongrekun, Diminta Klarifikasi
Rizki Abdul Rahman Wahid sempat diwawancarai dalam program KOMPAS Petang.
Ada pula Arie Kriting selaku rekan Pandji Pragiwaksono sekaligus sesama komika.
Debat panas sempat terjadi di antara keduanya.
Arie mempertanyakan apa sebenarnya keperluan Rizki melaporkan Pandji ke polisi.
"Apakah perlu untuk melakukan hal yang seperti ini mas? Karena dulu ketika Gus Dur mengatakan DPR kelakuannya kayak anak TK itu saya ketawa-ketawa aja," ungkap Arie.
"Kalau dulu mungkin enggak perlu, kalau sekarang kayaknya perlu soalnya media sosial sekarang satu device aja bisa mempengaruhi seribu orang," jawab Rizki.
"Perlu banget ya mas untuk memperkarakan karya seni?," cecar Arie.
Baca juga: Kondisi Pandji Pragiwaksono setelah Dipolisikan Buntut Mens Rea: Banyak Banget yang Doain Gue
"Saya tidak mempersoalkan di sananya, tapi tentu harus ada batasan-batasan ketika menyampaikan itu di ruang umum, tidak berlindung di balik kalimat 'menurut padangan saya'. Oke kalau itu masih dalam pikiran itu enggak jadi soal, tapi ketika itu sudah disampaikan di khalayak umum (maka dipersoalkan)," jelas Rizki.
"Pertanyaan saya perlu enggak sih sampai mengambil langkah hukum?," tanya Arie.
"Oh saya sudah melakukan itu berarti menurut saya sudah sangat perlu," jelas Rizki.
Rizki merasa perlu mengambil langkah hukum terhadap Pandji demi mengedukasi anak-anak muda.
Sementara menurut Arie, hukum bukanlah jalan satu-satunya untuk merespons gagasan orang lain.
"Keperluannya itu apa?," tanya Arie.
"Supaya ke depan anak-anak muda ini diberikan edukasi yang baik, tidak menjadikan apa yang disampaikan Pandji ini seolah-olah menggurui kita semua dan diaminkan gitu," urai Rizki.
"Menurut saya enggak perlu (polisi merespons laporan Rizki), ini cuma gagasan, ini cuma sebuah komedi, sebuah pertunjukan, enggak perlu sampai sejauh itu. Ini bisa menjadi buruk malahan, kita setiap ada karya seni, setiap ada kritik kepada pemerintah, arahnya selalu ditempuh ke jalur hukum.
Kalau buat saya tidak perlu sejauh itu, gagasannya ditolak, gagasannya tidak disepakati, gagasannya dilawan, it's fine, itu demokrasi, perangnya harus di ranah gagasan," papar Arie.
(TribunTrends.com/Febriana)