Dinkes Sulteng Ungkap Tiga Daerah dengan Kasus HIV Tertinggi
January 10, 2026 11:29 AM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli

TRIBUNPALU.COM, PALU – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mengungkap tiga daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi di wilayah tersebut. 

Ketiga daerah itu yakni Kota Palu, Kabupaten Banggai, dan Kabupaten Morowali.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani, mengatakan ketiga wilayah tersebut secara konsisten menjadi penyumbang terbesar kasus HIV/AIDS di Sulawesi Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

“Yang paling meningkat itu Kota Palu. Selain itu, memang ada tiga kabupaten/kota yang selalu tinggi, yaitu Kota Palu, Banggai, dan Morowali,” ujar dr Jumriani saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Jumat (9/1/2026).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, jumlah kasus HIV di Sulawesi Tengah terus mengalami peningkatan. 

Baca juga: Dinkes Sulteng Catat Lebih 700 Kasus HIV, Jumlah Kematian Justru Menurun

Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 696 kasus, kemudian meningkat menjadi 702 kasus pada tahun 2024. 

Sementara hingga periode Januari hingga Mei 2025, telah ditemukan 336 kasus HIV.

Selain HIV, kasus AIDS juga mengalami lonjakan. 

Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 97 kasus AIDS, meningkat tajam menjadi 235 kasus pada tahun 2024. Hingga Januari–Mei 2025, jumlah kasus AIDS tercatat sebanyak 111 kasus.

Dr Jumriani mengungkapkan, hingga awal Januari 2026, jumlah temuan kasus HIV dipastikan telah melampaui capaian tahun sebelumnya, meskipun proses pengumpulan data dari kabupaten dan kota masih berlangsung.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani ketika ditemui TribunPalu.com, Jumat (9/1/2026).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani ketika ditemui TribunPalu.com, Jumat (9/1/2026). (Tribunnews.com/Zulfadli)

“Sampai hari ini datanya memang belum terkumpul secara maksimal, tetapi jumlahnya sudah lebih dari 700. Artinya, penemuan kasus tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, berdasarkan dokumen data Dinkes Sulteng, kabupaten lain seperti Morowali Utara, Sigi, dan Parigi Moutong juga tercatat memiliki kasus HIV, namun jumlahnya masih berada di bawah tiga daerah tertinggi, yakni Kota Palu, Banggai, dan Morowali.

Baca juga: Ketentuan Baru SNPMB 2026, Wajib Ikuti Tes Kemampuan Akademik

Dalam dokumen tersebut, Morowali Utara, Sigi, dan Parigi Moutong masuk dalam kelompok daerah dengan kasus menengah, dengan tren temuan yang relatif stabil dan tidak setinggi daerah industri dan perkotaan. 

Meski demikian, Dinkes Sulteng tetap menempatkan wilayah-wilayah tersebut dalam pengawasan karena adanya potensi peningkatan kasus seiring mobilitas penduduk.

“Terkait deteksi kasus, kami rutin melakukan pemeriksaan, khususnya pada populasi-populasi kunci. Teman-teman di kabupaten dan kota terus melakukan pelacakan untuk menemukan kasus sedini mungkin,” kata dr Jumriani.

Meski jumlah kasus HIV dan AIDS meningkat, data Dinkes Sulteng menunjukkan angka kematian akibat HIV/AIDS justru mengalami penurunan. 

Pada tahun 2024 tercatat 73 kematian, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga periode Januari–Mei 2025, jumlah kematian dilaporkan sebanyak 28 kasus.

Menurut dr Jumriani, penurunan angka kematian tersebut menunjukkan adanya perbaikan akses layanan kesehatan serta pengobatan antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS di Sulawesi Tengah.

“Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan akses layanan kesehatan dan pengobatan ARV,” ungkapnya.

Baca juga: Amankan Aset Daerah, Gubernur Sulteng Terima Sertifikat Tanah dari Kanwil BPN

Ia menambahkan, pengendalian HIV/AIDS terus diperkuat melalui peningkatan deteksi dini, perluasan layanan tes HIV, pemeriksaan viral load, serta memastikan pengobatan tidak terputus. Selain itu, edukasi kepada kelompok berisiko juga terus dilakukan.

Dr Jumriani juga mengingatkan masyarakat agar tidak salah memahami penularan HIV.

“HIV itu penyakit menular yang sangat sulit menular. Penularannya melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, serta dari ibu yang HIV positif ke bayinya,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui perilaku berisiko masih menjadi tantangan. Berdasarkan pemantauan Dinkes Sulteng, kasus HIV paling banyak ditemukan pada kelompok pasangan sesama jenis, yang menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan edukasi.

“Kelompok ini terus kami pantau untuk melihat apakah ada penambahan kasus atau tidak,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.