Dinkes Sulteng Catat Lebih 700 Kasus HIV, Jumlah Kematian Justru Menurun
January 10, 2026 11:29 AM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli

TRIBUNPALU.COM, PALU – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah mencatat jumlah kasus HIV di wilayah tersebut terus meningkat dalam dua tahun terakhir dan kini telah melampaui 700 kasus. 

Meski demikian, angka kematian akibat HIV/AIDS justru menunjukkan tren penurunan.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, pada tahun 2023 jumlah kasus HIV tercatat sebanyak 696 kasus. 

Angka tersebut kembali meningkat pada tahun 2024 menjadi 702 kasus. 

Sementara hingga periode Januari hingga Mei 2025, telah ditemukan 336 kasus HIV di Sulawesi Tengah.

Lonjakan juga terjadi pada kasus AIDS. Pada tahun 2023 tercatat sebanyak 97 kasus AIDS, kemudian meningkat tajam menjadi 235 kasus pada tahun 2024. 

Hingga periode Januari–Mei 2025, jumlah kasus AIDS tercatat sebanyak 111 kasus.

Baca juga: Ketentuan Baru SNPMB 2026, Wajib Ikuti Tes Kemampuan Akademik

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani, mengatakan hingga awal Januari 2026, jumlah temuan kasus HIV dipastikan telah melampaui capaian tahun sebelumnya, meski proses pengumpulan data dari kabupaten dan kota masih berlangsung.

“Sampai hari ini datanya memang belum terkumpul secara maksimal, tetapi jumlahnya sudah lebih dari 700. Artinya, penemuan kasus tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun lalu tercatat 702 kasus,” ujar dr Jumriani saat ditemui di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng, Kelurahan Lolu Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Jumat (9/1/2026).

Ia menjelaskan, laporan dari kabupaten dan kota masih terus masuk hingga 9 Januari 2026. 

1001022967.jpg
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr Jumriani ketika ditemui TribunPalu.com, Jumat (9/1/2026). (TribunPalu.com/Zulfadli)

Namun berdasarkan laporan sementara, tren peningkatan kasus dipastikan berlanjut.

Untuk sebaran wilayah, berdasarkan data Dinkes Sulteng, Kota Palu menjadi daerah dengan jumlah kasus HIV tertinggi. 

Pada tahun 2023, Kota Palu mencatat 245 kasus HIV, kemudian meningkat menjadi 326 kasus pada tahun 2024, dan hingga Januari–Mei 2025 telah ditemukan 150 kasus.

Selain Kota Palu, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Morowali juga menjadi daerah penyumbang kasus HIV yang cukup tinggi. 

Kabupaten Banggai mencatat 65 kasus pada 2023, meningkat menjadi 79 kasus pada 2024, dan 39 kasus pada Januari–Mei 2025. 

Baca juga: Satgas PKA Sulteng Ingatkan Ketua PN Luwuk Tak Ambil Langkah Keliru soal Eksekusi Tanjungsari

Sementara Kabupaten Morowali mencatat 62 kasus pada 2023, meningkat menjadi 80 kasus pada 2024, dan 42 kasus pada Januari–Mei 2025.

“Yang paling meningkat itu Kota Palu. Selain itu, memang ada tiga kabupaten/kota yang selalu tinggi, yaitu Kota Palu, Banggai, dan Morowali,” kata dr Jumriani.

Meski kasus HIV dan AIDS meningkat, data Dinkes Sulteng menunjukkan angka kematian akibat HIV/AIDS justru mengalami penurunan. 

Pada tahun 2023, jumlah kematian akibat HIV/AIDS tercatat sebanyak 78 kasus. Angka tersebut menurun menjadi 73 kasus pada tahun 2024. 

Sementara hingga periode Januari–Mei 2025, jumlah kematian dilaporkan sebanyak 28 kasus.

Penurunan angka kematian tersebut, menurut dr Jumriani, menjadi indikator membaiknya akses layanan kesehatan serta pengobatan antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS di Sulawesi Tengah.

“Penurunan ini menunjukkan adanya perbaikan akses layanan kesehatan dan pengobatan ARV,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Dinkes Sulteng terus mendorong pengendalian HIV/AIDS melalui peningkatan deteksi dini, perluasan layanan tes HIV, serta memastikan pengobatan bagi penderita tidak terputus. Pemeriksaan viral load juga rutin dilakukan untuk mengetahui potensi penularan.

“Terkait deteksi kasus, kami rutin melakukan pemeriksaan, khususnya pada populasi-populasi kunci. Intinya adalah menemukan kasus dengan cepat dan segera mengobatinya,” jelasnya.

Dr Jumriani juga menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat bahwa HIV bukan penyakit yang mudah menular.

“HIV itu penyakit menular yang sangat sulit menular. Penularannya melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik, transfusi darah, serta dari ibu yang HIV positif ke bayinya,” terangnya.

Namun demikian, ia mengakui perilaku berisiko masih menjadi tantangan utama. 

Berdasarkan hasil pemantauan Dinkes Sulteng, kasus HIV paling banyak ditemukan pada kelompok pasangan sesama jenis, yang menjadi perhatian utama dalam upaya pencegahan dan edukasi.

“Kelompok itu terus kami pantau untuk melihat apakah ada penambahan kasus atau tidak,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.