Harga Minyak Mentah WTI Melejit 2,35 Persen, Investor Cemas Iran Bergejolak
kumparanBISNIS January 10, 2026 12:19 PM
Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada penutupan perdagangan Jumat (9/1), dipicu kekhawatiran pasar atas potensi gangguan pasokan dari Iran yang dilanda gelombang protes serta meningkatnya eskalasi serangan Rusia dalam perang di Ukraina.
Mengutip Reuters pada Sabtu (10/1), minyak Brent ditutup menguat 2,18 persen ke level USD 63,34 per barel, sementara WTI naik 2,35 persen menjadi USD 59,12 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan reli lebih dari 3 persen sehari sebelumnya, sekaligus membalikkan tren penurunan dua hari beruntun. Secara mingguan, Brent menguat sekitar 4 persen dan WTI naik sekitar 3 persen.
Ketegangan di Iran menjadi sorotan utama pasar. Protes yang semakin meluas memicu kekhawatiran akan terganggunya produksi minyak negara tersebut.
"Gejolak di Iran membuat pasar tetap waspada," ujar Analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Situasi di Iran kian memanas setelah laporan pemadaman internet nasional, di tengah demonstrasi yang terus berlangsung di Teheran, Mashhad, Isfahan, dan sejumlah wilayah lain.
Data terbaru juga menunjukkan pasokan dari OPEC cenderung menyusut. Organisasi tersebut memompa 28,40 juta barel per hari bulan lalu, turun 100.000 barel per hari dari bulan sebelumnya, dengan Iran dan Venezuela mencatat penurunan produksi paling besar.
Perbesar
Presiden AS Donald Trump berbicara dengan wartawan di atas pesawat Air Force One dalam perjalanan kembali ke Washington, DC, pada 4 Januari 2026. Foto: ANDREW CABALLERO-REYNOLDS / AFP
Di sisi lain, konflik Rusia-Ukraina turut memperkeruh sentimen. Militer Rusia mengeklaim telah menembakkan rudal hipersonik Oreshnik ke target di Ukraina, termasuk infrastruktur energi yang menopang industri militer negara itu.
Meski demikian, tak semua faktor mendukung reli harga. Persediaan minyak global masih menunjukkan tren naik, Haitong Futures menilai kelebihan pasokan tetap menjadi faktor pembatas kenaikan harga. Jika ketegangan di Iran tak meningkat lebih jauh, reli harga diperkirakan sulit bertahan lama.
Perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan Venezuela. Gedung Putih AS dijadwalkan menggelar pertemuan dengan perusahaan minyak dan rumah dagang untuk membahas skema penjualan minyak Venezuela.
Presiden AS Donald Trump menuntut akses penuh atas sektor minyak negara tersebut, menyusul penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro. Pemerintah AS bahkan menyatakan bakal mengendalikan penjualan dan pendapatan minyak Venezuela tanpa batas waktu.
Chevron, Vitol, Trafigura, dan sejumlah perusahaan lain dilaporkan bersaing memperebutkan kesepakatan pemerintah AS untuk memasarkan hingga 50 juta barel minyak yang menumpuk di persediaan PDVSA akibat embargo ketat.
"Pasar akan fokus pada hasil penjualan dan pengiriman minyak Venezuela yang tersimpan dalam beberapa hari mendatang," kata Tina Teng dari Moomoo ANZ.
Dari AS, sinyal penurunan aktivitas produksi juga muncul. Jumlah rig minyak dan gas turun menjadi 544 unit, terendah sejak pertengahan Desember.