Oleh: P. Giovanni Don Bosco, C.Ss.R
(Misionaris Redemptoris yang saat ini sedang berkarya di Jepang)
POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, Pasola ramai diperbincangkan di media sosial—Facebook, TikTok, Instagram—terutama di kalangan umat Kristen.
Pertanyaannya sederhana namun mendalam: bolehkah orang Kristen menghadiri Pasola, yang sarat ritual adat? Pendapat pun terbelah. Ada yang menilai kehadiran bertentangan dengan iman, ada pula yang percaya kehadiran tidak merusak iman selama Kristus tetap menjadi pusat.
Perbedaan ini menegaskan bahwa Pasola bukan sekadar adat, tetapi menyentuh identitas, iman, dan budaya—nilai-nilai yang hidup di nadi masyarakat Sumba.
Tulisan ini tidak ingin menuding atau menyalahkan siapa pun. Tulisan justru ingin mengajak kita melihat Pasola dengan kepala dingin dan hati terbuka: sebagai tradisi yang lahir dari relasi manusia dengan alam, tanah, dan leluhur, sekaligus sebagai ruang dialog antara budaya dan iman Katolik.
Dengan cara ini, Pasola menjadi jendela untuk memahami harmoni antara iman, budaya, dan kehidupan sehari-hari umat, tanpa jatuh pada pandangan hitam-putih.
Singkatnya, tulisan ini hendak menunjukkan bahwa Pasola bukan ancaman bagi iman, melainkan ruang dialog di mana inkulturasi iman, ekologi integral, dan martabat manusia saling bertemu.
Debu, Kuda, dan Makna Hidup
Debu mengepul di padang luas Sumba, berputar di bawah matahari pagi. Derap kuda menggetarkan tanah merah, sorak penonton pecah, dan lembing kayu berujung tumpul melayang di udara.
Inilah Pasola—tradisi adat yang setiap tahun digelar di (Wanukaka, Lamboya dan Gaura) dan Sumba Barat Daya (Kodi), Nusa Tenggara Timur, dan selalu menarik perhatian warga lokal maupun pendatang.
Bagi masyarakat Sumba, Pasola bukan sekadar tontonan atau atraksi pariwisata. Ia adalah ritus kehidupan. Tanah memberi makan, air menyuburkan, musim menentukan waktu tanam, dan leluhur diyakini menjaga keberlangsungan komunitas. Kehidupan dipahami sebagai jalinan relasi yang sakral—manusia bukan penguasa, melainkan bagian dari harmoni alam.
Pasola lahir bukan dari hasrat melukai, melainkan dari kerinduan menjaga keseimbangan hidup bersama. Hujan yang cukup, tanah yang subur, dan masa depan komunitas terselip dalam setiap lontaran lembing.
Kekerasan bukan tujuan, melainkan simbol tanggung jawab kolektif: pengingat bahwa manusia bergantung pada alam dan wajib menghormatinya.
Di dalamnya tersimpan pelajaran tentang solidaritas, tanggung jawab, dan harmoni—nilai-nilai yang menegaskan martabat manusia dan relasinya dengan sesama serta alam.
Akar Marapu dan Simbolisme Pasola
Pasola berakar pada kepercayaan Marapu, agama asli Sumba yang membentuk pandangan hidup masyarakat: manusia selalu terikat dengan alam, leluhur, dan Yang Mahatinggi.
Kata Pasola berasal dari sola atau hola, lembing kayu yang dilempar penunggang kuda. Etimologi ini menyingkap makna sosialnya: keberanian, keterampilan, dan partisipasi dalam komunitas.
Meski berisiko, Pasola bukan perang, melainkan permainan ketangkasan yang diikat aturan adat. Norma tradisi mengatur waktu, tata cara, dan tanggung jawab peserta, sehingga konflik dan ketegangan sosial tidak meledak menjadi permusuhan, tetapi disalurkan secara ritual.
Dengan demikian, Pasola menjadi ruang pelepasan emosi dan pemulihan sosial yang memperkuat ikatan sosial, solidaritas, dan rasa tanggung jawab bersama, serta menyalurkan energi kolektif yang meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai komunitas.
Nyale dan Ketaatan pada Alam
Pasola tidak digelar sembarangan. Sebelum debu mengepul dan kuda berpacu, masyarakat Sumba menanti nyale—cacing laut yang muncul di musim tertentu.
Nyale dibaca sebagai “surat alam”, penanda bahwa waktu kehidupan telah tiba. Jika nyale belum muncul, Pasola tidak dilaksanakan—bukan karena manusia kehilangan keberanian, melainkan karena alam belum memberi isyarat.
Tradisi ini mengajarkan ketaatan pada irama semesta. Bulan, angin, ombak, dan pasang surut dibaca sebagai bahasa alam yang menuntut kebijaksanaan.
Dalam perspektif iman, nyale juga menjadi simbol bagaimana manusia diajak membaca tanda-tanda Yang Mahatinggi dalam sejarah dan budaya.
Pesannya tetap relevan hari ini: keseimbangan bukan kemewahan, melainkan nadi kehidupan. Menjaga Pasola berarti merawat akar, menumbuhkan tanggung jawab, dan membangun komunitas yang tangguh menghadapi perubahan zaman.
Kesadaran akan alam sebagai penentu hidup inilah yang membuka jalan untuk membaca Pasola bukan hanya secara adat, tetapi juga secara teologis.
Pasola sebagai Bahasa Iman
Dari perspektif teologi Katolik, Pasola dapat dibaca sebagai bahasa simbolik iman. Masyarakat Sumba pra-Kristiani memiliki kesadaran religius: hormat pada Yang Mahatinggi, pengakuan akan keterbatasan manusia, dan keyakinan bahwa hidup bergantung pada berkat ilahi.
Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja “tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama lain” (Nostra Aetate, no. 2). Dalam tradisi, tersimpan benih-benih kebenaran dan kebaikan dari Allah.
Sejalan dengan seruan Paus Fransiskus bahwa rahmat Allah selalu menjumpai manusia dalam kebudayaannya (Evangelii Gaudium), Pasola dapat dipahami sebagai praeparatio evangelica, yakni persiapan kultural yang membuka hati manusia untuk menyambut Injil.
Dalam iman Kristiani, darah tidak lagi dipahami sebagai syarat kesuburan tanah. Kristus “dengan darah-Nya sendiri telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat kudus dan memperoleh keselamatan yang kekal” (Ibrani 9:12).
Salib Kristus menegaskan bahwa kehidupan dipulihkan bukan melalui kekerasan, melainkan melalui kasih yang total dan membebaskan.
Dalam terang ajaran Paus Fransiskus, Injil tidak hadir untuk menghapus akar budaya, tetapi untuk menjumpai, menerangi, dan memurnikan nilai-nilai luhur yang telah hidup di dalamnya, serta menegaskan keterhubungan manusia, alam, dan Allah dalam satu kesatuan hidup (Laudato Si’).
Kerinduan religius yang terungkap dalam Pasola memperlihatkan bahwa manusia Sumba sejak awal hidup dalam pencarian makna, keselamatan, dan harmoni dengan Yang Mahatinggi.
Kerinduan ini bukan sesuatu yang keliru atau harus disangkal, melainkan tanda bahwa hati manusia selalu terbuka bagi Allah.
Dalam terang iman Kristiani, kerinduan tersebut tidak berhenti pada simbol dan ritus, tetapi diarahkan menuju kepenuhannya dalam perjumpaan dengan Allah yang berinisiatif menyapa manusia.
Di sinilah Injil hadir bukan sebagai pemutus tradisi, bukan pula untuk menciptakan kerinduan baru, melainkan untuk menyapa dan menggenapi kerinduan yang telah lama hidup dalam kebudayaan.
Kerinduan yang Menemukan Kepenuhan
Orang Sumba mengenal Yang Mahatinggi sebagai Ina Mawolo Ama Marawi—“Ibu yang menenun, Bapa yang memintal”—merujuk pada Pencipta semesta.
Dalam iman Kristiani, kerinduan ini menemukan kepenuhannya dalam Allah yang menyatakan diri sebagai Bapa melalui Yesus Kristus. Pewartaan Injil bukan pertemuan dua dunia asing, tetapi perjumpaan antara kerinduan manusia dan jawaban Allah.
Pasola, dengan simbol dan keterbatasannya, mengingatkan bahwa hidup harus dijaga bersama. Tradisi ini bukan sekadar tontonan, melainkan cermin bagaimana manusia memahami hidup, alam, dan damai bersama.
Gereja hadir secara dialogis: mendampingi umat, menghormati, dan menerangi nilai budaya yang ada di dalamnya dengan terang Injil. Iman yang berakar dalam pengalaman nyata tumbuh lebih manusiawi dan membumi.
Bisikan dari Tanah Sumba
Di balik debu dan sorak Pasola terdengar bisik lembut: apakah kita masih menatap hidup dan alam sebagai anugerah, bukan sekadar tambang keuntungan?
Ketika tanah hanya diukur dengan nilai ekonomi dan darah leluhur menjadi tontonan, makna budaya menguap seperti embun pagi.
Ketika relasi dengan tanah rusak, yang pertama terluka bukan hanya alam, tetapi manusia kecil yang hidup darinya. Pasola mengajarkan: manusia bertahan hanya jika hidup menari selaras dengan alam, adat, dan sesama.
Pesan ini bergema nyata di NTT hari ini, ketika tekanan ekonomi, eksploitasi alam, dan perubahan iklim menguji daya tahan komunitas.
Keseimbangan bukan kemewahan, melainkan nadi kehidupan. Tantangannya jelas: apakah kita merawat tradisi sebagai sumber nilai yang menguatkan hidup bersama, atau membiarkannya menyusut menjadi ritual tahunan tanpa jiwa.
Di medan Pasola, saat lembing menembus udara dan kuda menari di tanah merah, manusia, alam, dan tradisi bertemu dalam satu tarikan napas.
Di sanalah keberanian, kerja sama, dan rasa hormat dipelajari—bukan lewat kata-kata, tetapi melalui pengalaman bersama.
Pasola bukan sekadar tontonan, tetapi peneguhan identitas kolektif —pengingat bahwa hidup yang lestari lahir dari harmoni kosmologis antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.
Menjaga Pasola berarti menanam akar, menumbuhkan tanggung jawab, dan membangun komunitas yang tangguh menghadapi arus zaman.
Penutup
Agama-agama Samawi—Yahudi, Kristen, dan Islam—tidak hadir di ruang hampa. Yesus lahir dalam budaya Yahudi, bukan untuk meniadakan tradisi, tetapi menggenapinya sebagai jendela menuju Allah (Matius 5:17-18).
Paulus pun memulai pewartaan dari apa yang dikenal orang Yunani (Kisah Para Rasul 17:23). Iman dan budaya bukan lawan, melainkan sarana: setiap tradisi menyimpan benih kerinduan manusia akan yang baik dan benar—dari Maringi Sumba hingga shalom Kekristenan.
Persoalannya bukan sekadar “boleh atau tidak,” tetapi seberapa luas kita membuka ruang dialog, menghormati akar, dan menilai tradisi dengan mata jernih. Iman yang matang menuntun budaya, sehingga kasih Allah menjawab kerinduan manusia dalam tiap napas hidup.
Pasola, dalam debu dan sorakannya, tetap berbisik: hidup yang lestari lahir dari harmoni antara manusia, alam, dan Yang Ilahi, di mana iman dan budaya bertemu sebagai satu nadi kehidupan.
Di sanalah iman menemukan wajahnya yang paling manusiawi: berakar pada tanah, berpijak pada budaya, dan terbuka pada Allah yang hidup. (*)