Oleh: Bansuhari Said
Camat Pattallassang, Takalar
Tentang Kepemimpinan yang Hadir, Bukan Sekadar Memimpin
TRIBUN-TIMUR.COM, OPINI - Selama tiga hari, 8-10 Januari 2026, kami pejabat pimpinan tinggi pratama dan para camat se-Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan mengikuti kegiatan team building di Desa Kalekomara, Kecamatan Polongbangkeng Timur.
Secara formal, tujuan kegiatan ini jelas, yakni memperkuat kekompakan, komunikasi, dan sinergi lintas wilayah.
Namun, pelajaran paling bermakna justru lahir dari hal-hal sederhana yang nyaris tidak dirancang sebagai agenda resmi.
Pelajaran itu datang dari sosok Bupati Takalar, Mohammad Firdaus Daeng Manye.
Tidur di Tenda yang Sama, Simbol Kepemimpinan yang Hadir
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika Bupati memilih tidur di tenda bersama kami.
Tidak ada jarak simbolik, tidak ada perlakuan khusus.
Keputusan ini mungkin tampak sepele, tetapi di sanalah maknanya bekerja.
Dalam literatur kepemimpinan modern, praktik ini dikenal sebagai servant leadership, gaya kepemimpinan yang menempatkan pemimpin sebagai bagian dari tim, bukan di atasnya.
Robert K. Greenleaf menekankan bahwa pemimpin sejati hadir, merasakan, dan mengalami langsung realitas yang dijalani anggotanya.
Daeng Manye tidak sekadar “mengawasi kegiatan”, tetapi menghidupinya bersama kami.
Tentu, sikap kritis tetap diperlukan. Kehadiran fisik saja tidak otomatis bermakna.
Banyak pemimpin dapat “turun ke lapangan” tanpa benar-benar membangun relasi.
Namun, yang membuat momen ini bernilai adalah konsistensinya: hadir bukan untuk pencitraan singkat, melainkan menyatu sepanjang kegiatan.
Satu Meja Makan, Satu Rasa Kebersamaan
Di meja makan, tidak ada sekat. Bupati makan bersama peserta di satu meja, bercanda, tertawa, dan berbagi cerita.
Tidak ada suasana formal yang kaku, apalagi bahasa tubuh atasan-bawahan.
Dari perspektif organisasi, ini mencerminkan egalitarian leadership, kepemimpinan yang meniadakan hierarki sosial dalam interaksi sehari-hari.
Berbagai riset menunjukkan bahwa lingkungan seperti ini meningkatkan psychological safety, rasa aman untuk berbicara, berpendapat, dan berinisiatif.
Aparatur yang merasa diperlakukan setara cenderung bekerja lebih jujur dan kolaboratif.
Sekali lagi, skeptisisme yang sehat tetap perlu.
Apakah kehangatan ini berlanjut hingga ruang kebijakan dan pengambilan keputusan? Jika iya, maka pola ini bukan sekadar momen emosional, melainkan fondasi budaya kerja yang kuat.
Api Unggun dan Lagu Kemasraan, Kepemimpinan Emosional
Di malam api unggun, Daeng Manye bernyanyi bersama kami, tertawa, dan menikmati kebersamaan tanpa jarak.
Di sinilah aspek emotional leadership tampak nyata.
Daniel Goleman menyebut kecerdasan emosional sebagai kunci kepemimpinan efektif, yakni kemampuan membangun empati, koneksi, dan rasa memiliki.
Yang menarik, kebersamaan itu terasa tulus, tidak dibuat-buat.
Ketulusan inilah yang sulit direkayasa dan justru menjadi sumber inspirasi.
Pelajaran bagi Kami
Sebagai camat dan pimpinan wilayah, pengalaman ini menggugah asumsi lama bahwa wibawa harus dijaga dengan jarak.
Justru sebaliknya, wibawa sejati lahir dari keteladanan, kesederhanaan, dan keberanian untuk setara.
Kepemimpinan yang kami saksikan bukan tentang perintah, melainkan tentang kehadiran.
Bukan tentang posisi, tetapi tentang hubungan.
Bukan tentang siapa yang paling tinggi, melainkan siapa yang paling mampu menyatukan.
Saya pribadi merasa bangga dan terinspirasi.
Bukan karena seremoni besar atau pidato panjang, melainkan karena praktik kepemimpinan yang nyata, manusiawi, dan membumi.
Jika pola ini terus konsisten tidak hanya di tenda dan api unggun, tetapi juga di ruang kebijakan maka Takalar tidak hanya dipimpin, melainkan dirawat sebagai sebuah keluarga besar.
Dan mungkin, di situlah inti kepemimpinan yang sesungguhnya. (*)