Laporan Wartawan TribunBanten.com, Misbahudin
TRIBUNBANTEN.COM, LEBAK - Warga yang masih tinggal di hunian sementara (Huntara) di Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, mengaku kecewa terhadap sikap pemerintah yang dinilai membeda-bedakan penanganan korban bencana alam tahun 2020, Minggu (11/1/2026).
Kekecewaan tersebut muncul setelah warga melihat progres pembangunan hunian tetap (Huntap) di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Lebakgedong.
Pantauan TribunBanten.com di lokasi menunjukkan kondisi akses jalan di wilayah perbatasan tampak sangat kontras.
Baca juga: Banjir Hari Ini di Pandelang, Puluhan Rumah Warga Idaman Patia Terendam Air
Jalan menuju Huntara Lebakgedong masih berupa tanah berwarna merah, sementara jalan di wilayah Bogor sudah beraspal mulus.
Kondisi jalan aspal di Bogor terlihat mencolok di depan mata warga Huntara di perbatasan, bahkan tepat berada di depan saung yang masih mereka tempati.
Warga Bogor kini tidak lagi tinggal di hunian darurat seperti warga Lebakgedong. Pasalnya, warga di wilayah yang dipimpin Kang Dedi Mulyadi (KDM) tersebut telah menempati Huntap permanen berbahan tembok.
Deretan rumah warga Bogor pun tampak rapi layaknya sebuah kompleks perumahan dengan desain yang seragam.
Salah seorang warga Lebakgedong, Cicih, menuturkan bahwa pemerintah terkesan membeda-bedakan dalam menangani korban bencana alam.
“Presidennya sama, negaranya juga sama, tapi yang lain sudah dibuatkan rumah,” katanya.
Menurut Cicih, warga Bogor yang sama-sama menjadi korban bencana alam pada tahun 2020 telah mendapatkan penanganan serius dari pemerintah.
“Rumah mereka sudah dibuatkan, jalannya juga sudah hotmix mulus. Kami masih tinggal di tenda, jalannya licin tanah merah,” ujarnya.
“Lebak mah ruhay, pokoknya mah ruhay,” sambungnya.
Cicih mengaku sudah bosan menunggu janji pemerintah. Ia mempertanyakan sampai kapan warga harus bertahan dalam kondisi tersebut.
“Sudah bosan kami begini terus, mau sampai kiamat kali kami tinggal di sini,” katanya.
“Tenda juga sudah berkali-kali diganti karena rusak,” pungkasnya.