TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Platform asisten rekrutmen berbasis kecerdasan buatan (AI), Mimo, meluncurkan buku AI for Hiring di Yogyakarta, Jumat (10/1/2026), sebagai upaya mendorong transformasi digital dalam proses rekrutmen yang dinilai masih tidak efisien.
Mimo menilai dunia rekrutmen menghadapi tantangan serius di tengah kemudahan teknologi digital.
Untuk satu posisi kerja, perusahaan rata-rata menerima sekitar 250 lamaran, dengan 75 hingga 88 persen di antaranya tidak memenuhi kualifikasi.
Kondisi ini membuat tim sumber daya manusia (HR) harus menghabiskan waktu hingga 23 jam hanya untuk menyortir resume dalam satu proses perekrutan.
Buku AI for Hiring: Solving the Inefficiency in Finding Human Potential in Modern Recruitment mengulas peran teknologi AI dalam menjawab persoalan tersebut.
Pembahasan difokuskan pada tiga pilar utama, yakni AI Resume Screening, AI Interview, dan AI Assessment, yang dirancang untuk mengubah proses manual menjadi pengambilan keputusan strategis yang lebih cepat dan akurat.
Penulis buku sekaligus peneliti di Mimo, Rafli Sodiq Bagaskara, menegaskan bahwa pemanfaatan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran manusia dalam proses rekrutmen.
“Kami percaya bahwa teknologi seharusnya tidak menggantikan peran manusia, melainkan memampukan mereka. Filosofi utama yang kami angkat dalam buku ini adalah ‘Let Humans be Humans, Let AI be the Robot’. Dengan menyerahkan tugas administratif dan repetitif kepada AI, praktisi HR dapat kembali fokus pada hal yang paling esensial: membangun hubungan antarmanusia dan menilai potensi kandidat secara objektif,” ujarnya.
Baca juga: Peringati Dies Natalis ke-17, Unriyo Kampanyekan Gaya Hidup Sehat Lewat Fun Walk & Run
Sodiq menambahkan, keputusan akhir perekrutan tetap harus berada di tangan manusia.
“AI bukan pengganti manusia dalam hiring, melainkan alat bantu. Rekomendasi boleh datang dari sistem, tetapi keputusan menerima atau tidak tetap harus diambil oleh manusia. Inilah esensi dari pendekatan human-centered AI yang dikembangkan dalam buku AI for Hiring, di mana teknologi dan intuisi manusia saling melengkapi untuk menghasilkan keputusan rekrutmen yang lebih adil dan berkualitas,” kata dia.
Penulis lainnya, Murtiono Widi, menyebut pemanfaatan AI dalam rekrutmen kerap dipersepsikan bertentangan dengan pendekatan humanis.
Padahal, riset menunjukkan recruiter dapat membaca 300 hingga 500 CV per hari sehingga berisiko mengalami kelelahan dan melewatkan kandidat potensial.
“AI justru harus mengembalikan HR ke peran sejatinya, dengan mengambil alih screening CV agar recruiter bisa fokus membangun relasi dan wawancara yang lebih manusiawi,” ujar Murtiono yang akrab disapa Imung.
Salah satu sorotan dalam buku ini adalah pergeseran metode seleksi dari pencocokan kata kunci menuju pemahaman konteks melalui teknologi Natural Language Processing (NLP).
Pendekatan ini dinilai mampu memastikan kandidat berpotensi tidak terlewat hanya karena perbedaan format penulisan CV.
Buku yang ditulis oleh Rafli Sodiq Bagaskara, Murtiono Widi, dan Andy Hidayat ini diharapkan menjadi panduan praktis bagi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi, akurasi, serta keadilan proses rekrutmen berbasis data. (*)