TRIBUNMAROS.COM, MAROS – Hujan disertai angin kencang menerjang Dusun Tekolabbua, Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Minggu (11/1/2026) pagi.
Akibat peristiwa tersebut, empat rumah warga rusak, satu di antaranya roboh hingga rata dengan tanah.
Angin kencang dilaporkan terjadi sekitar pukul 07.00 Wita dan datang secara tiba-tiba, langsung menghantam permukiman warga.
Dusun ini merupakan bagian dari wilayah pesisir dan perdesaan Maros Baru, dengan mata pencaharian warga umumnya di sektor pertanian, perikanan, dan usaha kecil.
Tekolabbua juga berada tidak jauh dari jalur penghubung antardesa di Kecamatan Maros Baru sehingga menjadi akses aktivitas warga sehari-hari.
Jaraknya sekitar delapan kilometer dari dari Kecamatan Turikale, Ibu Kota Maros. Berada di bagian barat Turikale.
Perjalanan ini biasanya dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau empat dalam kurang dari 30 menit.
Camat Maros Baru, Rudi, memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” ujar Rudi saat dikonfirmasi Minggu pagi.
Meski demikian, kerusakan material cukup signifikan dan menyebabkan warga terpaksa mengungsi.
Rudi mengatakan pihak kecamatan telah melaporkan kejadian tersebut ke tingkat kabupaten.
“Sudah kami laporkan agar sementara bisa mendapatkan bantuan logistik dari KSB, Dinsos, dan BPBD,” katanya.
Kepala Desa Borimasunggu, Syamsul Rijal, menyebut para korban kini mengungsi ke rumah keluarga terdekat.
“Warga sementara mengungsi ke rumah kerabatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, satu rumah mengalami kerusakan parah hingga rata dengan tanah, sementara tiga rumah lainnya rusak sebagian.
“Total ada empat rumah terdampak, satu di antaranya rusak berat,” jelasnya.
Syamsul memperkirakan kerugian akibat kejadian tersebut mencapai puluhan juta rupiah.
“Kerugiannya ditaksir puluhan juta rupiah,” imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat rumah roboh, pemilik rumah berada di dalam bersama anaknya.
“Pemilik rumah masih di dalam bersama anaknya saat kejadian, beruntung tidak ada korban,” ungkap Syamsul.
Saat ini, pemerintah desa bersama pihak terkait masih melakukan pendataan di lapangan.
“Kami turun langsung ke lokasi sambil melakukan pendataan dan melaporkan ke instansi terkait,” tutupnya.
Sebanyak 89 bencana alam terjadi di Kabupaten Maros sepanjang 2025.
Berdasarkan data BPBD, angin kencang menjadi bencana yang paling sering terjadi mencapai 59 kejadian.
Kemudian disusul banjir 17 kejadian, kekeringan 8 kali kejadian dan tanah longsor 5 kejadian
Sekretaris BPBD Maros, Nasrul mengatakan selain bencana alam, pihaknya juga melakukan operasi SAR dalam 10 kejadian dan mencatat kebakaran 10 kejadian.
"Dalam rentetan kejadian itu, terdapat 13 korban jiwa, 9 luka atau sakit dan 11 lainnya mengungsi," katanya, Minggu (11/1/2026).
Kemudian, ada sedikitnya 228.551 rumah yang terdampak akibat bencana ini.
Selain rumah warga, ada pula fasilitas umum yang rusak seperti empat sekolah, 2 jembatan, 2 kantor dan 1 rumah ibadah.
"Kemudian ada jalan yang ikut rusak sepanjang 400 meter," bebernya.
Untuk mengantisipasi bencana di kala cuaca buruk tahun ini, pihaknya telah memangkas pohon-pohon yang berada di tepi jalan poros.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, dan pohon tumbang.
Nasrul, mengatakan kegiatan pemangkasan dilakukan di sejumlah titik yang dinilai rawan.
Terutama di jalur utama, Poros Maros- Makassar, Maros-Pangkep dan Maros-Bone yang padat kendaraan.
“Kami sudah mulai memangkas pohon-pohon besar di pinggir jalan yang rawan tumbang. Ini dilakukan untuk mencegah risiko kecelakaan akibat pohon tumbang saat angin kencang,” katanya.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pemerintah desa, kelurahan, dan kecamatan untuk membentuk posko siaga bencana di wilayah rawan terdampak.
Ia mengatakan, posko tersebut akan menjadi pusat informasi dan tanggap darurat jika terjadi bencana selama musim penghujan.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah di tingkat bawah agar posko siaga bencana segera dibentuk. Ini penting sebagai langkah cepat jika terjadi banjir atau bencana lain,” jelasnya
Ia menambahkan, BPBD juga aktif menyebarkan imbauan kepada masyarakat melalui media sosial dan media massa agar tetap waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem.
“Cuaca pancaroba biasanya disertai angin kencang. Karena itu, kami minta masyarakat waspada dan segera melapor jika ada pohon besar yang berpotensi tumbang,” tambahnya.
Ia juga telah memetakan wilayah rawan banjir di Maros.
Misalnya, Kecamatan Maros Baru dan Kecamatan Lau, terutama di Kelurahan Mattirodeceng.
“Untuk Kecamatan Maros Baru, air dari hulu Sungai Lekopancing bisa berdampak ke desa-desa di wilayah tersebut. Karena itu masyarakat di daerah rendah diminta waspada sejak dini,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya juga sudah menyiagakan personel dan peralatan untuk menghadapi potensi bencana.
“Personel kami sudah siaga, termasuk alat-alat evakuasi pohon dan perahu karet. Kami ingin memastikan semua dalam kondisi siap ketika dibutuhkan,” katanya.
Mantan Kadis Kopumdag ini menjelaskan, BPBD juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Lingkungan Hidup untuk memastikan pemangkasan pohon tidak mengganggu arus lalu lintas.
“Koordinasi lintas dinas sangat penting agar kegiatan pemangkasan berjalan aman dan tertib,” ucapnya.
Towadeng menegaskan, pihaknya terus memantau kondisi cuaca dan menyiapkan langkah cepat jika terjadi bencana di lapangan.
“Kami berharap masyarakat tetap tenang tapi waspada. Jangan keluar rumah saat hujan deras dan angin kencang demi keselamatan bersama,” tutupnya. (*)