Hiu Greenland kini diperkirakan sebagai salah satu vertebrata yang berumur paling panjang di Bumi. Hewan yang memiliki nama ilmiah itu dapat hidup hingga 400 tahun di perairan Atlantik Utara dan Arktik yang dingin.
Ia berenang dengan sangat lambat dengan mata yang keruh. Sebelumnya, diperkirakan bila mata hiu tersebut hampir tidak berfungsi.
Hal ini disebabkan lantaran mereka tinggal di perairan gelap gulita dengan kedalaman hingga 3.000 meter. Selain itu, pada mata hiu Greenland juga ditemukan parasit krustasea kecil, tepatnya menempel di kornea matanya.
Namun, keadaan mata hiu tersebut dibantah dengan penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature Communications. Mata hewan itu bak memiliki rahasia antipenuaan yang bisa bermanfaat bagi kesehatan mata manusia.
Penelitian tersebut dilakukan pada kepada mata hiu Greenland yang telah mati. Secara umum, ditemukan bila mata itu bisa berfungsi penuh dengan baik, bahkan tidak memburuk setelah satu abad!
Keadaan tersebut dikelaskan oleh ahli biologi kelautan Australia asal University of Basel Swiss yang juga penulis utama studi tersebut, Lily Fogg. Ia menyatakan ada semacam mekanisme yang menjaga organ-organ di mata hiu ini sehingga memiliki kondisi sangat baik.
"Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan manusia. Jadi, jika kita bisa mempelajarinya dan mencari tahu mekanisme apa yang terlibat, hal itu bisa bermanfaat pada bidang biomedis," ujar Fogg dikutip dari laman ABC News.
Anatomi Mata Hiu Greenland
Dalam studi tersebut, para ilmuwan mengamati mata dari 10 hiu Greenland yang telah mati. Hewan-hewan ini diperkirakan berusia antara 100-134 tahun.
Mata hiu Greenland berdiameter sekitar 5-6 sentimeter dan dikelilingi oleh jaringan pelindung yang tebal. Jika dibandingkan dengan mata manusia, anatomi mata hiu Greenland sangat berbeda.
Mata manusia memiliki dua jenis sel untuk merasakan cahaya. Pertama, sel kerucut yang berfungsi untuk merasakan cahaya terang dan mendeteksi warna; serta kedua, sel batang yang bekerja lebih baik pada cahaya redup.
Fogg dan timnya menemukan, mata hiu Greenland hanya memiliki sel batang. Keadaan ini ternyata juga dimiliki oleh sebagian besar ikan laut dalam.
Penulis senior dari University of California, Amerika Serikat di studi tersebut, Dorota Skowronska-Krawczyk, mengatakan kondisi ini membuat hiu Greenland hanya melihat dalam warna hitam dan putih. Selain itu, penglihatan mereka tidak jernih, berbentuk, dan sulit membedakan gerakan cepat.
"(Sebagian hiu Greenland) tidak memiliki mata dengan resolusi tinggi, melihat terang dan gelap tapi tidak melihat bentuk (objek) dengan baik, atau mungkin tidak dapat membedakan gerakan yang cepat," papar Skowronska-Krawczyk.
Mata yang Dipertahankan dalam Evolusi
Hiu Greenland dapat tumbuh hingga sekitar 7 meter panjangnya. Mereka hidup di permukaan laut dengan kedalaman di bawah ribuan meter.
Melihat keadaan itu, Fogg menilai hewan ini mungkin tidak menggunakan penglihatan mereka dengan benar. Meski tidak jelas apa, ia yakin sistem visual masih digunakan untuk tujuan tertentu.
"Evolusi sangat efisien. Jika Anda tidak membutuhkan sesuatu, Anda biasanya akan menyingkirkannya," jelas Fogg.
Menanggapi studi ini, ahli neurobiologi di Macquarie University Australia yang tidak terlibat dalam penelitian, Laura Ryan menyebut penglihatan hiu Greenland masih akan berfungsi di kedalaman dangkal.
Mata hiu Greenland dinilai berfungsi dengan baik di malam hari, dan mungkin akan dibutakan oleh cahaya yang lebih terang. Untuk itu, mereka mampu melihat lebih jernih di kondisi cahaya yang redup.
Mata yang Berfungsi Meski Ditempeli Parasit
Sebelumnya disebutkan bila di mata hiu Greenland terdapat parasit krustasea kecil. Kehadiran parasit itu mungkin akan mengurangi kejernihan pengelihatan, tapi retina dan jalur visual serta kemampuannya tetap baik.
"Struktur mata terlihat indah. Maksud saya, pada dasarnya masih utuh," ucap Skowronska-Krawczyk.
Pemanfaatan Mata Hiu untuk Membantu Kesehatan Manusia
Para peneliti menduga bahwa serangkaian gen perbaikan DNA, ERCC1, dan ERCC4, mungkin berkaitan dengan mekanisme yang mendukunng kesehatan retina dalam jangka panjang. Terutama bagi mata yang mempunya sel batang.
Ryan menyebut studi tersebut mengungkap temuan yang menarik, lantaran ekspresi gen perbaikan DNA yang tinggi berfungsi dalam menjaga kesehatan retina selama berabad-abad. Ahli neurosains di The University of Melbourne Australia yang tidak terlibat dalam studi, Patricia Jusuf juga sampaikan hal serupa.
Menurutnya, penelitian ini membuka jalan baru yang menjanjikan untuk melawan degenerasi (penurunan fungsi) retina terkait usia pada manusia. Lebih lanjut, Jusuf menyatakan sel batang seringkali menjadi bagian pertama yang terdampak degenerasi di mata manusia.
"Kemampuan untuk memanipulasi jalur perbaikan DNA untuk memperlambat atau menghentikan degenerasi fotoreseptor batang pada manusia memberikan manfaat besar bagi lebih dari 200 juta orang yang terkena dampak kehilangan penglihatan akibat kondisi degeneratif ini," katanya.
Kendati demikian, studi ini perlu penelitian lebih lanjut. Langkah ini terutama penting untuk memahami mekanisme perbaikan DNA pada mata dapat mengarah pada terapi genetik atau molekuler bagi manusia.
"Alam menghadirkan solusi yang sangat ampuh dan unik, dan memanfaatkan solusi ini untuk menggunakan pendekatan yang terinspirasi dari alam demi kesehatan manusia merupakan peluang yang menarik," tandas Jusuf.







