Berapa Frekuensi Bercinta yang Cocok Bagi 'Pasutri Bahagia'? Ini Kata Ahli
GH News January 11, 2026 08:10 PM
Jakarta -

Perbandingan memang sering jadi 'pencuri kebahagiaan'. Namun, sebenarnya seberapa sering sih bercinta yang dilakukan pasangan bahagia menurut peneliti? Apakah semakin sering selalu berarti hubungan yang lebih baik?

Dr Carolina Castaños, psikolog klinis yang berspesialisasi dalam terapi pernikahan dan keluarga, ditanya soal 'angka ajaib' frekuensi keintiman dalam hubungan yang bahagia. Menurutnya, tidak ada angka pasti frekuensi bercinta bagi pasangan yang bahagia.

Menurutnya, setiap pasangan memiliki preferensinya masing-masing. Tiap orang memiliki kebutuhan berbeda dan frekuensi yang tinggi tidak selalu menjadi indikator hubungan yang sehat atau memuaskan.

"Kamu bisa berhubungan seks setiap hari tapi tetap merasa tidak terhubung dengan pasanganmu, atau hanya sekali seminggu namun terasa sangat bermakna. Seks atau keintiman yang baik adalah hasil dari hubungan yang dekat dan aman," ujar Carolina dikutip dari Unilad, Minggu (11/1/2026).

Ia berpendapat hubungan intim tidak seperti makan atau minum, yang memiliki porsi. Alasannya, seks hanya melengkapi koneksi antara pasangan suami istri, bukan menjadi satu-satunya pondasi hubungan.

Meski tidak harus dilakukan setiap hari, seks tetap menjadi bagian penting dalam banyak hubungan. Namun, karena sifatnya sangat personal, ketiadaan seks hampir sepenuhnya bisa menjadi tanda adanya masalah.

"Di sisi lain, jika kamu tidak berhubungan seks selama lebih dari satu bulan, itu bisa menjadi sinyal adanya sesuatu yang lebih dalam yang sedang terjadi dalam hubunganmu," kata Carolina.

Jangan Jadikan Seks Sebagai Pelarian

Terlalu sering bercinta juga bukan jaminan hubungan yang sehat. Jika kehidupan seks terasa menyenangkan, tapi hubungan secara keseluruhan bermasalah, itu juga tidak ideal.

"Bisa jadi kamu sedang mencoba mengisi kekosongan dalam diri melalui seks," tambah Carolina.

Ketika seseorang orgasme, tubuh melepaskan oksitosin, hormon yang menurunkan kortisol atau hormon stres. Efeknya menimbulkan rasa nyaman dan euforia, yang lama-kelamaan bisa membuat seseorang menginginkannya terus, hampir seperti zat adiktif.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.