Catatan dari Zona Merah: Liputan Dampak Banjir di Siau Kabupaten Sitaro
January 12, 2026 12:22 AM

Siau sejatinya adalah pulau yang indah.

Dari kejauhan, pegunungan dan perbukitan hijau bisa terlihat jelas.

Ironinya, keindahan Siau beririsan dengan potensi bencana yang kapan saja dapat mengancam pulau yang berada di Kabupaten Sitaro, Provinsi Sulawesi Utara ini. 

Siau beserta pulau-pulau dalam gugusan Kepulauan Sitaro dikepung oleh berbagai lempeng tektonik seperti Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia hingga Lempeng Filipina 

Selain lempeng besar, Sitaro, termasuk Siau di dalamnya berada di jalur tabrakan lempeng mikro yang sangat aktif seperti Lempeng Laut Maluku.

Praktis, secara geologis, wilayah ini merupakan salah satu kawasan tektonik paling kompleks di dunia. Rawan gempa dan berpotensi tsunami jika terjadi patahan tektonik.

Belum lagi Gunung Karangetan, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia.

Sekali-kali dapat mengancam jika memuntahkan laharnya. Sering, saat malam warga menyaksikan kedipan cahaya yang nampak dari puncaknya. 

Topografi Pulau yang berjarak sekitar 101 mil dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini didominasi perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan yang curam. 

Jika terjadi hujan, dengan intensitas yang tinggi dan lama, air yang mengalir dari atas perbukitan Siau bakal berubah menjadi bencana.

Aliran sungai di Siau memang ada, tapi semuanya kering. Air mulai terlihat di aliran sungai tersebut setelah turun hujan.

Hujan deras dan lama dapat mengalirkan air yang membawa serta lumpur beserta material berupa batu, kerikil dan pepohonan yang menuju pemukiman.

Liputan Dampak Banjir

Saya, Rizali Posumah Wartawan Tribun Manado datang ke pulau yang terkenal sebagai penghasil pala berkualitas tinggi ini pada Selasa 6 Januari 2026. 

Saya tiba sekitar pukul 03,00 Wita di Pelabuhan Ulu Siau dengan menumpang kapal komersil KM Marina Bay.

Berangkat dari Manado pada Senin (5/1/2026) sekitar pukul 19.00 Wita.

Cuaca saat itu sedang tidak bersahabat. Menempuh ganasnya ombak dan hujan badai selama kurang lebih tujuh jam. 

Mabuk laut? Sudah pasti, pasalnya saya tidak pernah sekali pun naik kapal besar, apalagi menempuh perjalanan laut selama berjam-jam. 

Kalau naik perahu motor yang biasa dipakai para wisatawan menyebrang dari Manado ke Bunakaken pernah. Tapi naik kapal dengan ukuran seperti KM Marina Bay sama sekali baru kali ini. 

Keberadaan saya di Siau bukan tanpa alasan. Saya ke sini karena ditugaskan meliput bencana banjir bandang yang pada Senin (5/1/2025) menyapu tujuh kelurahan di empat kecamatan pulau ini. 

Banjir disertai longsor menyebabkan kerusakan cukup parah. Banyak rumah yang hilang, juga hancur. Beberapa titik akses jalan hingga jembatan tertutup material banjir.

Ada 693 orang yang terpaksa mengungsi akibat musibah ini. Sementara 18 orang mengalami luka-luka, 17 meninggal dan dua orang hilang dan masih dicari oleh aparat gabungan termasuk TNI-Polri dan Basarnas. 

Sinyal di seluruh daerah terdampak mati total. Beberapa warga bahkan mengaku selama tiga hari mereka tidak bisa menggunakan akses telekomunikasi dan jaringan internet. 

Saya yang menginap persis di Jantung Kota Ulu Siau, yakni di Kelurahan Tarorane Kecamatan Siau Timur, menyadari bahwa aktivitas di pusat perekonomian Siau tidak terganggu sama sekali.

Toko dan warung-warung tetap buka. Aktivitas di pelabuhan pun sama, bongkar muat barang tetap berjalan seperti hari-hari biasa.

Sinyal dan internet tetap lumayan kencang, kecuali saat aliran listrik terputus atau sedang hujan badai. 

Sementara rumah kopi, rumah makan, hotel hingga penginapan tetap buka.

Kantor pemerintahan termasuk Kantor Camat Siau juga tetap beraktivitas. Hanya saja, Posko Bantuan dipusatkan di kantor ini, jadi kesibukannya agak berbeda.

Kesibukan juga terlihat di Museum Ulu Siau. Pasalnya di sinilah pusat pengungsian korban terdampak bencana. Di sini juga dibangun dapur umum untuk para korban. 

Sekolah, memang sebagian besar diliburkan. Namun, beberapa sudah mulai sibuk dengan aktivitas belajar mengajar, tiga hari pascabencana. 

Daerah terdampak bencana kebanyakan berada di wilayah yang cukup dekat dengan gunung dan bebukitan. 

Seperti di Bahu Sondang, yang berjarak sekitar 3 kilometer dari Ulu Siau. Banyak rumah warga di sini yang rusak dan hilang tersapu banjir. Korban terbanyak juga berada di desa ini. 

Di Paseng, Kecamatan Siau Barat, banjir turut memporakporandakan Mapolres Sitaro yang berada persis di area perbukitan. Jalan di depannya juga tertutup material banjir.

Terus menuju ke Kelurahan Bumbiha, ada jalan yang sama nasibnya. Akses menuju ke Peling (salah satu kelurahan yang terdampak parah bencana banjir juga) itu sempat terputus. 

Pada Kamis (7/1/2026), seluruh akses jalan yang sebelumnya tertutup material longsor sudah berhasil dibuka dengan bantuan alat berat yakni Jembatan Bumbiha, Jalang Laghaeng, Jalan Bahu Sondang, Jalan Peling, dan jalan depan Mapolres Sitaro. 

Aparat lintas instansi, termasuk TNI-Polri dan Basarnas terlibat dalam proses pembersihan sisa material serta evakuasi para korban terdampak. 

Pembersihan dilakukan bukan hanya di jalanan, tapi juga di semua rumah-rumah warga. 

Lantas bagaimana dengan nasib para pengungsi? Lokasi pengungsian yang tercetat ada di lima lokasi: 

  1. Museum Ulu Siau Kelurahan Tatorane, Kecamatan Siau Timur
  2. Gereja Advent Bahu Kecamatan Siau Timur
  3. Gereja GKAI Peling Kecamatan Siau Timur
  4. Gereja Bethabara Paseng Kecamatan Siau Barat
  5. Gereja Bethel GMIST Peling. 

Beberapa korban dilaporkan mengungsi di rumah-rumah warga lainnya. 

Umumnya, para pengungsi, terutama yang rumah mereka hilang dan hancur serta rusak berat tersapu banjir ingin direlokasi.

Mereka trauma, dan tidak mau lagi tinggal di tempat yang terdampak bencana. 

Bantuan logistik di luar Pulau Siau, sehari setelah bencana sudah mulai berdatangan. 

Yang pertama tiba adalah bantuan dari Pemprov Sulut yang dibawa menggunakan kapal komersil KM Glory Mary. Tiba pada Selasa (6/1/2026) subuh. Selanjutnya bantuan terus berdatangan hingga saya terakhir berada di pulau ini, yakni Jumat 9 Januari 2025. 

Saya balik ke Manado pada Jumat sore dengan menumpang kapal yang sama saat saya berangkat ke sini, KM Marina Bay.

Sebelum kapal bertolak dari pelabuhan, saya memandang Siau dari kejauhan dengan perasaan yang bercampur aduk, ada sedih sekaligus juga takjub. Tanah yang rapuh namun megah.

Sekitar pukul 17.00 Wita, deru mesin kapal berbunyi. Kali ini perjalanan memakan waktu cukup lama, 12 jam. 

Kapal berangkat dengan kecepatan relatif lambat dan sempat singgah dua kali. Di Pulau Tagulandang dan Pulau Biaro. Tiba di Manado pada Sabtu (10/1/2026) sekitar pukul 04.00 subuh.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.