BANJARMASINPOST CO.ID, BANJARBARU - Atmosfer kompetisi mulai terasa di kalangan atlet bola voli junior Banjarbaru.
Kegiatan final latihan bersama (latber) yang diinisiasi Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kota Banjarbaru resmi berakhir di Lapangan KS Tubun, Minggu (11/1/2026).
Latber diikuti tujuh klub kategori U-15 Putri dan ditutup dengan laga final yang berlangsung sengit.
Pada partai puncak, Juragan Travel (JT) harus berhadapan dengan SBV Idaman dalam pertandingan lima set yang menguras energi dan mental pemain muda.
Kedua tim saling kejar poin sejak set awal. Namun hingga laga harus ditentukan di set kelima, SBV Idaman akhirnya keluar sebagai juara setelah menang tipis 3-2 atas JT.
Kepala Pelatih SBV Idaman, Andi Ruswandi, mengapresiasi jalannya pertandingan yang dinilainya berlangsung kompetitif dan berkualitas.
“Pertandingannya sangat seru, kedua tim sama-sama bermain bagus. Tinggal mental pemain saja yang terus kita tingkatkan agar lebih siap lagi ke depannya,” ujarnya usai laga.
Andi mengungkapkan, perubahan strategi di set penentuan menjadi kunci kemenangan timnya.
“Kami sempat imbang 2-2, lalu kami ubah strategi dengan memperkuat pertahanan supaya serangan bisa lebih maksimal,” jelasnya.
Dia menilai program latihan bersama yang digagas PBVSI Banjarbaru hal positif untuk pembinaan atlet usia dini.
“Kegiatan ini sangat bagus. Ini ide yang luar biasa dari Ketua PBVSI Banjarbaru. Harapannya ke depan latber seperti ini bisa rutin dilakukan, bahkan tiap klub bisa mengadakan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelatih Juragan Travel, Jihandoyo, mengakui keunggulan SBV Idaman yang dinilainya lebih matang secara kolektivitas tim.
“Kami harus sportif mengakui keunggulan SBV Idaman. Secara kolektif mereka lebih siap dan lebih matang,” ujarnya.
Meski demikian, Jihandoyo menilai secara individu, terutama dalam aspek menyerang, timnya tidak kalah bersaing.
Namun faktor usia dan mental bertanding menjadi tantangan tersendiri.
“Anak-anak ini masih usia labil, ada yang 10, 11 sampai 15 tahun. Atmosfer pertandingan dengan penonton membuat mereka nervous, takut salah, yang akhirnya malah jadi salah,” jelasnya.
Menurutnya, laga final ini menjadi pengalaman berharga bagi para pemain JT, terutama dalam membangun mental dan kerja sama tim.
“Secara fisik dan teknik sebenarnya sudah masuk teknik lanjutan. Tapi pemahaman teamwork masih harus terus dibangun. Mereka masih sering berharap temannya yang mengambil bola,” ungkapnya.
Dia berharap kekalahan ini bisa menjadi cambuk bagi para pemain untuk tampil lebih baik di kompetisi selanjutnya.
“Mudah-mudahan dari setiap kekalahan anak-anak bisa belajar. Insya Allah nanti kami buktikan di Liga Remaja,” katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Andra Ramadhan)