Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menargetkan penyerapan beras di semester pertama 2026 bisa mencapai 3 juta ton guna menjaga stabilitas harga, serapan petani, dan keberlanjutan swasembada pangan nasional.
Rizal mengatakan secara keseluruhan pemerintah menargetkan penyerapan gabah petani setara beras sepanjang 2026 ditargetkan 4 juta ton untuk penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dengan 3 juta ton diupayakan terserap pada semester pertama.
"Tadi sudah saya sampaikan di semester 1 target (penyerapan beras) kami 3 juta ton. Nah sisanya (nanti) di semester 2, kan kita ditarget 4 juta ton, jadi semester 2 nya tinggal 1 juta nanti," kata Rizal di Jakarta, Minggu.
Rizal bahkan optimistis realisasi penyerapan itu dapat dilakukan karena didukung pengalaman historis panen, kesiapan operasional, serta koordinasi lintas pemangku kepentingan hingga pemerintah daerah dan petani.
Ia menjelaskan puncak panen umumnya terjadi pada semester pertama, sementara semester kedua cenderung menurun 30 hingga 40 persen akibat faktor cuaca, terutama curah hujan tinggi musiman yang berulang secara tahunan. Karena itu, strategi penyerapan difokuskan sejak awal tahun.
"Di semester 2 itu agak turun biasanya. Biasanya turun sekitar 30-40 persen dari semester 1. Itu memang biasa, seperti tradisi alam karena memang di akhir-akhir semester 2 itu kan banyak hujan. Nah kalau hujan memang tidak bisa panen dengan baik," ucap Rizal.
Bulog juga menegaskan kesiapan menyerap gabah dan beras petani dengan berbagai kualitas, sepanjang memenuhi usia panen, guna memastikan mutu hasil tetap terjaga dan tidak merugikan petani maupun konsumen. Adapun gabah dibeli Rp6.500 per kilogram.
Ia mengingatkan panen gabah yang belum cukup umur berisiko menghasilkan beras mudah pecah, menurunkan kualitas, dan berdampak pada nilai jual, sehingga disiplin panen sangat penting bagi petani.
"Yang sudah matang kalau istilah buah. Jangan buahnya belum matang sudah dipanen. Nanti hasilnya tidak manis," tegasnya.
Untuk itu, Bulog berharap dukungan penyuluh pertanian lapangan (PPL), Babinsa, dan Bhabinkamtibmas mendampingi petani agar memanen gabah sesuai usia panen demi menjaga kualitas dan serapan demi keberlanjutan swasembada pangan komoditas itu.
Rizal juga mengaku optimistis apa yang ditargetkan dapat tercapai didukung riset, pengalaman historis, dan kesiapan lapangan, selama musim panen berjalan lancar tanpa gangguan cuaca ekstrem.
"Sepanjang panen itu berjalan dengan lancar, tidak ada gangguan cuaca dan lain sebagainya. Kalau kita takutnya ada gangguan cuaca dan lain sebagainya, itu yang kita khawatirkan," kata Rizal.
Adapun stok CBP pada awal tahun ini mencapai 3,2 juta ton lebih. Stok tersebut merupakan beras peralihan dari tahun 2025 ke 2026 yang saat ini tersimpan dengan aman di gudang-gudang BUMN pangan tersebut.







