Tribunjogja.com -- Nama Raphael Dias Belloli alias Raphinha bergema di seluruh panggung final Spanish Super Cup 2026.
Dalam duel panas penuh drama antara Barcelona dan Real Madrid, winger asal Brasil itu tampil bak maestro, menggoreskan tinta emas dalam sejarah Blaugrana.
Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi, saling serang, dan penuh adrenalin.
Namun di tengah hiruk-pikuk El Clásico, Raphinha berdiri sebagai pembeda. Dengan nomor punggung 11, ia mengantarkan Barcelona meraih trofi Supercopa ke-16—rekor sepanjang masa—dan untuk kali kedua secara beruntun.
Raphinha membuka pesta gol dengan ciri khasnya: cut inside ke kaki kiri lalu melepaskan tembakan akurat yang menembus jala Thibaut Courtois.
Gol itu bukan sekadar pembuka skor, melainkan pernyataan tegas bahwa sang winger siap menjadi protagonis laga.
Gol Penentu di Menit 73
Ketika laga masih terbuka lebar, Raphinha kembali hadir sebagai penentu. Pada menit ke-73, ia melepaskan tembakan yang berbelok arah, mengecoh pertahanan Madrid, dan memastikan skor akhir 3-2 untuk Barcelona.
Gol itu menjadi klimaks dari penampilan penuh determinasi, intensitas, dan kualitas kelas dunia.
Konsistensi Sejak Semifinal
Performa Raphinha bukan hanya di final. Sejak semifinal melawan Athletic Club, ia sudah menunjukkan tajinya dengan dua gol, termasuk satu tembakan spektakuler yang menghujam ke pojok atas gawang Unai Simón.
Total empat gol di turnamen ini menambah koleksinya menjadi enam gol di ajang Supercopa, menempatkannya sejajar dengan legenda seperti Hristo Stoichkov, Txiki Begiristain, dan rekan setimnya Robert Lewandowski.
• Rating Pemain Barcelona 3 vs 2 Real Madrid: Raphinha Jadi Penentu
Humble Sang Pahlawan
Meski dinobatkan sebagai Man of the Match, Raphinha tetap rendah hati.
“Saya hanya berusaha membantu tim dan memberikan yang terbaik. Terima kasih atas penghargaan ini, tapi banyak rekan setim yang juga layak. Yang terpenting adalah saya bisa berkontribusi untuk tim,” ujarnya usai laga.
Dengan performa konsisten, gol-gol krusial, dan mentalitas juara, Raphinha kini semakin kokoh sebagai salah satu idola modern Barcelona.
Dari Saudi Arabia, ia pulang bukan hanya dengan trofi, tetapi juga status sebagai pahlawan El Clásico yang mengukir sejarah.
Singkatnya, final Supercopa 2026 akan selalu dikenang sebagai panggung di mana Raphinha menari dengan bola, mencetak gol, dan mengangkat Barcelona ke singgasana juara.
Rating Pemain
Joan García (7.8/10) → Tenang di bawah tekanan, melakukan beberapa penyelamatan penting, meski kebobolan dua gol cepat di akhir babak pertama.
Jules Koundé (7.2/10) → Solid di sisi kanan, aktif overlap, namun kesulitan menghadapi kecepatan Vinícius.
Pau Cubarsí (6.8/10) → Menunjukkan kematangan dalam distribusi bola, tetapi beberapa kali terjebak high line saat Madrid mencetak gol.
Alejandro Balde (7.5/10) → Memberikan lebar serangan dan overlap berbahaya, meski sempat kewalahan menghadapi serangan balik cepat.
Pedri (8.5/10) → Maestro lini tengah, mengatur tempo dengan visi dan passing akurat.
Eric García (8/10) → Kuat di duel udara dan distribusi bola, namun sempat kesulitan menghadapi serangan langsung Madrid.
Lamine Yamal (8.5/10) → Ancaman konstan dengan dribel dan pergerakan cerdas, menunjukkan kualitas besar di usia muda.
Fermín López (7.5/10) → Energi tinggi, pressing agresif, dan pergerakan tanpa bola yang efektif, meski kurang klinis di depan gawang.
Raphinha (9.2/10) → Man of the Match, mencetak dua gol, menjadi motor serangan, dan menekan pertahanan Madrid tanpa henti.
Robert Lewandowski (8.7/10) → Finishing klinis untuk gol kedua, kuat dalam duel fisik, dan efektif sebagai target man. (iwe)