Kisah Jukung
January 12, 2026 08:03 AM

Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.

Editor in Chief 
Bangka Pos/Pos Belitung

PERNAHKAH kamu menulis tentang menyusuri laut bersama jukung? Jawaban tentu beragam. Ada yang langsung bertanya apa itu jukung, ada pula yang malu-malu menegakkan tangan seraya melafalkan satu kata, pernah. Dan jawaban pernah, uniknya juga menyisakan kisah unik. 

Peristiwa ini terjadi pada 2013 lalu. Saat itu, seorang reporter baru saja pulang peliputan ekspedisi pelayaran kapal layar tradisional Jukung Bali.

Perjalanan kapal Jukung memakan sekira dua bulan. Harap maklum, si Jukung berikut nakhoda yang hanya seorang diri menyusuri perjalanan dari Bali, menyusuri pantai utara Pulau Jawa, Kepulauan Seribu Jakarta, beberapa Pantai Bangka Belitung dan kemudian beralih ke Kalimantan Barat. Lalu berakhir di negara tetangga, Brunei Darussalam.

Untuk diketahui, perahu Jukung adalah perahu dari kayu Johar sepanjang 7,7 meter, lebar perahu 55 sentimeter. Tiap sisi dipasangi cadik atau pelampung penyangga yang berjarak sekitar 2 meter dari sisi kiri dan sisi kanan perahu.

Perahu menggunakan layar tunggal berbahan parasut. Layar itu membantu perahu untuk mengarungi lautan. Namun demikian, ketika tiada angin yang berhembus, perahu menyiagakan mesin motor tempel berkekuatan 15 PK di bagian belakang.

Singkat cerita, reporter tidak mengikuti ekspedisi Jukung hingga Brunei. Kemanusiaan jadi alasan kawan-kawan redaksi saat itu untuk segera memulangkan reporter ke Jakarta. Dalam obrolan yang penuh tawa, ada rasa tak tega hati juga saat mendengar laporan harian reporter yang hanya berdua di Jukung.

Setiba di Jakarta, reporter langsung menemui Kepala biro. Ia menumpahkan cerita dan ulasan perjalanan di Jukung. Saya yang ikut dalam persamuhan mendadak itu terpingkal-pingkal mendengar peliputan sang reporter. 

Usai pertemuan singkat, reporter diminta untuk membuat tulisan. Di sini persoalan mulai muncul. Reporter ternyata hanya jago bercerita. Saat menuangkan dalam rangkaian kata-kata, kata yang muncul justru tersendat-sendat. Dengan alasan jetleg lantaran berhari-hari di jukung, sang reporter meminta waktu dan membawa tugas penulisan ke rumah. 

Lagi-lagi perikemanusiaan yang bicara. Alasan itu diterima, dengan syarat tulisan sudah diterima sekira pukul 12 siang pada esok hari. Ia pun pulang dengan senyum saat izin berkumandang.

Esoknya, janji tinggal janji. Tulisan soal ekspedisi jukung baru masuk email bersama sekira pukul 16.00 WIB. Lagi-lagi, tak mau ambil pusing ketika janji yang dibuat terabaikan. Toh, tulisan juga sudah masuk.

Dan, brakk. Emosi meledak. Sepuluh jemari tangan kompak memukul meja. Tulisan yang diharap penuh deskripsi, menarik dan penuh cerita itu bak laporan riset 13 tahun. Mirip laporan makalah berjilid-jilid.

Untungnya, ada foto-foto yang dikirim. Ada beragam video yang ikut disertakan dalam laporan. Berbekal itu ulasan didaur ulang. Cerita kembali ditata ulang. Bukan lagi dari laporan, tapi foto, video dan juga cerita langsung dari lapangan.

Foto dan video menjadi jejak fenomenologis. Bukan lagi sekedar ilustrasi, melainkan jembatan representasi pengalaman reporter pada peristiwa. Realitas tidak lagi dilaporkan, tetapi dimunculkan lagi. Laporan menjadi dialog fakta lapangan, medium visual dan terkadang kesadaran penulis.

Kabar lainnya. Peristiwa itu kemudian membuat manajemen mengulang pelatihan. Sejumlah wartawan diberi penyegaran soal tulisan. Tulisan yang praktis, tidak ruwet dan belajar untuk terbiasa berpikir dengan skala besar di kepala. Skala Niagara, jeram raksasa atau yang sekarang ini jadi perdebatan ketika Trump kepincut mengambil Greenland.

Kenapa itu dilakukan? 
Kesederhanaan dan kejernihan berpikir menjadi prinsip klasik, dan bisa jadi syarat komunikasi rasional.

Tulisan praktis dan tidak ruwet, bukan berarti dangkal. Tulisan itu justru berarti soal berpikir teratur, bernalar dan menyusun makna secara efesien saat melihat peristiwa sebagai bagian dari arus besar. Kita diajarkan menghubungkan fakta-fakta partikular ke dalam gambaran menyeluruh, dan tidak terjebak dalam detail teknis semata. 

Hal lain yang kemudian menjadi pijakan. Jurnalisme tidak sekedar menyampaikan informasi. Bisa juga menjadi suatu upaya memahami dan menjelaskan kenyataan dalam lanskap kompleks yang terus bergerak, meski terkadang menuntut imajinasi dalam membaca peristiwa. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.